
Sambil makan, mereka pun mengobrol, sebagian para tamu sudah pulang tinggal beberapa keluarga dekat nazwa.
" ibu ikut ya nak." kata bu marni
" iya bu, enggak masalah." kata evan
" ibu sama nak evan ikut mobil saya saja." kata pak handoko
" enggak usah pak, saya bawa kendaraan sendiri saja, takut nanyi pulangnya repot." kata bu marni
" enggak apa apa nanti saya antar pulangnya." kata pak handoko
" enggak usah pak, apalagi sampai merepotkan bapak, saya pakai sopir sendiri kok." kata bu marni. Bu marni meminta ella, yasmin, pak braja dan bu surti serta bi siti pulang pakai mobil pak agus. Dia sama evan mau ke rumah sakit sama pak budi.
" kak, aku boleh ikut enggak." kata nazwa
" kamu izin dulu sama bapak dan ibu, boleh enggak." kata evan
__ADS_1
" pak, bu, boleh ya aku ikut sama kak evan, aku mau nemenin kak evan." kata nazwa
" iya ikut aja, biar ibu ada temannya." kata bu marni
" iya sudah, toh calon ibu mertuamu boleh, iya gimana." kata pak hadi
" iya udah enggak usah nunggu lama lama kalau begini, secepatnya aja dinikahkan pak." kata pak handoko
" kalau saya tergantung anaknya saja pak." kata pak hadi
" saya rasa enggak masalah nikah buru buru juga, toh nak evan sangat bertanggung jawab, dia memiliki keahlian dan dengan keahliannya ini saya rasa akan banyak rumah sakit yang berbondong bondong merekrut dia, makanya saya enggak mau kecolongan, nak evan akan saya rekrut terlebih dahulu di rumah sakit saya." kata pak handoko
Setelah makan dan berpamitan pak handoko dan dr. Surya menaiki mobilnya, dr. Helmi dan bambang pun sama naik mobil mereka masing masing, evan, bu marni dan nazwa pun naik mobil yang disopiri pak budi. Sebelumnya nazwa meminta maaf ke temannya dina dan nita karena enggak bisa menemani mereka, akhirnya karena enghak ada nazwa mereka pun pamitan pulang. Kendaraan mereka pun pergi ke rumah sakit S, mereka beriringan dengan dikawal patwal di depan mobil pak handoko. Tadi pak handoko meminta ajudannya untuk meminta pengawalan. Setelah kejadian kecelakaan waktu itu dr. Surya menjadi trauma.
Sampai di rumah sakit, pak handoko membawa evan dan yang lainnya ke ruangan kerjanya, setelah menempatkan bu marni dan nazwa disana, pak handoko membawa evan ke ruang perawatan VVIP, sebwlum masuk evan dikasih baju steril terlebih dahulu baru masuk ke ruangan tersebut. disana terlihat seorang pria paruh baya yang umurnya sekitar 60 tahunan terbaring di kasur perawatan dengan terpasang alat media di sekujur tubuhnya. Evan tadi lupa menanyakan rekam media bapak tersebut. Di ruangan tersebut hanya ada perawat yang menunggu, keluarganya baru pulang.
" iya dokter, saya tadi lupa menanyakan kondisi pasien seperti apa." kata evan sambil menuju ke pasien, evan pun memeriksa denyut nadi pasien. pak handoko meminta perawat untuk menjauh. perawat pun bingung karena ada anak yamg masih sangat muda yang mau memeriksa pasien, karena sekelas dr. Helmi dan dr. Bambang pun sudah angkat tangan, akan tetapi karena yang meminta pemilik rumah sakit perawat itupun menurut.
__ADS_1
" yang membuat sakitnya parah itu ada tumor dikepalanya, makanya saya angkat tangan karena letak tumor tersebut berada dekat otak, sehingga membuat tubuh pasien pun seperti saat ini, kalau pun dilakukan operasi maka akan ada efek samping yang sangat berbahasa kepada kondisi pasien, makanya keluarga pun mengerti dan sudah pasrah." kata dr. Helmi
evan merasakan kondisi pasien, lalu muncul informasi dikepalanya dan metode penyembuhannya.
" gimana nak, apa bisa disembuhkan." kata pak handoko
" memang kondisi penyakit pasien sangat komplek, selain tumor juga ada penyumbatan di jantungnya. Sehingga darah ke otak tidak bisa lancar, sebenarnya akar masalah pertama itu penyumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga darah yang mengalir ke otak tidak sempurna, akibatnya seperti ini. Saya sudah memeriksanya dan kalau takdir tuhan menyertai kehidupan pasien ini, saya bisa mengobatinya pak." kata evan dengan tegas.
" kalau benar benar kamu bisa menyembuhkan pasien ini, ini akan menjadi suatu keajaiban medis nak, dan itu kamu yang membuat keajaiban." kata pak handoko, kapan bisa memulai untuk merawat pasien ini." kata pak handoko
" sekarang saja pak, saya selalu membawa peralatan saya kemana pun." kata evan, lalu dia membuka tas di pinggangnya dan mengeluarkan jarum akupuntur disana. Evan meminta dr. Helmi dan dr. Bambang membantunya, evan meminta supaya alat alat medis yang ada di hidung di cabut karena harus membalikan tubuh pasien. Dr. Helmi dan dr. Bambang sedikit ragu.
" jangan ragu lagi, saya yang akan bertanggung jawab." kata pak handoko memberikan jaminan, setelah itu dr. Helmi dan dr. bambang menurut apa yang dikatakan evan. Setelah pasien ditengkurap evan mensterilkan jarum jarumnya lalu menusukannya ke tubuh pasien tersebut sesuai dengan instruksi yang ada dikepala evan. Pak handoko dan yang lainnya merasa takjub akan keahlian evan ini disaat menusukn jarum jarum ke tubuh pasien. Evan mengalirkan energi murni dari tubuhnya ke tubuh pasien melalui jarum jarum akupuntur.
Terlihat jarum jarum yang menancap di tubuh pasien bergetar. Evan pun berkeringat, perawat yang ada disana pun cepat cepat mengambil lap untuk mengusap keringat di dahi evan. Setelah 27 menitan evan memeriksa denyut nadi pasien, dan sumbatan di pembuluh darah di jantung sudah tidak ada lagi, evan mencabut jarum jarum tersebut, setelah itu evan memberikan pijatan di bekas tusukan jarum. Lalu meminta dr. Helmi dan dr. Bambang membalikan tubuh pasien, sekarang terlihat warna memerah di muka pasien yang tadinya pucat, evan istirahat sebentar lalu menancapkan lagi jarum jarum akupuntur dikepala pasien, dengan menusuk jarum akupuntur dikepala pasien tersebut untuk melancarkan kembali peredaran darahnya dan menghancurkan tumor yang ada disana. Nantinya akan dibuang bersama kotoran tubuhnya. Setelah 17 menit evan mencabut jarum jarum tersebut, lalu membersihkan jarum jarum itu dan menyimpannya.
" gimana nak apa sudah sembuh penyakit pasien ini." kata pak handoko, pak handoko pun merasa cemas karena pasien ini bukan orang yang sembarangan. Jika terjadi sesuatu nasib dia akan terbawa buruk apalagi tadi sudah menyatakan akan bertanggung jawab.
__ADS_1
" sudah pak, tinggal menunggu pasien siuman saja kurang lebih 7 menitan dia akan siuaman." kata evan, evan pun duduk di sofa untuk istirahat karena energinya lumayan terkuras.