WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Rebung Tak Jauh dari Rumpun


__ADS_3

..."Sifat perilaku anak tidak jauh berbeda dengan orangtuanya"...


Seperti turut berduka menyaksikan warisan leluhur telah rata dengan tanah, hujan deras tidak henti-hentinya turun sejak menjelang sore tadi. Tanaman padi yang beberapa hari lagi siap panen kembali terendam air, beberapa sungai dangkal pun sudah meluap---membanjiri kebun dan rumah warga terdekat. Warga Dusun Kidul dan sekitar tidur dalam gelisah, mereka sangat percaya kalau hujan yang turun tiada henti ini adalah salah satu murka Mbah Danyang.


Sudah lewat tengah malam, tetapi masih banyak lampu di rumah warga yang menyala. Mbah Mun dan Mbah Surip pun melakukan tirakat, melekan, untuk meredam amarah para danyang.


Jati yang baru pulang kerja, lagi-lagi ada operasi penggerebekan penebangan liar di hutan perbatasan Pantungan dan Mahbang, terlihat santai mengendarai sepeda motornya. Tidak merasa terusik oleh hujan deras, juga tidak tampak terganggu oleh jalan berlumpur. Dia bahkan tidak memakai mantel, tas ransel di punggung terlihat padat menggelembung.


Memasuki pekarangan loji, mesin sepeda motor langsung dimatikan tanpa menunggu berhenti dulu. Saat hendak membuka pintu tangannya tiba-tiba terhenti. Ada aura gaib sedang bergentayangan, tetapi Jati tidak merasakan niat jahat.


Lagi pula, dia tahu pasti siapa yang sedang bertindak. Hanya saja bertanya-tanya dalam hati, kira-kira apa yang sudah membuat sang gaib ini bergentayangan. Tidak terlalu hirau karena bukan sesuatu yang patut dikhawatirkan, Jati bergegas membuka pintu.


Aaaaaaaaaaaa ....


Bahu Jati menjengit. Suara jeritan itu terdengar tepat setelah dia menutup pintu.


"Apa lagi yang sudah Bu Lurah lakukan sampai Mbah Danyang ronda?" Jati menggumam sambil menggeleng lemah.


Tidak habis pikir pada tindakan Bu Lurah yang menurutnya sangat tidak berbudi luhur. Seharusnya rebung tak jauh dari rumpun. Entah sifat tamak itu menurun pada Bu Lurah dari siapa, yang jelas bukan dari Pak Padianto.


Urusan Nyai Bibet, Jati tidak akan ikut campur tanpa diminta. Lagi pula Danyang Sanggar itu tidak jahat, apa pun yang dia lakukan pasti ada alasannya.


Warga di sekitar kediaman Bu Lurah, banyak juga yang masih terjaga. Suara jeritan itu pun sayup-sayup terdengar oleh mereka meskipun tidak terlalu yakin karena suara hujan jauh lebih mendominasi. Kengerian mencekam mereka, banyak yang berpikir kalau suara itu adalah suara Mbah Danyang yang sedang marah.


Di tempat dari mana asal sumber suara yang sebenarnya, Bu Lurah sedang menjerit-jerit sambil melempar benda apa saja yang bisa diraihnya. Perempuan berkebaya kuning gading itu tubuhnya berdarah-darah, mata melotot pun mengalirkan darah---terus mengikuti ke mana pun Bu Lurah pergi. Ke mana pun Bu Lurah menuju, dia sudah terlebih dahulu menghadang di sana.


"Pergi! Pergiii!"


Bu Lurah yang hendak berlari ke kamar serta-merta berbalik arah karena perempuan itu sudah menghadang di pintu kamar.


"Sakit, Sri. Rumahku kamu hancurkan."


"Pergiii! Mas! Mas Agung! Tolong aku Mas!" Kakinya melangkah mundur sangat cepat hingga menabrak tiang, tubuhnya terpental ke depan. "Aaa!" Berteriak histeris karena perempuan itu sudah ada di depannya.Bu Lurah pikir pasti akan bertubrukan dengan perempuan itu, tetapi ternyata tubuh Bu Lurah menembusnya dan ....


Dugh


Tubuh Bu Lurah menabrak almari bufet, dahi membentur keras hingga memantul lalu ambruk ke lantai.

__ADS_1


Tidak memberi kesempatan pada Bu Lurah untuk sekadar mengeluh atas rasa sakit dan pening di kepala, perempuan berkebaya kuning gading itu sudah berdiri di hadapannya lagi.


Rasa takut luar biasa, seperti memberi Bu Lurah suntikan tenaga. Dalam posisi duduk, dia bergerak mundur sangat cepat walaupun pada akhirnya harus terhenti saat menabrak bufet.


"Mas Agung! Tolong aku Mas!


Rupanya Bu Lurah lupa kalau suaminya tidak ada di rumah. Tadi sore setelah sempat terjadi perdebatan, dia mengusirnya. Dan sekarang Pak Agung sedang tidur nyenyak di rumah Pak Padianto.


"Sudah berkali-kali aku peringatan, to, Sri? Tapi kamu masih nekat, malah nyewa dukun."


"Bukan aku! Bukan aku! Bukan akuuu! Bukan aku yang panggil dukun! Aku mohon pergi! Pergiii!" Suara jeritan panjang akhirnya senyap, menyisakan keheningan di antara derai hujan saat tubuh Bu Lurah lunglai, jatuh terkapar di lantai. Pingsan. Sosok Nyai Bibet pun pergi setelah, dengan kekuatan gaibnya, membaringkan Bu Lurah di tempat tidur.


Keesokan paginya saat bangun tidur, Bu Lurah merasakan seluruh tubuhnya sakit semua. Mendesis sambil memegang kepala, pusing sekali rasanya. Dahi pun berdenyut-denyut dan punggung terasa ngilu.


Masih duduk di atas tempat tidur, matanya yang terasa pedih melirik ke sana-kemari. Merasa ada sesuatu yang tidak biasa, tetapi apa? Kepalanya terlalu sakit digunakan untuk mengingat.


Perlahan menurunkan kaki, duduk di tepi pembaringan dengan kaki menggantung. Sejenak termenung dan saat mengangkat wajah ....


"Aaa!"


Rasa terkejut barusan bagai syok terapi yang membuat Bu Lurah bisa kembali mengingat kejadian tadi malam. Wajahnya seketika pucat, kepala memutar melihat sekitar, lalu cepet-cepet lari ke luar dan hampir bertubrukan dengan Pak Agung yang baru pulang.


"Ada apa, to, Sri? Kok, kayak kesetanan."


Bu Lurah tidak hirau, dia terus melangkah ke ruang tamu lalu duduk di sofa sambil memeluk lutut.


Tidak mau ambil pusing karena berpikir istrinya masih marah, Pak Agung tidak berniat untuk menghampiri. Pria itu masuk ke dapur untuk merebus air.


Karena kejadian kemarin, Ningsih demam tinggi dan selalu mengigau jangan dibongkar, kasihan Mbah Putri.


Bu Rusmini yakin kalau sakit putrinya dikarenakan kejadian kemarin, bahkan dia juga mengkhawatirkan kalau-kalau Ningsih jadi sasaran kemarahan Mbah Danyang. Menyuruh Pak Wahyu ke Dusun Lor untuk memanggil Mbah Mun, yang dibawa pulang malah Jati.


"Lah, Bapak ini disuruh manggil Mbah Mun, kok ...." Bu Rusmini tidak melanjutkan. Rasanya sangat tidak sopan, seolah-olah kedatangan Jati tidak diharapkan. "Selamat pagi, Nak Jati."


"Selamat pagi juga, Bu Rus."


Senyum dan tatapannya mampu menenangkan, juga meneduhkan hati yang sedang risau. Bagaimana Bu Rusmini bisa menolak pesona pria muda ini? Membayangkan Ningsih bersanding dengan Jati, rasa hati Bu Rusmini sudah berbunga-bunga, sesaat lupa pada kondisi putrinya.

__ADS_1


"Kok, malah bengong, to, Buk." Pak Wahyu menepuk pundak istrinya. Dia tahu betul apa yang ada di kepala istrinya.


"Eh, iya. Itu lo, Nak Jati ... Ningsih badannya panas. Takutnya kena sawan karena sanggar tiba-tiba dibongkar. Mengigau terus."


"Boleh Jati menjenguknya, Bu?" Pura-pura bertanya, padahal tujuannya datang memang untuk melihat keadaan Ningsih.


"Tentu saja boleh. Mari ibu antar."


"Kasihan Mbah Putri. Jangan dibongkar. Jangan ...."


"Ningsih terus mengigau begitu, Nak Jati," suara Bu Rusmini bergetar, dadanya tiba-tiba terasa penuh.


"Pak Wahyu, Jati boleh---" Pak Wahyu sudah mengangguk sebelum Jati selesai berbicara. "Permisi, Bu Rusmini. Jati mau melihat keadaan Dek Ning."


Bu Rusmini hanya mengangguk, lalu mundur berdiri di samping suaminya. Saat melihat sang istri mengernyitkan dahi, Pak Wahyu buru-buru berbisik, "Nak Jati itu lebih pinter dari Mbah Mun."


"Masak, sih, Pak? Masih semuda itu---"


"Sssttt ...." Pak Wahyu mendesis, jari telunjuk di bibir dan Bu Rusmini mengangguk paham.


Jati menggenggam tangan Ningsih yang terasa panas, kemudian memejamkan mata, mengatur napas dan memusatkan pikiran.


"Jangan dibongkar, kasihan Mbah Putri." Ningsih tiba-tiba menangis terisak-isak.


"Tidak apa-apa, Dek Ning. Mbah Putri punya rencananya sendiri. Dek Ning, tidak usah sedih." Jati berbisik di telinga Ningsih.


"Ningsih sudah gagal melindungi warisan leluhur yang dipercayakan pada Ningsih! Ningsih lemah, bodoh, tidak bisa apa-apa! Maafkan Ningsih, Mbah Putri." Beban batin yang selama ini Ningsih rasa dan tanggung sendiri, akhirnya diungkapan tanpa sadar.


Tangis Ningsih pecah. Tangis yang mampu membuat hati Jati terenyuh. Kesedihan Ningsih sangat tulus, setulus dia mencintai kesenian tari dan sanggar. Jati sampai harus mengetatkan rahang untuk menahan sesak di dada karena terharu, hatinya seperti diisi spon yang semakin lama semakin mengembang.


Jadi selama ini, Ningsih merasa bahwa sanggar itu adalah tanggung jawabnya. Kasihan sekali, karena pemikiran itu sudah membuat Ningsih sangat terbebani.


"Dek Ning, sudah berusaha. Mbah Putri pasti bangga." Jati membuka mata dan menoleh ke Bu Rusmini. "Bu Rusmini, tolong Dek Ning."


Ningsih butuh pelukan dan kehangatan sebagai dukungan supaya jiwanya tenang, Jati tidak mungkin memberikan itu, makanya meminta Bu Rusmini


[Bersambung]

__ADS_1


__ADS_2