WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Melihat Rumah Hadiah


__ADS_3

Evan pergi ke balkon belakang ruko, dia ingin melihat perumahan tadi.


" ada apa kak, kok melihat perumahan itu." kata nazwa yang mengikuti evan kesana


" kalau kamu tinggal di perumahan itu kamu mau enggak sayang." kata evan


" kenapa memangnya kak, kalau aku tinggal dimana aja enggak masalah mau disini juga enggak apa apa yang penting sama kakak." kata nazwa


" iya kalau nanti kita tinggal disana gimana." kata evan sambil merangkul nazwa


" iya kalau memang ada rezekinya boleh boleh aja kak, tapi kan kita sekarang lagi fokus mengembangkan usaha ini, atau jangan jangan ada cewek kakak ya tinggal disana." kata nazwa


" kamu tuh ya, mana ada sih yang mau sama aku, kamu aja mungkin mau karena aku pelet." kata evan


" udah ah jangan bahas itu lagi, aku jadi bete tau kak." kata nazwa


" oh iya tadi pak handoko ngasih tau aku sayang, katanya pak johan tadi laporan kedia dan dia melaporkan itu ke pak kamal, pak kamal langsung menyelidiki orangtua dan pamannya si rio itu, sekarang orangtuanya kena sangsi dan diturunkan jabatannya terus pamannya juga dicabut surat izin praktek dokternya karena memang dia mendapaykan surat izin itu berkat bantuan orangtuanya si rio, untung aja belum dipakai buat ngobatin pasien." kata evan


" iya tadi pak johan bilang waktu pulang, katanya kalau enggak ditahan sama kakak dia udah pasti udah mukul tuh anak, biarin aja itu akibatnya arogan sama orang." kata nazwa


" tapi bener kamu sayang sama aku dan mau jadi isteri aku." kata evan


" tuh kan kakak enggak percaya sama aku, aku serius kak buat apa aku terima kakak waktu tunangan coba kalau aku engbak suka sama kakak." kata nazwa cemberut


" iya aku percaya sama kamu sayang, aku sayang banget sama kamu." kata evan lalu mengecup kening nazwa.


" iya kak, aku juga sayang sama kakak." kata nazwa mereka pun berpelukan


" awas ya kalian belum resmi, nanti ada setan lewat." kata bu marni yang mengagetkan mereka


" iya bu maaf, kita kebawa suasana. Aku lagi melihat lihat rumah itu bu." kata evan

__ADS_1


" itu dia, karena terbawa suasana akhirnya kalian kebablasan, iya sebelum ayah kamu meninggal dia bilang ke ibu, seandainya nanti sudah punya uang akan membeli rumah disana, makanya ibu berjuang ini untuk supaya bisa kebeli rumah disana supaya ayah kamu bahagia dan bisa merealisasikan keinginannya." kata bu marni


" iya bu, kok ibu enggak bilang mau kesini sih." kata evan


" jadi ibu ganggu kalian nih." kata bu marni


" enggak bu." kata evan


" ibu tadi lewat sini dan melihat mobil kalian, jadi aja mampir, sekalian mau lihat sudah sejauh mana renovasi dan persiapan pembukaan usaha kalian ini." kata bu marni


" tinggal sedikit lagi bu, awal bulan depan insyaAllah sudah bisa dibuka bu, ini kita sedang membicarakan untuk membeli peralatan dan perlengkapan yang masih kurang ." kata nazwa


" ngomong ngomong masalah rumah disana itu berapa harganya memangnya bu." kata evan


" yang ibu tau waktu itu lebih dari 4 milyar sekarang mungkin sudah diatas 7 milyar." kata bu marni


" iya udah bu kita lihat yu kesana, aku juga penasaran jadinya seperti apa sih" kata evan


" kalau sebagai pemiliknya gimana bu." kata evan


" iya tinggal tunjukjn kartu atau kunci rumah sana aja ke security." kata bu marni


" ooohhh. Iya udah kita kesana sekarang." kata evan


" kamu nemu kunci rumah disana ya." kata bu marni


" nanti ibu juga akan tau, ini kejutan buat ibu dan nazwa." kata evan, lalu mengajak mereka pergi. Evan pun mengambil dulu tas yang ada di mobil yang dibawa pak johan, lalu menyuruh pak johan pulang duluan dan pulang ke rumahnya karena dia akan naik di mobil ibunya. Evan mengunci ruko tersebut lalu naik ke mobil.


" pak kita ke perumahan elite itu ya." kata evan


" siap den, ada pasien disana." kata pak budi

__ADS_1


" iya pak." kata evan. Pak budi pun menjalankan mobilnya menuju perumahan elite itu. Evan mengeluarkan kartu akses masuk perumahan tersebut.


" selamat sore pak, bapak mau kemana ya." kata petugas security


" oh iya saya baru tadi siang menerima kunci rumahnya dan ini saya baru pertama kali mau lihat rumahnya di blok A4 no.7, ini kunci rumah dan aksesnya." kata evan


" boleh saya minta kartu identitas bapak." kata petugas security, evan pun mengeluarkan KTPnya lalu menyerahkannya ke security, petugas security itu pun mengeceknya di data base.


" iya pak terimakasih atas kerjasamanya,mohon maaf kalau tadi saya lancang karena itu prosedur disini , datanya sudah kami periksa bapak yang namanya pak evan ya, ini baru diganti 2 hari lalu." kata petugas security lalu menyerahkan kunci dan KTP evan


" betul saya evan pak, enggak apa apa pak saya paham itu, jadi dimana ya letak rumahnya." kata evan


" bapak lurus saja, nanti sebelum danau bapak putar arah lalu ambil kiri itu rumahnya pak blok A4 no.7 paling pinggir pokoknya, kalau enggak nanti saya antarkan kesana." kata petugas


" boleh kalau begitu, terimakasih sebelumnya pak." kata evan. Lalu petugas security itu naik motor dan mengarahkan evan ke rumah yang dituju. Pak budi mengikuti motor petugas security, enggak sampai 7 menit mereka sampai di rumah yang dituju. Disana tidak memakai pagar pembatas disetiap rumahnya. Hanya bagian private aja yang tertutup dinding yaitu bagian belakang rumah. Evan turun dari mobil sambil membawa tasnya, lalu mengajak bu marni dan nazwa untuk turun. Lalu evan mengucapkan terimakasih ke petugas karena sudah mengantarnya, petugas security pun pamitan lalu pergi ke pos jaga lagi.


Evan menyerahkan kunci ke bu marni supaya dia yang membuka pintu rumah tersebut.


" nak ini beneran." kata bu marni sedikit gugup


" iya bu, ibu buka aja biar enggak penasaran." kata evan.


Klek....klek.. Bunyi kunci kebuka, bu marni mendorong pintu rumah itu. Pintu rumah pun terbuka terpangpang kemewahan rumah itu, disana siap segalanya, pak idris sudah mempersiapkan itu semua buat evan. Jadi evan tinggal datang saja.


" nak ini rumah siapa, gimana nanti kalau pemiliknya datang kesini, kita bisa berurusan dengan polisi loh, kita sudah masuk ke rumah orang tanpa izin." kata bu marni masih ragu


" siapa yang mau marah bu, ini rumah kita kok," kata evan


" nak jangan becanda, darimana kamu punya uang sebanyak itu, ibu enggak pernah ngajarin kamu untuk berbuat yang melanggar hukum. ibu masih bisa menghidupi kalian." kata bu marni


" bu ini rumah kita, tadi petugas juga bilang ini rumah atas nama aku, ini aku bawa surat kepemilikannya." kata evan lalu mengeluarkan amplop dari dalam tasnya.lalu menyerahkan kepada ibunya. Bu marni pun membuka amplop tersebut dan melihat lihat isi sertifikat itu, disana tercantum bahwa kepemilikan rumah itu memang atas nama anaknya evan devano putra.

__ADS_1


__ADS_2