
Evan pun menyelesaikan kuliahnya, lalu pergi untuk menjemput nazwa, nazwa dan nita sudah menunggu di tempat biasa. Setelah itu mereka pergi menjemput dina di kampusnya.
" udah makan siang belum." tanya evan
" tadi kita makan baso aja kak sambil nunggu kakak." kata nazwa
" iya udah kita makan dulu aja ya, tadi aku juga belum makan soalnya." kata evan, evan pun meminta pak johan untuk ke restoran dulu. Sesampainya di restoran evan mengajak pak johan untuk makan bersama.
" oh iya kak, pihak WO meminta kita sore ini ke hotel T untuk memastikan apa saja yang kurang dan mau memberikan undangan." kata nazwa
" iya sudah kalau gitu, kita langsung kesana aja, di rumah perawatan enggak ada masalah kan," kata evan
" enggak van, mungkin hari biasa, jadi pengunjung kurang kalau siang, nanti malam baru mulai rame, sekarang yang rame malahan yang beli pil sama cream aja." kata nita
" kalau begitu untuk makan pagi, siang, malam karyawan, pesan catering aja supaya enggak ribet mereka makannya." kata evan
" iya sih van, suka ribet kalau mau makan, apalagi kalau lagi banyak pengunjung." kata nita
" nanti aku cari cateringnya deh kak, bagus juga supaya karyawan juga jadi loyal kerjanya." kata nazwa. Mereka pun selesai makan, evan pergi ke hotel T.
Sesampainya di hotel nazwa menelepon pihak WO, mereka pun betemu di lobby hotel, evan dan nazwa pun melihat kartu undangan, setelah itu mereka melihat ke mesjid yang akan dijadikan tempat ijab qobul lalu ke ruangan yang akan dijadikan tempat makan makan. Mereka juga di ajak untuk melihat ballroom untuk acara resepsi.
" gimana mas, mbak ada yang perlu di tambah atau ada perubahan." kata orang dari pihak WO
" kalau aku sih udah cukup, menurut kamu gimana sayang." kata evan
" udah kak, ini mewah banget loh." kata nazwa. Selesai dari sana evan dan yang lain pulang ke rumah perawatan. Nita dan dina langsung membantu pekerjaan disana, sedangkan evan dan nazwa membuat stiker nama untuk di undangan, evan pun mengirim photo undangan ke bu sofie, bu fitri dan yang lainnya.
" kak aku pulang ke rumah ayah ya, soalnya enggak enak juga kita mau nikah akunya sama kakak, terus aku juga mau membagikan undangan dan kemungkinan besok saudara saudara ayah sama ibu akan datang, nanti aku minta nita sama dina buat temani aku." kata nazwa
__ADS_1
" iya udah, gimana bagusnya aja, yang penting kamu jangan cape cape ya." kata evan
" makasih ya kak." jawab nazwa
" sama sama sayang." kata evan sambil mengelus kepala nazwa. Nazwa menerima telepon dari ayah.
" assalamualaikum yah, ada apa.? Tanya nazwa
" waalaikumsalam nak, kamu sekarang dimana, masih sama evan enggak, soalnya ayah telepon evan kok enggak nyambung." kata pak hadi
" aku di rumah perawatan yah, ini ada yah sama aku lagi masang stiker undangan, oh Handphone kak evannya lagi di cas yah, tadi habis batre, ayah mau bicara sama kak evan." kata nazwa
" oh gitu, boleh nak," kata pak hadi
" kak, ayah mau bicara sama kakak." kata nazwa sambil memberikan handphonenya.
" assalamualakum pak, gimana ada yang bisa aku bantu." kata evan
" iya sudah aku kesana sekarang pak." kata evan
" kak aku ikut ya.." kata nazwa
" iya udah, ayo berangkat sekarang." kata evan, lalu mereka berdua pamitan ke nita dan dina tak lupa evan dan nazwa membawa kartu undangan. Evan meminta pak johan mengantar mereka ke rumah sakit C, di perjalanan evan memberitahu ibunya bahwa dia mau ke rumah sakit bersama nazwa karena tante nazwa sakit.
Evan dan nazwa pun sampai di rumah sakit, evan langsung menemui pak hadi di ruangan perawatan, evan menyalami calon mertuanya. Lalu melihat kondisi pasien, evan melihat bahwa tantenya nazwa tidak sakit secara medis akan tetapi sakit karena ada yang mengguna guna secara mistis. Evan pun langsung mengetahui bagaimana cara menanganinya akan tetapi evan ingin tau mengapa sampai seperti itu. Untuk itu eban mengajak nazwa dan calon mertuanya ke ruangannya untuk menanyakan sifat tantenya nazwa. karena melihat sifat keluarganya terutama anaknya terlihat sombong. pak hadi pamit ke kakaknya dengan alasan mau melihat hasil pemeriksaan.
" huh katanya dokter hebat... Tapi mana buktinya..." kata anak tantenya nazwa. Evan tidak menghiraukan omongan tersebut lalu pergi keluar ruangan perawatan.
" sus minta tolong panggilkan dr. Helmi ke ruangan saya ya." kata evan
__ADS_1
" baik dokter...oh iya dok. Makasih untuk pil dan cream wajah kemarin." kata perawat yang suka membantu evan
" sama sama..." jawab evan lalu pergi ke ruangannya
" nak ada apa sebenarnya." kata pak hadi setelah sampai di ruangan evan.
" maaf sebelumnya, sebenarnya bagaimana sifat dan sikap tante itu sehari hari dan kejadian apa sebelum tante sakit." kata evan
" tantenya nazwa itu sombong, kata katanya suka nyakitin." kata bu citra
" enggak boleh gitu bu, tadi kakaknya bapak bilang sebelumnya mereka pergi jalan jalan ke daerah P, disana ketemu bapak bapak pengemis, si pengemis itu menyenggol isteri kakak, disana keluarlah kata kata kasar bahkan mendorong si bapak walapun si bapak sudah meminta maaf. Pas malamnya isterinya kakak mengalami sakit di ulu hatinya, makanya mereka langsung pulang enggak jadi berliburnya." kata pak hadi..
Tok...tok..tok
" silahkan masuk." kata evan
" aduh maaf, ternyata sedang kumpul nih." kata dr. Helmi
" saya yang minta maaf dokter, sudah berani menyuruh dokter kesini." kata evan
" kamu itu yah.. Gimana udah melihat kondisi pasien." kata dr. Helmi
" sudah dokter... Biarkan saja dulu, supaya merasakan sakitnya bila direndahkan dan dihina." kata evan
" maksud kamu nak apa." kata dr. Helmi
" dokter sudah periksa kan.. Dan hasilnya tidak ada masalah... Itu diakibatkan ulah dia sendiri... Kalau memang benar benar mau sembuh dia harus datang ke tempat dia menghardik pengemis itu, dia harus meminta maaf." kata evan
" memang sih tadi juga keluarganya sempat marah marah, bilang rumah sakit ini tidak baguslah dan kata kata lainnya. Terus bagaimana supaya bisa mengobati pasien tersebut." kata dr. Helmi
__ADS_1
" tunggu 17 menitan lagi kita kesana. Sebentar saya ingin minum dulu." kata evan, evan pun pergi ke tempat duduknya. Lalu dia mengambil minum yang tersedia disana, evan pun melakukan meditasi memanggil Hacu.. tetapi evan meminta hacu tidak menampilkan wujudnya. Setelah hacu datang evan meminta supaya dia pergi ke pengemis yang di hardik tantenya nazwa dengan wujud manusia, dan evan memberi uang kepada hacu agar dia menyampaikan ke pengemis itu sebagai tanda permintaan maaf. setelah itu evan mengajak dr. Helmi pergi ke ruangan perawatan tantenya nazwa. Sesampainya disana Hacu mengendus orang yang di maksud evan. Setelah hacu pergi dan evan pun memulai mengobati tantenya nazwa dengan melakukan akupuntur sebagai pengalihan yang ada disana. Evan mengusir mahluk yang mengganggu ditubuh tantenya nazwa... Evan melihat mahluk itu keluar tanpa ada perlawanan...dan evan juga menerima kabar bahwa hacu sudah menemui pengemis yang dimaksud. Evan mencabut jarum jarumnya lalu menyimpannya. Tantenya nazwa pun tidak lagi merasakan sakit di tubuhnya. Dr. Helmi melihat kejadian yang diluar nalarnya.. Dia tambah salut akan kemampuan evan