WARISAN LELUHUR

WARISAN LELUHUR
Indah Kabar dari Rupa


__ADS_3

..."Biasanya kabar jauh lebih hebat dari kenyataa yang sebenarnya"...


Malam Jumat Kliwon. Hujan deras kembali mengguyur Desa Pantungan saat tengah malam tiba. Gumpalan asap hitam mengambang di angkasa, di bawahnya, dalam keremangan lampu bohlam berdaya rendah yang ada di pinggir jalan, seseorang berpakaian serba hitam tampak sedang berusaha keras menggali tanah di pusat pertigaan jalan tidak jauh dari pintu pasar sebelah utara.


Seekor ayam hitam dilempar ke dalam lubang galian yang kedalamannya kira-kira satu meter, lalu segera ditimbun kembali. Beberapa batu berukuran sedang diambil dari pinggir jalan lalu diletakkan di atasnya.


Tidak akan terlihat ada bekas galian, selain karena bebatuan adalah hal yang wajar, timbunan tanah baru itu segera kembali rata karena siraman air hujan telah menghapus jejak-jejak bekas galian.


Sosok itu segera meninggalkan lokasi. Melangkah lebar tanpa menoleh kembali, seperti yang diinstruksikan oleh Mbah Taryo.


Kubur ayam-ayam hitam ini di tiga persimpangan jalan utama desa. Mulai dari bagian yang paling jauh dari gerbang desa. Setelah selesai mengubur, pergi, jalan saja terus jangan menoleh lagi.


Pak Gonden'lah yang mendapat tugas untuk mengubur ayam-ayam itu, atas perintah Bu Lurah, karena hanya dia satu-satunya orang yang bisa diajak berkompromi. Bu Lurah pun hanya mengikuti suruhan Mbah Dukun. Dia tidak peduli cara apa yang akan ditempuh kedua calon penyewa lahan itu, yang penting keinginannya bisa tercapai.


Sepeninggal Pak Gonden, dari tempat mengubur ayam tadi keluar asap hitam. Awalnya hanya tipis, tetapi semakin lama semakin banyak dan tebal, membumbung ke angkasa, menyatu dengan gumpalan asap hitam lain yang sudah menunggu.


Asap itu berputar-putar dan terus berputar sangat cepat, dari bentuk gumpalan perlahan berubah menjadi lingkaran. Muncul tiga cahaya kemerahan dari badan asap yang telah menyerupai cincin raksasa, berkumpul di tengah lingkaran, mengambang naik-turun beberapa saat lalu melesat cepat lebih tinggi, kemudian pecah dan menyebar, seperti kembang api. Serpihan-serpihannya melayang-layang bagai kunang-kunang, menghiasi angkasa Desa Pantungan yang masih terus diguyur hujan.


Berdiri melayang di antara dua pohon jati raksasa yang ada di punden, Ki Gopet dan Nyai Bibet, tenang-tenang saja menyaksikan apa yang terjadi.


"Tidak dicegah, Nyai?" Pria itu bertanya denga senyum tersungging tipis. Parasnya sangat menawan. Ketampanan khas pria keraton tampak bercahaya di keremangan malam, mengenakan baju surjan lurik hitam dan cokelat muda, dipadukan dengan kain batik---tidak basah sedikit pun walau tersiram air hujan. Kedua tangannya saling bertumpu di atas perut.


"Biarkan saja, Ki. Asal tidak mencelakai warga, tidak apa-apa. Aku pengen njajal sepiro duwure kesaktiane wong iki."


(Njajal sepiro duwure kesaktiane wong iki: mencoba seberapa tinggi kesaktiannya orang ini)


"Ndok Ningsih gimana?"


"Ndok tidak akan terpengaruh, aku sudah memberi penangkal di paha kanannya."


"Jadi tidak apa-apa ini kalau yang lain terpengaruh sama sirepnya? Sanggar bisa beneran dibongkar, lo, Nyai."


Nyai Bibet tersenyum sinis. "Tidak akan semudah itu, Ki. Tapi untuk memberi pelajaran pada orang-orang keblinger ini, tidak apa-apa juga sanggar itu dibongkar. Nanti pasti dibangun lagi."


"Tapi aku tidak trima kalau punden ini yang diusik. Apalagi dua pohon ini." Ki Gopet turut tersenyum, sosoknya perlahan menghilang, menyiksakan suara tembang, "Abang mbranang eng tawang peteng dhedhet. Betoro Kolo murko. Eling-elingo tumindak olo bakal agawe sengsoro ...."


(Merah terang di langit gelap gulita. Batara Kala murka. Ingat-ingatlah perbuatan jahat akan membawa sengsara)

__ADS_1


Nyai Bibet juga turut menghilang. Mulai sekarang, sebagai peringatan, dia tidak akan menggertak lagi. Percuma, tidak akan mempan pada Bu Lurah yang keras kepala dan egois. Kesusahan warganya tidak dianggap penting. Fokusnya kini pada Bu Lurah secara pribadi dan orang-orang yang bersekutu dengannya.


___________


Hujan masih turun, angin pun berembus cukup kencang menerobos masuk lewat sela-sela kaca nako yang sudah tidak bisa ditutup rapat. Namun, Jati yang sedang tidur tampak gelisah, wajah dan lehernya berpeluh seperti sedang kegerahan, dahi berkali-kali mengernyit.


"Jati. Bangun, Le. Jati ...."


(Le: panggilan untuk anak laki-laki Jawa)


Mata Jati serta-merta terbuka lebar, menatap nanar pada langit-langit kamar, napasnya sedikit ngos-ngosan.


"Eyang kakung." Dia buru-buru bangun, mengelap keringat sekenanya menggunakan selimut, kemudian mengambil sikap semadi.


Memusatkan pikiran hingga pendengaran seolah menjadi tuli, Jati sedang berinteraksi dengan kakek canggahnya atau bisa dibilang bagian dirinya yang lain, yang peka terhadap dunia gaib.


"Apa pun yang akan kamu lihat dan apa pun yang terjadi di desa ini, jangan sekali-kali ikut campur. Cukup tau saja." Suara ini hanya menggema di kepala Jati.


"Kenapa tidak boleh, Eyang?"


"Itu urusannya Nyai Danyang. Kalau Nyai tidak meminta bantuan, jangan sekali-kali ikut campur. Paham?"


"Hati-hati dan tetap waspada, Le."


"Baik, Eyang. Terima kasih sudah memperingatkan Jati."


Ketika suara itu sudah tidak terdengar lagi, mata Jati perlahan terbuka. Tidak segera kembali berbaring, dia malah termangu. Dia bisa merasakan sesuatu sedang bergerak di luar rumah, suara-suara berbisik dan mendesis juga memenuhi udara. Dari ujung mata, Jati melihat ada sosok hitam besar berbulu dan bertanduk, bermata merah, menembus dinding masuk ke kamarnya. Alih-alih bereaksi, pria muda itu malah santai, kembali membaringkan diri, menarik selimut dan meringkuk, berpura-pura tidak menyadari kehadiran makhluk itu.


Dugh dugh dugh ....


Hentakkan kaki makhluk itu menggetarkan bumi, dinding dan atap. Suaranya menggeram-geram. Jati tetap masa bodoh hingga akhirnya sosok Genderuwo itu geram dan sudah mengayun tangan hendak mencengkeramnya, tetapi ....


"Wani ndemok aku, tak jamin babak belor kowe! Nyingkreh kono!" Jati membuka mata, menatap tajam tanpa berkedip tepat ke mata merah makhluk itu.


(Berani menyentuh aku, aku jamin babak belur kamu! Pergi sana!)


Makhluk itu lenyap dalam sekejap, meninggalkan raungan panjang amarah. Dia adalah Genderuwo penunggu pohon mangga yang tumbuh di belakang loji. Berniat menantang Jati, tetapi hanya adu tatap saja dia sudah takluk.

__ADS_1


"Aneh-aneh saja. Daripada nantang aku, mbok ya, lawan itu jin-jin penebar sirep." Jati menggerutu sembari kembali membaringkan diri.


Indah kabar dari rupa. Tersohor ganas menakutkan, ternyata hanya adu mata saja sudah kalah.


Di kamarnya, Mbah Mun pun terbangun karena udara tiba-tiba terasa panas dan suara-suara dari alam lain begitu riuh di luar sana.


"Eladalah! Keblinger tenan bocah iki. Sri, Sri, celaka beneran kamu ini. Kalau begini caranya, Mbah Danyang bakalan murka."


Pria tua itu bergegas ke luar dari kamar menuju ruang khusus yang biasa digunakan untuk ritual. Sesampainya di sana ternyata dupa sudah menyala.


"Nyai sampun rawuh." Berujar sambil membungkuk hormat, lalu Mbah Mun duduk bersila dengan perlahan. Sambil menyembah ke arah dupa, dia berkata, "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyai. Sebagai sesepuh saya tidak bisa mencegah ini terjadi."


"Ini urusanku, kamu tidak usah khawater." Suara Nyai Bibet terdengar, tetapi tidak ada wujudnya. "Orang ini bukan tandinganmu, Mun."


"Baik, Nyai. Tapi bagaimana dengan para warga?"


"Biarkan saja begitu. Kita ikuti permainan orang-orang itu. Lagi pula, ada bocah bagus yang bisa diandalkan. Kalau situasinya tiba-tiba di luar kendali, dia bisa diandalkan."


Bocah bagus? Mbah Mun baru saja hendak bertanya siapa yang dimaksud bocah bagus, tetapi Nyai Bibet sudah pergi. Pria tua itu termangu. Suara riuh di luar sudah tidak lagi terdengar. Dia menghabiskan sisa malam yang tenang di ruang ritual.


Saat pagi menjelang warga Desa Pantungan pun beraktivitas seperti biasanya, tidak ada yang berubah. Kecuali, tidak terdengar lagi cuitan-cuitan, yang biasanya menjadi topik utama, tentang Bu Lurah yang berniat merobohkan sanggar dan punden.


Kejadian aneh pun dialami Ningsih. Pagi ini, selagi mandi dan asyik menggosok badan dengan sabun, dia dikejutkan oleh toh merah yang tiba-tiba ada di paha kanannya.


Gadis perawan yang memiliki toh merah, itu biasanya dia ditandai oleh makhluk halus. Dari bayi sudah diincar dan gadis pemilik toh merah biasanya pamali.


Ningsih pernah mendengar cerita itu dari neneknya, waktu sang nenek mengisahkan sebuah dongeng tentang Putri Pamali. Buru-buru menyelesaikan mandinya, Ningsih keluar sambil berteriak heboh, "Buk, Ibuk!"


"Ada apa to kok, teriak-teriak!" Bu Rusmini yang baru hendak memasak untuk sarapan, meninggalkan pekerjaannya, bergegas menyongsong Ningsih.


Tanpa bicara apa-apa, Ningsih segera menarik tangan sang ibu dan membawanya ke kamar. Sesampai di kamar langsung menunjukkan toh merah yang ada di paha kanannya. Merah, semerah darah.


"Eladalah, apa ini?" Mata Bu Rusmini melebar.


Pak Wahyu yang semalaman sengaja tidak tidur, tadinya duduk anteng di sofa ruang tengah, segera berlari waktu mendengar Ningsih berteriak heboh.


"Ada apa, to, Buk? Ndok kenapa?" Dengan wajah cemas, Pak Wahyu berdiri di depan pintu kamar putrinya.

__ADS_1


[Bersambung]


__ADS_2