You Are Mine

You Are Mine
Ekstra Part 8


__ADS_3

“Pagi, Ayah.” Bia berucap riang sembari turun dari tangga.


Bocah remaja yang tengah menduduki kelas dua SMP itu duduk di samping ayahnya yang tengah membaca koran elektronik dari ponselnya setelah mencium pipinya sekilas.


“Pagi, Bia,” balas Banyu seraya memasang senyumnya.


Bia merasa sangat bahagia melihat senyum manis sang ayah. Mengingat kejadian kemarin, Bia merasa itu adalah mimpi buruk. Bahkan mimpi paling buruk dalam hidupnya. Tak pernah terbayang oleh Bia, ayahnya akan sangat marah atas kelakuannya.


Banyak yang Bia pelajari dari hari kemarin. Yaitu, menghargai. Bia kemarin berpikir, apa yang ia lakukan bukan hal yang salah, karena ia tahu, mamanya tidak pernah marah jika Bia memasak mi instan di saat mamanya memasak makan malam. Namun, ternyata hal itu tanpa Bia sadari merupakan sesuatu yang bisa saja membuat seseorang kecewa.


“Ata mana, Bi?” tanya Caca yang datang dari arah dapur membawa satu piring bakwan goreng.


“Nggak tahu, masih tidur kali. Kak Ata kan susah dibangunin,” jawab gadis remaja itu santai.


“Bangunin kakak lo dulu sana! Kasihan entar telat lagi sekolahnya,” perintah Caca pada adik bungsunya.


“Ogah ah, males. Capek naik tangga lagi,” tolak Bia.


“Lebai, lo! Cepet lo bangunin kakak lo, atau nanti nggak ada yang bakal jemput lo sekolah!” ancam Caca dengan sorot mata tajam. Sorot mata yang sama dengan ayahnya.


“Naik ojek online masih bisa, ya. Sorry.”


Caca sangat kesal mendengar jawaban adik bungsunya. Hingga akhirnya gadis itu merengek pada sang ayah.


“Bia, bangunin Kak Ata. Kak Caca dari pagi bantu mama kamu masak. Masa kamu disuruh gitu aja nggak mau,” tutur Banyu pada putri bungsunya itu.


Tanpa menjawab, Bia beranjak dari duduknya dan kembali ke lantai dua untuk membangunkan Ata.


**

__ADS_1


“Ca,”


Caca mengangkat kepalanya untuk menjawab panggilan sang ayah. Mulutnya yang masih penuh dengan makanan membuat gadis itu hanya bisa bergumam.


“Ayah pengen deh kalau kamu bantu Ayah ngurus salah satu kafe Ayah.”


Uhuk! Uhuk!


Caca tersedak mendengar penuturan Banyu. Ia langsung meminum air putih yang telah disodorkan oleh ibunya.


“Mana aku bisa sih, Yah?” tanya gadis itu merendah.


“Pasti bisa. Kan kamu anak ayah. Ayah dulu bisa, kok–”


“Ya, beda dong, Ayah,” tukas Caca.


“Tapi, Yah–”


“Gini deh. Ayah kasih kamu waktu tiga hari untuk berpikir. Nanti kalau kamu setuju, kamu bertugas di kafe yang deket sama kampus kamu. Jadi, nanti enak. Lokasinya nggak jauh-jauh banget.”


Caca terdiam sejenak, mencoba memikirkan tawaran ayahnya. Ia pun mengangguk untuk berpikir selama beberapa hari dulu.


Terlalu banyak pertimbangan yang ada di kepala Caca sampai membuat gadis itu bimbang. Ia masih muda, masih banyak yang ingin Caca lakukan selain bekerja. Ia ingin jalan-jalan seperti temannya yang lain. Ia masih ingin bebas. Jika Caca bekerja, tentu saja semua itu harus Caca jauhkan dari daftar list hidupnya. Tapi, jika menolak Caca takut akan mengecewakan ayahnya.


**


“Kamu beneran mau minta Caca bantu kamu di kafe?” Jingga bertanya pada Banyu saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil.


Hari ini Banyu akan mengantarkan Jingga untuk seminar ke luar kota. Tugas dari rumah sakit yang tidak bisa Jingga abaikan membuat Banyu mau tak mau harus menemani wanita itu.

__ADS_1


“Bukannya semalem kita udah ngobrolin ini?” Bukannya menjawab Banyu malah balik bertanya. Ia menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya keluar dari pekarangan rumah. Hari sudah semakin siang dan Banyu tidak ingin terjebak macet.


“Ya, tapi kayaknya Caca belum bisa deh, Yah, kerja. Lagi pula dia masih kuliah semester satu. Kasihan kalau dia kehilangan waktu sama teman-temannya.”


“Aku malah lebih kasihan kalau dia banyak main. Aku tahu, kok, dia pasti bisa. Dia itu anak aku, aku tahu apa yang terbaik buat dia. Nggak harus setiap hari juga ke kafe.” Banyu menoleh sejenak kepada istrinya.


“Tapi nanti tugas dia gimana coba? Kalau keteteran gara-gara kerja, pasti dia bak–”


“Ma, udah ya. Aku lagi nyetir, dan aku nggak mau pagi-pagi berantem sama kamu. Kita lihat keputusan Caca nanti. Kalau dia setuju, aku bakal bawa dia ke kafe untuk bantu-bantu aku. Tapi, kalau dia nolak aku nggak akan maksa.”


Banyu menyugar rambutnya yang telah memutih dengan sebelah tangan. Ia paling tidak bisa cekcok dengan Jingga. Meskipun hal tersebut tak akan pernah bisa terelakkan dari kehidupan mereka. Namun, Banyu tetap berusaha untuk mengerti dan memosisikan diri sebagai wanita itu.


Pria berusia hampir setengah abad itu menoleh pada istrinya yang tiba-tiba diam. Wanita itu menunduk dalam. Tangan Banyu terulur mengusap kepala Jingga penuh kelembutan sambil berkata, “Maaf, ya. Aku janji nggak akan maksain keputusan aku. Aku cuma mau kasih yang terbaik buat Caca. Tapi, kalau dia sendiri nggak mau, aku nggak akan pernah maksa lagi.”


Jingga mengangkat kepalanya, menatap wajah sang suami yang tengah fokus menatap jalanan. Jingga menghela napas dalam, mengembuskannya secara perlahan.


“Maaf, ya, Yah. Aku nggak bermaksud buat manjain anak-anak. Menurut aku persetujuan mereka tetap yang utama. Kamu pasti tahu,” tuturnya lirih.


Senyum kecil Banyu terukir kecil. Ia tautkan jemarinya dengan jemari sang istri, kemudian mengecupnya sekilas sebelum kembali fokus pada jalanan.


“Iya, Mama sayang. Aku paham, kok.”


Senyum mereka sama-sama terukir. Jingga senang, Banyu selalu bisa mengerti bagaimana keinginannya. Selalu dapat diandalkan. Tak pernah melakukan sesuatu tanpa perhitungan yang matang. Sehingga tanpa diminta Banyu bisa memberikan yang terbaik untuk keluarganya.


***


Yang nunggu Abimanyu sabar dulu, ya. Aku udah nulis tapi masih dapet setengah. Masih bingung, meskipun nggak tahu yang dibingungin apa wkwk.


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2