
..."Sahabat sehidup semati"...
"Kalau jalannya bagus, mobil Pak Salam kan enak lewatnya, to."
Hanya ada Bu Lurah dan sepasang suami istri duduk di sofa ruangan yang hampir dipenuhi dengan tumpukan kardus, telur, karung-karung putih dan cokelat, berbungkus-bungkus plastik jajanan anak-anak dan masih banyak lagi barang yang rupanya adalah dagangan.
Pemilik rumah ini adalah Pak Salam dan Bu Gemi, orang terkaya di desa, memiliki toko paling besar dan paling lengkap, sangat berpengaruh. Ada desas-desus kalau sebenarnya kekayaan yang mereka miliki itu adalah hasil pesugihan, tetapi tampaknya warga desa tidak terlalu ambil pusing. Urus urusan masing-masing.
"Aku setuju-setuju saja kalau jalan-jalan itu diperbaiki ...." Menghisap rokok lalu menjetikkan abunya ke asbak, pria itu tampaknya kurang antusias menanggapi omongan Bu Lurah. Lihat saja cara duduknya, menyandar malas, kaki yang satu bertumpu pada yang lain. "Tapi kalau harus bongkar sanggar sama punden, aku emoh!" tegasnya.
(Emoh: tidak mau)
"Sanggar sama punden itu tidak ada gunanya,lo, Pak Salam. Malah merusak pemandangan---"
"Dek Sri, tidak boleh bilang begitu. Di punden dan sanggar itu ada penunggunya, Mbah Danyang pelindung desa ini." Bu Gemi, perempuan bertubuh subur, berbicara sambil menyelipkan beberapa helai rambut pendeknya ke telinga kanan. "Tidak boleh sembarangan, to, Dek."
Wajah masam sudah cukup mengisyaratkan kekecewaan Bu Lurah. Dari beberapa orang yang dia temui, tidak ada satu pun yang setuju kalau sanggar dan punden itu dibongkar lalu lahannya disewakan. Secara tersirat, mereka justru tidak keberatan kalau harus membayar tinggi uang iuran untuk perbaikan jalan.
Perhitungannya meleset. Dia terlalu jumawa sampai menganggap enteng orang-orang itu. Ternyata mereka lebih menjunjung tinggi tradisi dan sangat percaya takhayul. Pupus sudah harapan Bu Lurah untuk bisa mendapatkan sekutu.
Saat ini hanya Pak Gonden saja yang bisa dia jadikan rekan setia, Bu Lurah berharap, mudah-mudahan bisa sama lebur, sama binasa.
Tahu usahanya membujuk bakal sia-sia, Bu Lurah tidak mau banyak bicara lagi. Segera berpamitan.
Baru saja duduk di atas motor, HP-nya berdering, sangat berisik. Bu Lurah buru-buru merogoh saku bajunya, mengeluarkan benda warna abu-abu yang layar monokromnya berkelap-kelip kuning kehijauan. HP keluaran terbaru, N3xx0, yang bentuknya jauh lebih kecil dari HP sebelumnya dan sudah tidak berantena, mungkin di desa ini baru Bu Lurah yang punya.
" ... "
"Iya, Pak Candra, tunggu saja di dekat pasar. Saya ke sana sekarang."
__ADS_1
Obrolan sangat singkat. Setelah menyimpan kembali ponselnya, Bu Lurah segera melaju.
________
Pukul setengah empat sore, suara musik gamelan yang diputar di tape recorder terdengar mengalun dari dalam sanggar. Sudah dua hari ini Ningsih kembali mengajak anak-anak berlatih menari di sanggar.
Tidak peduli dengan kekisruhan yang terjadi akibat ulah Bu Lurah yang ingin menyewakan lahan sanggar ini pada seorang saudagar, Ningsih malah mencari murid baru dan berhasil menggaet tiga anak lagi. Anak-anak yang rencananya akan turut menari di acara bersih desa nanti.
Selagi Ningsih melatih tiga anak baru, yang lima dibiarkan berlatih sendiri. Melatih gerakan-gerakan yang sudah sering dilakukan, tetapi masih dianggap sulit sambil berdiskusi. Canda tawa pun kerap mengiringi jalannya latihan.
Sepertinya mereka sama sekali tidak terganggu dengan permasalahan yang sedang berkecamuk di desa. Melihat sang guru begitu bersemangat, mereka pun jadi turut bersemangat. Berpikir semua baik-baik saja.
Suara musik, suara anak-anak bersenda gurau, suara Ningsih memberi arahan-arahan, ditambah suara air terjun dari sungai yang berlokasi tidak jauh di belakang punden, seakan membuat telinga mereka tuli terhadap suara-suara lain yang menghampiri.
Mereka tidak menyadari saat motor yang dikendarai Bu Lurah masuk ke pelataran sanggar. Setelah memarkir sepeda motornya, Bu Lurah berdiri menunggu pengendara mobil hitam yang datang bersamanya parkir di luar pagar lalu bersama-sama melangkah ke teras.
Tangan mengetuk pintu cukup kasar, matanya menatap tajam ke arah Ningsih yang sudah menoleh. Gadis itu tidak segera beranjak karena sedang membetulkan gerakan tangan salah satu muridnya.
"Iya sebentar, Bu Lurah!" sahut Ningsih. "Tika, Lilis, tolong bantu mereka. Ibu ada tamu." Ningsih bergegas menghampiri dengan hati waswas. Suasana hatinya langsung kurang bagus begitu melihat wajah Bu Lurah. Kalau bisa memilih, Ningsih akan lebih memilih tidak menemuinya.
Tidak sabaran, sebelum Ningsih sampai, Bu Lurah sudah bergegas menyongsong lalu menariknya ke pojokan. "Aku sudah bilang jangan latihan di sini lagi! Kok, ya, masih ngeyel!" Bisik-bisik tegas ini rasanya tidak hanya membuat gendang telinga Ningsih sakit, tetapi hati pun ikut sakit.
Mengibas kasar tangan Bu Lurah yang masih mencengkeram lengannya, mata Ningsih pun menatap nanar. "Aku akan berhenti latihan di sini kalau Mbah Putri sendiri yang melarang. Selain Mbah Putri, jangan harap aku turuti!"
Dulu meski marah, Ningsih masih cukup sopan dengan menyebut dirinya sendiri 'saya' alih-alih 'aku', tetapi sekarang gadis itu sudah benar-benar muak sampai enggan beretika.
"Kurang ajar---"
Tok tok tok
__ADS_1
Keduanya menoleh ke pintu bersamaan, sempat membuat si pengetuk kaget karena raut wajah dan tatapan mereka tampak seperti binatang buas lapar yang hendak menerkam mangsanya.
"Maaf, Bu Lurah ...," ujar Pak Yudi sembari tersenyum canggung dan melepas topi koboinya.
"Iya Pak, sebentar." Bu Lurah tersenyum ramah pada pria itu. Senyumnya sirna dan berganti wajah tegas saat kembali menatap Ningsih. "Aku peringatkan jangan bicara macam-macam!" Lalu bergegas beranjak.
Astaga! Dasar keras kepala! Ningsih menggerundel dalam hati. "Mbah Putri, jangan diam saja, to, Mbah." Wajah gadis itu terlihat murung.
Dari celah jendela, Ningsih melihat Bu Lurah dan kedua pria itu menuju ke halaman belakang sanggar. Mereka berhenti di bawah deretan pohon bambu pinggir sungai. Tebing sungai sangat tinggi seperti jurang, air yang mengalir deras ada di dasarnya, sangat curam sampai tidak terlihat dari atas.
"Jadi lahan sanggar sampai di sini? Luas juga." Pak Candra berujar sambil manggut-manggut, tampaknya merasa puas.
"Iya, Pak. Rasanya lahan sanggar ini saja sudah cukup luas untuk dijadikan toko. Jadi kalau bisa pundenya tidak usah."
"Wah! Tidak bisa begitu to, Bu Lurah. Kesepakatan awal, kan, punden itu mau dijadikan toko agen kelontong dan sanggar ini toko bangunan."
"Ingat, Bu. Handphone baru Bu Lurah itu siapa yang ngasih?" Pak Candra menimpali perkataan Pak Yudi, bibirnya tersenyum penuh arti.
Belum sempat Bu Lurah merespons, tiba-tiba hujan turun bagai air tumpah disertai angin kencang. Mereka lari tunggang-langgang ke teras sanggar. Tidak hirau pada air yang menetes-netes dari rambut ke wajah, ketiganya menatap syok ujung-ujung pohon bambu yang terombang-ambing oleh dahsyatnya angin, bahkan ada beberapa yang seperti mengangguk-angguk, ujungnya melengkung hampir menyentuh tanah.
Fenomena aneh semakin aneh ketika sayup-sayup terdengar suara gamelan mengiringi suara perempuan menembang. Berpikir itu suara dari tape recorder, Bu Lurah buru-buru melongok ke dalam sanggar dan terkejut setengah mati hingga rasanya kaki tidak lagi menginjak bumi.
Nyai Bibet berdiri tepat di depan pintu, tersenyum anggun, tetapi tatapan matanya menakutkan.
Berdiri terpaku seperti beku, Bu Lurah merasakan seluruh tubuhnya sangat ringan, rasanya seperti mengambang.
Pak Candra masih terpukau oleh gerakan pucuk-pucuk pohon bambu yang seperti sedang bermain akrobat, sedangkan Pak Yudi mulai menyadari ada yang aneh pada Bu Lurah.
Pria itu menghampiri dan hanya bisa mengernyitkan dahi saat melihat anak-anak dan Ningsih terus asyik menari, seperti tidak terusik oleh hujan dan angin kencang yang sedang melanda. Dan ini, kenapa Bu Lurah hanya berdiri kaku seperti patung?
__ADS_1
[Bersambung]