
..."Perkara yang ada sangkut pautnya dengan perkara yang lain"...
Sigai dua segeragai. Siapa yang menyangka, permasalahan yang awalnya hanya mengenai pertentangan lahan sanggar dan punden yang akan disewakan, malah merambat ke dunia gaib, dan terhubung dengan kisah masa lalu para danyang.
Walaupun benci dan dendam masih tersimpan, tetapi Ki Tumenggung tidak bisa melanggar janjinya begitu saja. Dengan keris emas berlekuk tujuh, Ki Gopet sudah jelas jauh ada di atasnya. Dia tidak mau ambil risiko.
Junjungannya sudah menyerah, Mbah Taryo pun tidak mungkin melanjutkan. Masih banyak pelanggan lain yang membutuhkan jasanya, Pak Yudi dan Pak Candra pun sekarang dia abaikan. Akan tetapi, ambisi keduanya yang sudah terlanjur mendarah daging membuat mereka tidak mau menyerah begitu saja. Dua pria itu malah mendatangi dukun lain---salah satu dukun pesaing Mbah Taryo.
Hari Minggu, pukul sembilan pagi, kedua pria itu mendatangi Bu Lurah. Awalnya Bu Lurah terlihat baik-baik saja, percakapan pun berlangsung lancar. Namun, lama kelamaan perempuan itu terlihat aneh. Sering menatap kosong dan tidak merespons saat diajak bicara. Pak Yudi dan Pak Candra pikir, mungkin Bu Lurah sedang lelah dan mengantuk.
"Nanti siang, pasir dua trek datang, Bu Lurah. Dan untuk menebang pohon di punden, akan ada dukun sakti yang membantu."
Bu Lurah tidak merespons Pak Yudi yang berbicara penuh sangat antusias. Kepalanya menunduk dan terus menggeleng, tangan *******-***** di atas pangkuan.
Pak Yudi dan Pak Candra saling bertukar pandang, heran melihat sikap Bu Lurah yang sekarang malah seperti ketakutan.
"Bu Lurah, kenapa---"
"Pergi, pergi, pergi ...." Bu Lurah awalnya berbicara seperti sedang berhitung, kemudian berteriak, "Pergiii!"
Pak Yudi dan Pak Candra terlonjak kaget dan sebelum hilang rasa terkejut mereka, Pak Agung yang baru saja pulang dari makam Pak Padianto tergopoh-gopoh masuk.
"Sebaiknya bapak-bapak pergi." Pak Agung mendekati Bu Lurah untuk menenangkannya. "Jangan ganggu istri saya lagi."
"Tidak bisa begitu, to, Pak. Urusan kami sama Bu Lurah belum kelar."
"Pergi! Minggat sana!"
Parti tiba-tiba masuk sambil mengacung-acungkan kayu. Pak Yudi langsung bungkam dan hanya bisa terpaku.
"Kualat semua kalian nanti. Gara-gara ulah kalian, Mbah Danyang marah. Sawah kebanjiran bakal gagal panen. Lihat itu Bu Lurah,"---Parti menunjuk Bu Lurah menggunakan kayu. Sudah habis kesabaran dan sopan santunnya---"sakit kayak gitu sejak sanggar itu dibongkar! Kalian masih nekat mau menebang pohon di punden. Celaka, tenan!"
Parti selama ini hanya diam bukan berarti tidak tahu apa-apa. Dia tahu semua, tetapi takut bersuara. Sekarang dia sudah tidak tahan lagi.
Hari Minggu seharusnya dia juga tidak datang bekerja, tetapi karena melihat orang-orang itu datang, kemarahannya tidak bisa ditahan.
"Yu Parti, taroh, Yu. Jangan digerak-gerakan begitu kayunya."
Tidak menghiraukan Pak Agung, Parti kembali mengoceh, "Bapak-bapak ini mau pulang baik-baik atau perlu aku panggilkan warga untuk mengusir, huh?"
Ibu-ibu kalau sudah murka sangat mengerikan. Mata melotot, tangan satu berkacak pinggang dan yang satunya mengacung-acungkan kayu. Bahkan dua pria arogan seperti Pak Yudi dan Pak Candra pun mengkerut dibuatnya.
"Baik! Sekarang kami pergi, tapi pasti balik lagi. Karena kami sudah bayar uang sewa lahan itu." Pak Candra balas melotot pada Parti.
__ADS_1
Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk mempertahankan harga diri. Tidak mau terlihat gentar, padahal aslinya ngeri juga pada kayu yang terus diacung-acungkan Parti.
Brak
Lengan sofa dipukul sekuat tenaga, semua terlonjak kaget. "Mau seperti lengan sopa ini? Sini, Pak ...."
"Eladalah, wong edan! Ayo pulang, Kang Yud!"
Tidak perlu disuruh dua kali Pak Yudi malah berjalan lebih cepat mendahului Pak Candra.
"Perempuan di desa ini kayak setan semua ternyata." Sambil berjalan Pak Yudi menggerutu.
Setelah mereka pergi, Parti terkekeh canggung. "Maaf, Pak Agung. Saya kebawa emosi."
"Tidak apa-apa, Yu Parti. Terima kasih sudah dibantu ngusir."
"Kalau begitu Parti pamit, Pak."
Pak Agung tersenyum dan mengangguk. Setelah Parti Pergi, dia membawa Bu Lurah ke kamar.
Sepanjang hari ini, selain kejadian tadi pagi, semua berjalan baik-baik saja. Bu Lurah tidur nyenyak di kamar. Akan tetapi, saat makan malam tiba ....
"Pergi! Jangan mendekat!"
"Sri, kamu ini kenapa? Jangan sembrono mainan senjata tajam!"
"Pergi, jangan mendekat!"
"Iya, iya, iya, aku pergi. Tapi taroh dulu pisaunya---"
"Aku bilang pergiii!"
Bu Lurah maju sambil mengayun-ayunkan pisau, membuat Pak Agung lari terbirit-birit ke ruang tamu lalu mengunci pintunya.
Tidak berniat mengejar, Bu Lurah kembali masuk ke kamar, menutup pintu dan menguncinya, lalu duduk di sudut tempat tidur. Sejenak matanya melirik ke sana-kemari, seperti sedang memastikan tidak ada orang lain, lalu segera menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Sejak beberapa hari lalu, sikap Bu Lurah sangat aneh seperti itu. Saat di kantor desa juga lebih pendiam, sering termenung lalu tiba-tiba menutup mata menggunakan kedua tangan, badan gemetaran, dan bila disentuh menjerit-jerit histeris.
Arogansinya lenyap tidak tersisa. Terkadang saat ditanya jawabannya malah seperti sedang meracau, mata menatap kosong dan mulut mengoceh, bukan aku, bukan aku, bukan aku. Kalau sudah seperti itu kemudian dia akan menjerit histeris berteriak, pergi, pergi, pergi!
Bu Lurah kembali menjadi topik hangat, di mana ada orang berkumpul, yang dibahas pasti Bu Lurah. Mereka mengaitkan sikap aneh perempuan itu dengan pembongkaran sanggar. Intinya, mereka beranggapan kalau Bu Lurah itu terkena kutukan, kualat, karma.
"Kasihan Pak Agung, tidak makan nangkanya, tapi kena getahnya."
__ADS_1
Bahkan di keluarga Pak Wahyu pun, topik tentang Bu Lurah menjadi teman saat makan bersama.
"Tidak bermaksud menyalahkan, tapi kenyataannya dia itu memang salah, Buk. Sebagai suami seharusnya lebih tegas, bukan malah lembek dan selalu mengalah."
Pak Wahyu memang sedikit memiliki sentimen pada Pak Agung, karena secara tersirat suami Bu Lurah itu pernah mencoba mendekati Ningsih. Ya, walaupun sekarang sudah tidak pernah lagi.
"Eeee, Bapak ini. Namanya juga sayang sama istri."
"Sayang istri, ya, tidak harus begitu. Sayang itu, ya, seharusnya mengarahkan. Nak Jati, kalau nanti punya istri jangan sampai seperti itu dan cari istri yang baik ...."
Jati yang sedari tadi hanya jadi pendengar sambil terus makan, langsung tersedak karena namanya tiba-tiba disebut. Ningsih buru-buru memberinya minum.
Jati tidak mau merepotkan Pak Wahyu---mengantar makan hampir setiap malam---akhirnya pria muda itu memutuskan biar dia saja yang datang. Makan bersama di keluarga Pak Wahyu, Jati merasa seperti berada di tengah keluarga sendiri.
"Bapak ini apa-apaan, to?" Ningsih menegur bapaknya. "Orang, kan, beda-beda. Contohnya saja Bapak sama Ibu. Karena Ibu tidak neko-neko makanya Bapak juga tidak perlu mengarahkan. Dapat pasangan yang bagaimana, kan, kita tidak bisa milih juga, Pak."
"Hem ... benar itu. Dengarkan kata Dek Ning itu, Pak Wahyu."
Jati mengerling jahil pada Ningsih. Niatnya, sih, sembunyi-sembunyi, tetapi ternyata Ningsih melihatnya. Sedikit tersipu, senyum tipis saja lesung pipi gadis itu sudah terlihat.
"Ya, memang benar, to, Mas."
Senyum Jati terkulum bersama makanan yang ada di mulut. Senang rasanya melihat wajah manis itu sudah cerah lagi.
Rasa sedih karena sanggar telah dibongkar tidak bisa hilang begitu saja, tetapi paling tidak, sekarang Ningsih sudah bisa lebih menerima.
Gadis itu kini menjadikan beranda rumahnya sebagai pengganti sanggar. Ada atau tidak ada sanggar, latihan menari tetap harus jalan. Sebentar lagi panen raya tiba, entah bagaimana pun hasil penennya nyadranan tetap wajib diadakan. Dan niat Ningsih untuk mengadakan pentas seni sama sekali tidak berubah.
"Oh, iya, besok Jati tidak bisa datang untuk makan malam."
"Ada operasi lagi?"
"Tidak ada, Pak Wahyu. Jati mau pulang ke Panjuran. Ada acara syukuran di rumah."
"Kalau begitu ibu titip sesuatu untuk ibunya Nak Jati."
"Bu Rusmini tidak usah repot-repot."
Adat orang desa, kalau ada yang punya hajatan pasti akan ikut menyumbang. Dan itulah yang hendak dilakukan Bu Rusmini.
Menolak pun percuma, toh, pada akhirnya saat berpamitan di tangan Jati ada satu kantong kain berisi penuh bahan makanan sembako.
[Bersambung]
__ADS_1