
Acara pembelian ruko pun berjalan lancar, evan yang baru pertama kali meminjam uang dari bank pun tudak mengalami kesulitan karena ada rekomendasi dari bu marni. Pak kosmara pun pamitan, mau mengurus prosedur pemindahan ibunya.
" ibu, nak evan, nak nazwa saya pamitan pulang dulu mau pergi ke rumah sakit mengurus ibu, terimakasih sudah bersedia membeli ruko saya ini, semoga ruko ini membawa rezeki dan keberkahan untuk keluarganya." kata pak kosmara
" terimakasih pak, begitu juga untuk bapak, semiga ibunya bisa cepat sembuh." kata bu marni, mereka pun bersalaman dan pak koswara pergi meninggalkan ruko tersebut.
" sekarang ruko ini sudah menjadi milik kalian, terus mau diapakan ruko ini selanjutnya." kata bu marni memberikan arahan kepada evan dan nazwa
" kemungkinan besar aku mau renovasi dulu bu, barangkalai ibu ada orang design interior." kata evan
" iya sudah kalau begitu, nanti ibu hubungi orang design interior yang biasa perusahaan pakai. Oh iya kalian habis ini mau kemana." jawab bu marni
" kemungkinan kita cari makan dulu, baru aku mau ke rumah sakit, soalnya tadi janji ke pak koswara mau menyembuhkan penyakit ibunya." kata evan
" iya sudah kalau begitu, ibu mau menyelesaikan ketjaan di pabrik DFG dan sekalian mengambil bahan bahan obat untuk kamu." kata bu marni, mereka pun berpisah disana, bu marni pergi pabrik DFG, sedangkan evan dan nazwa pergi mencari restoran untuk makan siang. Sesampainya di restoran evan dan nazwa sama pak johan memesan makanan.
" kak aku ikut kerumah sakit ya, nanti aku bisa tunggu di ruangan kakak." kata nazwa
" boleh sayang, tapi apa kamu enggak akan bosen." jawab evan
" aku bisa baca baca buku dan main games aja kak." kata nazwa memberitahukan kegiatan pa nanti di rumah sakit. Makanan yang di pesan pun tiba, mereka makan makanan yang tadi mereka pesan. Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. 40 menit kemudian mereka tiba di rumah sakit, evan mengajak nazwa ke ruangannya, sebelum masuk ruangannya evan di tegur sama perawat yang ada disana " tumben dokter datang, soalnya belum ada laporan untuk dokter lakukan." kata perawat yang biasanya dia menjadi asisten evan kalau sedang mengobati.
__ADS_1
" saya ada janji sama keluarga pasien, sekarang sedang mengurus rujukan untuk ibunya dibawa ke rumah sakit ini. Kalau pasien tersebut sudah tiba kabari saya ya, saya masuk dulu keruangan." jawab evan. " baik dok.". Evan dan nazwa masuk keruangannya. Sesampainya di dalam nazwa langsung bertanya " itu tadi siapa kak.".
" dia perawat di rumah sakit ini dan dia yang biasa bantu bantu aku memeriksa pasien." jawab evan
" cantik ya perawatnya, pasti asyiiik ditemani setiap mengobati pasien." kata nazwa sambil cemberut, dia merasa cemburu
" cantikan kamu sayang, lagian aku juga enggak minta dia jadi asisten aku, pak handoko yang mengaturnya." kata evan, lalu merangkul nazwa
" gombal ah..." ketus nazwa
" beneran sayang, kamu cantik primadona sekolah...oh iya sayang kamu fikirkan mau seperti apa ruangan kamu di apotik dan rumah perawatan kecantikan nanti, supaya bisa menjadi ide orang design interior." kata evan
Tok......tok........tok
" iya masuk, enggak dikunci.," kata evan, pintu ruangan itu pun terbuka, masuklah perawat tadi yang menegurnya.
" dokter, pasien yang tadi dokter katakan sudah ada di IGD." kata sang perawat
" iya sebentar saya akan kesana, terimakasih atas informasinya." kata evan
" baik dok, saya akan mempersiapkan kebutuhan dokter." kata sang perawat. Evan pamitan ke nazwa untuk mengobati setelah mengganti baju dokternya. Evan kelyar ruangan lalu.mengajak sang perawat tadi untuk ke tuangan UGD.
__ADS_1
Sebelum masuk ruangan UGD evan bertemu pak koswara, rvan meminta catatan medis ibunya pak koswara. Srtelah itu evan masuk ke ruangan UGD, di dalam ruangan evan melihat seorang ibu yang sedang menahan rasa sakit. Evan menghampiri sang pasien lalu memeriksa denyut nadi sang pasien. Di pikiran evan terpangpang penyakit apa yang diderita pasien dan bagaimana cara mengobati penyakit tersebut. Evan melihat bahwa pasien menderita penyakit lambung akut dan sisa operasi kanker itu semua tercatat di rekam medis sang pasien.
Evan memberikan energi untuk meningkatkan vitalitas sang pasien. Evan mensterilkan jarum akupunturnya setelah itu evan menusukan jarum jarum yang tadi disterilkan ke tubuh sang pasien. Setelah beberapa detik jarum jarum itu bergetar, Rasa hangat di perut membuat pasien menjadi nyaman, dia belum pernah merasakan kenyaman itu sejak lama. Wajah sang pasien yang tadinya terlihat menahan sakit sekarang sudah terlihat ceria. Evan mencabut jarum jarumnya lalu mensterilkan kembali dan menyimpannya di tas yang dia selalu bawa. Evan memberikan pijatan di telapak kaki sang pasien. Lalu Evan memberikan instruksi kepada perawat untuk menyiapkan obat produk DFG, perawat itupun meminta obat tersebut ke bagian apotik. Setelah hampir 30 menitan sang pasien sadar, perawat itu pun meminumkan obat yang diminta evan.
" bagaimana rasanya bu sekarang." tanya evan
" alhamdulillah nak, ibu merasa jauh lebih baik, biasanya ibu merasakan sakit di perut ini seperti dipelintir, sekarang di perut saya merasa hangat membuat nyaman, hal ini sudah lama saya tidak merasakannya." kata sang pasien
" syukur kalau begitu bu, kalau begitu saya permisi dulu, nanti perawat akan membantu ibu memeriksa kondisi ibu lebih lanjutnya." kata evan pamitan mau istirahat ke ruangannya dan karena ada nazwa disana
setelah evan pamitan sang pasien bertanya kepada perawat yang ada disana.
" suster tadi itu siapa ya, kok masih muda, apa jangan jangan saya sudah meninggal." kata sang pasien lalu mencubit dirinya, terasa sakit di tangan yang dia cubit tadi. " uuuuh...sakit."
" ibu enggak sedang mimpi ini nyata bu, tadi itu dokter evan yang menyembuhkan ibu, memang dia masih sangat muda tapi keahlian dia sangat baik bahkan diakui dr. Helmi dokter senior disini." kata perawat yang melihat tingkah sang pasien.
" uuhh dikara saya tadi, dia sedang membantu disini ternyata dia dokter..coba saya punya anak gadis, saya mau menikahkan dia dengan dokter muda itu. Berapa memang umurnya." kata sang pasien
" dia baru 19 tahun bu, saya juga mau bu kalau dia mau ke saya, tapi dia sudah bertunangan. walaupun dia belum pernah mengecam pendidikan kedokteran dia sudah memiliki surat izin praktek kok bu, bahkan yang merekomendasikan surat izin praktek tersebit pejabat kesehatan yang berwenang untuk mengeluarkan izin tersebut." kata perawat itu
" ayo bu kita lakukan pengecekan kembali kondisi ibu, supaya ibu bisa lekas pulang." lanjut perawat, lalu dia dibantu temannya untuk memindahkan sang pasien ke ruangan pemeriksaan selanjutnya.
__ADS_1