
..."Kurang hati-hati mungkin akan mendatangkan kerugian"...
Pukul empat sore, Pak Agung bertamu ke rumah Pak Wahyu. Sambil mengobrol matanya kerap curi-curi---lewat kaca pembatas beranda dan ruang tamu---melirik Ningsih yang sedang melatih anak-anak di beranda.
Hatinya ikut senang karena gadis itu tetap bersemangat, tetapi juga terbersit rasa sedih, prihatin, karena sanggar tempat latihan menari kebanggaannya telah dibongkar.
"Jadi, ini maunya gimana, Pak Agung?"
"Huh? Apanya, Pak?"
Pak Agung tersentak dan saat itu juga wajahnya memerah karena tertangkap basah telah memperhatikan Ningsih diam-diam.
"Ini uangnya mau diapakan? Gitu, lo."
Tiga hari telah berlalu, tetapi Pak Yudi dan Pak Candra belum juga muncul, padahal keluarga dari kota sudah datang dan besok pagi mereka semua akan berangkat ke Surabaya.
"Begini, Pak Wahyu. Tadinya saya ingin mengembalikan uang ini pada dua orang penyewa lahan itu. Meminta mereka untuk membatalkan niatnya, tapi mereka tidak datang juga, Pak."
Pak Agung tidak ingin pergi dari desa dengan menanggung beban. Tidak bertemu mereka langsung, tidak berarti dia harus membatalkan niatnya.
"Lalu?"
"Saya pikir, apa yang sudah terlanjur terjadi tidak mungkin dibatalkan. Jadi, uang hasil penyewaan ini saya serahkan pada desa, titip lewat Pak Wahyu. Karena sudah seharusnya uang ini menjadi milik desa, Pak. Dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas nama Dek Sri."
Untuk sejumlah uang yang sekarang ada dalam amplop cokelat di atas meja itu, Pak Agung menguras hampir separuh dari tabungannya. Untuk saat ini, dia tidak mau mengutak-atik uang yang ada di tabungan istrinya.
"Dan ini,"---dari tasnya, Pak Agung mengeluarkan selembar kertas kehijauan dibungkus plastik mika lalu meletakkan di meja---"surat tanah bapak. Saya berniat memberikan rumah bapak untuk dijadikan sanggar yang baru."
Pak Wahyu manggut-manggut. Sedikit terkejut juga sebenarnya pada niat Pak Agung.
"Baik, Pak Agung. Seperti yang Bapak bilang, uang ini adalah milik desa, jadi sudah seharusnya digunakan untuk kepentingan desa. Soal rumah Pak Padianto yang mau dijadikan pengganti sanggar, sebelumnya saya mewakili seluruh warga mengucapkan terima kasih. Tapi apa Pak Agung yakin? Apa nanti tidak ada yang akan menuntut?"
"Pak Wahyu tenang saja ...."
Pak Agung memutuskan untuk memberikan tanah dan rumah Pak Padianto bukan tanpa alasan. Waktu di rumah sakit, berbicara terbata dan lidah cadel, Pak Padianto berpesan, kalau dia ingin memberikan tanahnya untuk desa.
Saat itu, Pak Padianto benar-benar marah pada putrinya, sampai-sampai tidak sudi dan tidak rela kalau Bu Lurah mewarisi harta peninggalan satu-satunya.
Setelah pembicaraan penting selesai dan sempat berbasa-basi sebentar, juga berpamitan pada Ningsih, Pak Agung pun pulang.
Keesokan harinya sekitar pukul delapan pagi, Pak Agung dan Bu Lurah benar-benar pergi. Hari itu juga Pak Wahyu dan Pak Purwo pergi ke kecamatan untuk melapor.
Setelah beberapa hari berlalu, topik sanggar dan Bu Lurah pun tergeser oleh kesibukan panen raya.
Mungkin hanya Ningsih saja yang masih merasakan kesedihan dan tidak rela. Gadis itu masih kerap datang ke sana, berdiri mematung sambil bertanya-tanya dalam hati, kenapa orang-orang itu tidak pernah datang lagi? Kapan mereka akan membangun tokonya?
Dua minggu kemudian, nyadranan pun digelar. Walau hasil panen kali ini tidak cukup bagus, banyak padi yang busuk dan kopong, mereka tetap merayakan nyadran untuk mengucap syukur dan memohon maaf pada danyang serta leluhur atas keteledoran mereka.
__ADS_1
Setelah acara selamatan di tempat-tempat keramat selesai, dilanjutkan dengan pentas seni di balai desa. Ningsih dan anak-anak menarikan beberapa tarian untuk menghibur warga yang hadir.
Saat pentas seni berlangsung, tiba-tiba Pak Gonden berlari ke atas pentas, berteriak-teriak dan tertawa-tawa seperti tidak waras, membuat anak-anak lari ketakutan.
Setelah peristiwa itu, Pak Gonden tidak pernah waras lagi. Setiap hari kerjanya menyapu punden, tidur pun di sana. Meskipun sudah diberi makan oleh warga atau keluarganya, dia tetap mengais sampah pasar untuk dimakan.
Absennya Pak Yudi dan Pak Candra setelah berhasil merobohkan sanggar, menjadi bahan perbincangan hangat di keluarga Pak Wahyu saat sedang berkumpul. Misalnya ketika makan malam seperti sekarang ini.
"Kok, aneh, ya. Orang-orang itu malah tidak pernah muncul lagi. Sudah hampir satu bulan ini." Lagi-lagi Pak Wahyu mengangkat topik yang sama.
"Mungkin masih menunggu waktu yang baik, Pak." Orang Jawa kalau hendak melakukan sesuatu, terlebih tentang hal-hal yang sangat penting, perhitungannya sangat rumit. Sebagai orang Jawa meski masih muda, Jati tahu betul itu.
"Mudah-mudahan tidak jadi," dan ujaran semacam ini selalu terlontar dari mulut Ningsih untuk menanggapi bapaknya.
Sampi detik ini, gadis itu masih belum rela kalau akan dibangun toko di lahan bekas sanggar. Dia pun menolak menggunakan rumah Pak Padianto sebagai pengganti sanggar dengan alasan terlalu jauh, kasihan anak-anak.
"Ya, kita tunggu dan lihat saja, Ndok. Oh, iya, gimana kabar ibu, Nak Jati?" Bu Rusmini sengaja mengalihkan topik karena dia tahu, walau terlihat sudah biasa saja, tetapi sebenarnya Ningsih masih belum bisa merelakan sanggar itu.
Lihat saja itu, Ningsih yang tadinya makan dengan lahap sekarang jadi tidak berselera, nasi di piring hanya dibolak-balik saja.
"Sudah mendingan Bu. Mungkin dua atau tiga hari bisa keluar dari rumah sakit." Ibunya Jati terserang demam berdarah. Opname di Rumah Sakit Caruban sudah sekitar empat hari.
"Syukurlah kalau begitu."
"Kamu tidak ada niatan jenguk ibunya, Nak Jati, Ndok?"
"Oh, iya. Ibu bilang ingin ketemu Dek Ning, lo."
"Loh, kok ...." Melihat kedua orang tuanya dan Jati saling bertukar pandang lalu tersenyum penuh arti, wajah Ningsih langsung merona. Buru-buru mengambil gelas hendak minum. Sudah di mulut, tetapi ternyata gelasnya kosong. Malunya.
Tidak ada kata cinta terucap dari mulut Jati, tetapi tindak-tanduknya sudah lebih dari cukup untuk Ningsih bisa merasakan dan memahami. Mengalir begitu saja, hubungan mereka menjadi lebih dekat dan intim.
Bahkan, tanpa sepengetahuan Ningsih, Jati sudah melakukan pembicaraan dengan orang tuanya, juga Pak Wahyu dan Bu Rusmini---pembicaran tentang niat menjalin hubungan serius dengan Ningsih.
Setelah masa-masa kelam berlalu tanpa kejelasan tentang nasib lahan sanggar, para pelakon yang terlibat di dalamnya telah mendapatkan ga jarannya masing-masing. Setelah mengalami kecelakaan, tubuh itu terus terbaring, tidur panjang di rumah sakit sudah hampir satu bulan.
Banyak yang heran karena pohon lamtoro yang ditabrak itu tidak terlalu besar. Lagi pula, sebesar-besarnya pohon lamtoro tidak akan mungkin bisa membuat seluruh bagian depan mobil hancur hingga menewaskan pengemudi dan penumpang satunya mengalami koma, juga harus diamputasi kaki kanannya.
Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya malam itu, yang mereka tabrak adalah pohon jati raksasa dari punden. Pohon yang pernah digergaji, secara gaib berpindah tempat sengaja untuk membalas perbuatan mereka.
Orang lewat yang telah menyebabkan kecelakaan itu terjadi pun sebenarnya juga bukan manusia. Nyai Bibet hanya ingin memberi pelajaran tanpa ada niat menghilangkan nyawa, tetapi rupanya jin yang ada dalam liontin kalung yang sudah dibanting Pak Yudi tidak bisa memaafkan begitu saja. Tanpa sepengetahuan Ki Sengon, jin itu mengikuti mereka dan ketika kecelakaan itu terjadi langsung menghabisi Pak Yudi.
"Bagaimana, Mbah?" Istri Pak Candra memanggil Mbah Taryo setelah beberapa hari terakhir ini sang suami kerap menyebut nama dukun itu. Minta tolong dibebaskan katanya.
Secara medis kondisi Pak Candra memang bisa dibilang koma, tetapi sebenarnya roh pria itu sedang mengembara di dunia gaib.
"Heem ... tambeng. Sudah diperingatkan masih ngeyel. Ya sudah, nanti aku jemput dia."
__ADS_1
Mbah Taryo sejatinya adalah dukun kepercayaan keluarga Pak Yudi dan Pak Candra, yang mana mereka berdua ini adalah saudara ipar. Kali ini dia tidak mau ikut campur urusan Danyang Desa Pantungan. Dia hanya ingin menolong Pak Candra sekaligus mencari petunjuk, kira-kira apa yang harus dilakukan supaya roh Pak Candra dilepaskan.
Beberapa hari kemudian, atas petunjuk Mbah Taryo, istri Pak Candra datang ke Kantor Desa Pantungan untuk meminta maaf sekaligus membatalkan niat Pak Yudi dan Pak Candra menyewa lahan.
Saat Pak Wahyu mengembalikan uang yang sudah dibayarkan, perempuan itu hanya mengambil separuhnya saja. Dia bilang yang separuhnya lagi, beserta pasir yang sudah ada di area sanggar disumbangkan untuk membangun sanggar kembali.
Syukurlah. Akhirnya sanggar warisan leluhur tidak jadi musnah dan orang yang paling gembira dengan kabar itu adalah Ningsih. Sebagai ungkapan syukur, gadis itu sampai berlari ke sanggar, lalu sujut mencium tanah sambil memanjatkan doa syukur.
Karena dana sudah ada dan pasir pun telah tersedia, pembangunan sanggar pun tidak ditunda-tunda lagi. Mengerahkan tenaga gotong royong dan memanfaatkan bahan-bahan bangunan sumbangan, sanggar kembali berdiri, bahka lebih kukuh.
Pada acara selamatan sekaligus pembukaan sanggar yang baru, seluruh warga yang bisa datang dipersilakan untuk hadir. Setelah acara selesai, Ningsih tinggal sendirian di dalam sanggar, berdiri di tengah ruangan, mengedar pandangan ke sekitar. Bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum.
Di dinding sanggar yang sudah bukan lagi papan, kini tergantung banyak foto. Selain beberapa foto lawas, ada foto anak-anak dari hasil jepretan saat pentas seni waktu nyadranan.
Seperangkat alat musik tradisional yang selama ini disimpan di gudang kantor desa, sekarang sudah dipindahkan ke sini, diletakkan di salah satu sudut sanggar.
Lantai sangar sekarang bagus, terbuat dari ubin abu-abu. Ada meteran listrik sendiri dan lampu yang dipasang pun berdaya cukup besar. Pelatarannya juga sudah disemen.
Tidak terlalu wah, yang penting tidak lagi bocor dan menyedihkan. Kesan kuno pun masih sangat kental karena tiang-tiang lama yang terbuat dari kayu jati asli masih digunakan.
Jati melongok di pintu. "Pulang, Dek Ning."
"Ningsih masih mau di sini sebentar lagi, Mas." Gadis itu bergeming. Rasanya ingin terus berada di sini.
Jati menghampiri, berdiri di samping Ningsih dan turut mengedar pandangan. "Selamat, akhirnya sanggar ini kembali."
"Terima kasih untuk sumbangan kayunya, Mas." Alih-alih menatap orang yang diajak bicara, Ningsih malah melihat ke atas.
Kayu yang ada di bubungan atap dan bilah-bilah yang menjadi penopang genteng adalah sumbangan dari Jati, beli langsung dari TPK. Pembangunan sanggar pun relatif sangat cepat. Mulai dari persiapan hingga berdiri hanya butuh waktu kurang dari satu bulan.
"Ya, sudah. Ayo, pulang, Dek. Tidak enak cuma berdua di sini."
Ningsih menggangguk dan menurut saja saat Jati menggandengnya. Cincin tanda ikatan pertunangan melingkar manis di jari keduanya. Saling menatap, lalu tersenyum, mereka pun melangkah meninggalkan sanggar.
Sepeninggal keduanya, dari dalam sanggar sayup-sayup terdengar suara gamelan mengiringi suara perempuan sedang menembang. Jati dan Ningsih mendengarnya, tetapi bersikap seolah tidak mendengar apa-apa, berjalan sambil asyik bercengkerama.
Setelah terjadi banyak peristiwa yang berkenaan dengan dunia lain dan upacara-upacara adat pun digelar, Jati jadi kerap berinteraksi dengan para sesepuh desa, hubungan mereka pun menjadi sangat akrab. Pada akhirnya Mbah Mun mengerti bocah bagus yang dimaksud oleh Nyai Bibet adalah Jati.
Setelah sanggar itu berhasil dibangun kembali, harapan terbesar lain yang dicapai para warga Desa Pantungan adalah menyambut terpilihnya Pak Wahyu sebagai lurah yang baru. Beberapa bulan berlalu, akhirnya saat itu pun tiba. Pak Wahyu otomatis terpilih karena dia adalah calon tunggal.
Pak Wahyu tidak lagi menolak saat seluruh warga memintanya mencalonkan diri karena banyak pertimbangan. Dia juga ingin memajukan desa dan dengan menjadi lurah keinginannya itu akan lebih mudah terwujud.
Jangan sampai kurang taksir, hilang laba. Kalau sampai lurah yang terpilih macam Bu Lurah sebelumnya, bisa gawat.
Perbaikan infrastruktur desa adalah tujuan utama Pak Wahyu. Mudah-mudahan saja Pak Wahyu bisa amanah dalam memikul tanggung jawab.
[TAMAT]
__ADS_1