You Are Mine

You Are Mine
Ekstra Part 6


__ADS_3

Langit telah menggelap. Bulan tampak bersinar teduh. Menemani manusia dalam meraih kenikmatan malam.


Jingga tampak tenang menyeduh secangkir kopi. Ia mengaduk cairan tersebut sebelum membawanya ke kamar dan memberikannya pada sang suami.


Tak terasa baginya sudah dua puluh tahun ia bersama Banyu. Seseorang yang tak pernah ia duga akan mendampingi hidupnya. Seseorang yang tak pernah ia kenal sebelumnya.


Perkenalan yang cukup singkat bagi pasangan yang akan menikah, tak akan pernah Jingga lupakan. Dua minggu lamanya ia mengenal dan berakhir menjadi istri Banyu. Melewati suka duka bersama, meskipun belum saling cinta.


Jingga kembali tersenyum mengingat bagaimana dulu Banyu bersabar menanti cintanya. Cinta yang dulu masih melekat pada seorang pria yang kini malah menjadi suami sahabatnya sendiri.


Emosi yang dulu pernah sama-sama mereka rasakan dalam diam, lambat laun terungkapkan. Rasa cemburu masing-masing membawa mereka dalam sebuah rumah tangga yang hampir sempurna.


Saling menautkan hati dan janji untuk terus hidup bersama, membawa Jingga menjadi wanita dewasa sebelum usianya. Membuat Jingga harus ekstra mengerahkan akal dan pikiran untuk tetap menjaga batasan saat tak bersama suaminya.


Saling menguatkan saat dalam keterpurukan tak akan pernah Jingga lupakan. Kala penantian yang cukup panjang harus berakhir sia-sia. Namun, juga membawa satu cinta yang tak pernah terduga.


Bibir wanita paruh baya itu rasanya tak bisa berhenti mengukirkan senyuman. Mengingat masa lalu dan melihat masa sekarang membawa banyak kebahagiaan.


Lamunan Jingga buyar saat sepasang tangan merengkuh pinggangnya dari belakang. Aroma cendana yang menjadi favorit Jingga menguar begitu saja, menusuk indra penciumannya. Membuat ulasan senyum kecil itu berubah lebar dalam sekejap. Tanpa mengalihkan pandangan tentu saja ia tahu, siapa pelakunya.


"Hih, ngagetin deh," keluh Jingga. Bukannya marah, wanita itu malah tersenyum semakin lebar.


Satu kecupan di pipinya mendarat begitu saja, membuat mata Jingga melebar dan berubah awas menatap sekitar.


"Ih, nanti kalau ada anak-anak gimana?"

__ADS_1


Banyu terkekeh. Lagi-lagi ia mendaratkan bibirnya pada pipi wanita itu.


"Ini masih jam tujuh, anak-anak masih belajar di atas," jawab Banyu tanpa beban.


Jingga mendengkus. "Siapa coba yang tahu mereka akan turun kapan? Bisa aja kan mereka tiba-tiba turun, karena haus," balas Jingga. Wanita itu meletakkan sendok kecil yang berada di tangannya ke atas meja pantry.


"Ini kopi kamu udah jadi," ucap wanita itu pada sang suami.


"Makasih, Mama Sayang," jawab Banyu. Namun, ia sama sekali tak beranjak dari belakang istrinya.


"Nggak nyangka, ya. Kita udah bersama selama dua puluh tahun?" ucap Jingga. Ia melirik suaminya sekilas.


"Iya, aku juga nggak nyangka umurku udah tua banget," kelakarnya membuat Jingga tertawa kecil.


Wanita itu membalik diri. Menatap suaminya dari atas hingga bawah sambil mengusap bahunya yang masih terlihat kekar.


"Uban kamu udah berapa lembar ini, banyak banget," gurau Jingga. Ia menyibak rambut suaminya dan memindai beberapa helai rambut Banyu yang memang sudah banyak yang berubah.


"Tapi, tetep ganteng kan?" Banyu menaikturunkan alisnya.


Jingga tertawa. Dilihat dari segi manapun Banyu tetap terlihat tampan. Tak ada yang berubah, kecuali helaian rambut dan beberapa jenggot yang sesekali tumbuh dengan sendirinya.


"Iya, dong. Kamu tetep ganteng," jawab Jingga tanpa malu.


Banyu menatap manik mata sang istri, dalam. Menatapnya dengan sorot penuh cinta yang sampai kapan pun tak akan pernah pudar. Perlahan ia mengusap wajah wanita yang telah melahirkan ketiga anaknya itu dengan lembut.

__ADS_1


Memutar ulang memorinya, Banyu tersenyum sendiri mengingat bagaimana dulu ia dengan mudah mencintai wanita itu. Wanita yang ia kenal hanya dalam waktu singkat. Namun, bisa memorak-porandakan jiwanya.


Mengingat bagaimana dulu ia begitu cemburu dengan mantan kekasih wanita itu. Banyu terkadang menertawakan dirinya sendiri mengingat masa lalunya dan sang istri. Betapa kekanakannya ia dulu untuk mengambil hati Jingga. Tapi, ia jelas berbangga hati, karena nyatanya wanita itu kini benar-benar menjadi miliknya.


"Aku mencintaimu," ucap Banyu tiba-tiba.


Jingga mengerutkan kening mendengarnya. Ada senyum geli yang sangat jelas ia tahan.


"Udah ih, malem-malem jangan gombal. Tuh kopinya udah dingin!" Jingga kembali membalik tubuh menghadap pada pantry dan mengambil cangkir berisi kopi dan memberikannya pada sang suami.


Banyu hanya tersenyum, kemudian meraih cangkir tersebut. Istrinya itu selalu saja berhasil merusak kesenangannya. Ia pun lekas berbalik dan ingin keluar dari dapur. Namun, langkahnya sejenak terhenti mendengar apa yang Jingga ucapkan.


"I love you too, Ayah Banyu,"


Seketika Banyu meletakkan cangkir kopinya dan menangkap tubuh sang istrinya. Satu kecupan Banyu berikan pada kening istrinya. Cukup lama hingga suara dehaman dari tiga orang membuat mereka terlonjak.


"Udah mesra-mesraannya. Di-cancel dulu. Itu kopinya dingin," ucap Ata dengan cukup lantang. Namun, tak lama kemudian Ata dan kedua saudaranya berlari ke luar dapur setelah mendapatkan satu sorotan tajam dari ayah.


"Anak kamu, tuh. Nggak tahu orang lagi seneng apa?" sungut Banyu kesal.


"Itu anak kamu kali, Mas. Kan jailnya mirip sama kamu," balas Jingga seraya berjalan meninggalkan suaminya.


Banyu menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya bergumam, "Iya juga, ya."


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2