You Are Mine

You Are Mine
Part 35


__ADS_3

Menyelami kehidupan dunia memang tidak mudah. Ada kalanya kita akan tertawa, ada kalanya juga kita akan menangis.


Yang paling pokok saat kita mengetahui apa itu kehidupan, kita harus ekstra bersabar. Harus ikhlas dan berusaha menerima apapun yang terjadi.


Segala yang terjadi telah ditakdirkan oleh Tuhan. Telah diatur dan tak akan pernah mengecewakan. Kita hanya harus berusaha dan berdoa agar hidup kita lebih baik kedepannya.


Jingga menatap sendu pada anak-anak yang sedang asik bermain, berlari ke sana kemari sembari menikmati beberapa makanan yang Banyu bawa.


Bukan, bukan dibawa. Tapi sebelum berangkat kemari Banyu telah memesan berbagai macam snack dan menyuruh seseorang untuk membawanya kemari menggunakan mobil box.


"Kamu masih ingat, tadi kita melewati jalan yang masih banyak ditumbuhi pohon?." Jingga mengalihkan pandangannya pada sang suami. Ia mengangguk.


"Aku menemukan Icha di sana, empat tahun lalu." Ungkapan Banyu membuat Jingga terperangah tak percaya. Bagaimana bisa?


"Saat itu aku ingin mengunjungi panti, dan aku terpaksa berhenti di sana karena ada telepon. Saat itu juga aku mendengar tangisan bayi. Lalu, aku membawanya kemari." Banyu menghela napasnya pelan. Ia tatap wajah kecil bocah perempuan yang ia beri nama Amreesha Kalyna atau kerap disapa Icha.


"Setelah itu aku merawatnya di sini bersama ibu dan anak-anak panti yang lain. Setiap hari aku kemari untuk melihat perkembangannya. Aku juga memberinya fasilitas layaknya anakku sendiri." Banyu tersenyum mengingat kenangannya dulu bersama Icha. Tapi tiba-tiba senyumnya mereda. Ia mengembuskan napasnya pelan. "Tapi, saat dia mulai menginjak usia satu tahun, dia mengalami demam tinggi dan kejang selama beberapa hari."


Jingga memperhatikan suaminya. Ada raut sedih yang begitu mendalam.


"Aku membawanya ke rumah sakit milik kakek. Dan saat itu juga aku merasa duniaku hancur. Dokter memvonis Icha mengidap leukemia." Banyu menundukkan kepalanya. Mengingat apa yang telah terjadi pada Icha mengalirkan kesedihan pada Banyu saat itu juga.


Dengan gerakan lembut, Jingga mengusap punggung suaminya. Ia tahu bagaimana rasanya. Pasti sangat sakit. Apalagi Banyu merawat gadis cantik itu dengan penuh kasih sayang, layaknya putrinya sendiri.


Banyu mengusap pipinya yang terasa basah. Ia mendongak menatap Icha dengan sendu. "Sejak saat itu juga, aku memperlakukannya berbeda dengan yang lain. Meskipun begitu mereka tidak iri. Aku dan ibu sudah memberikan mereka pengertian tentang apa yang tengah Icha alami. Dan mereka mengerti." Banyu tersenyum melihat istrinya yang juga tengah menatapnya.


"Sejak Icha mulai belajar berbicara aku mengajarinya untuk memanggilku ayah dan memanggil Celin bunda. Karena saat itu Celin selalu ikut denganku kemari."


Jingga terdiam, merasakan sesuatu yang terasa meremas hatinya. Ada perasaan sakit saat Banyu dengan gamblang mengatakan Icha memanggil Celin dengan sebutan bunda.


"Ayah ... "


Pandangan Jingga beralih pada gadis kecil berwajah pucat. Ia memperhatikan gadis itu berjalan kearahnya dan Banyu dengan langkah lemah.


"Ayah lihat, aku bisa menghabiskan es krim ku dengan cepat." Ia menunjukkan cup es krim yang telah kosong pada Banyu.

__ADS_1


"Wah anak ayah pintar sekali." Banyu meraih bocah berusia empat tahun itu untuk duduk di pangkuannya. "Icha rindu ayah?" tanya Banyu sembari menggoyangkan hidungnya pada pipi gadis itu.


Gadis itu memeluk leher Banyu. "Ya, tentu saja aku sangat merindukan Ayah." Ia menunjukkan senyum manisnya pada Banyu. "Yah, kemarin bunda ke sini nemuin Icha. Bunda beliin Icha krayon sama buku gambar." Bocah kecil itu menceritakan apa saja yang Celin lakukan kemarin saat kemari.


"Kenapa Ayah tidak ikut Bunda kemarin?" tanya bocah itu tiba-tiba.


Banyu tersenyum sebelum menjawab. "Ayah dan bunda tidak bisa berangkat bersama sekarang. Karena ada suatu alasan yang Icha tidak akan mengerti."


Bocah kecil itu hanya mengedip lucu mendengarkan penjelasan Banyu. Ia kemudian menoleh pada sosok wanita asing di samping ayahnya.


"Ini siapa Ayah?"


Banyu memandang Jingga. "Ini istri Ayah." Ia kembali tersenyum pada Icha.


"Istri? Apa itu istri?" tanya bocah itu dengan polos.


Banyu terkekeh. "Istri itu orang yang mendampingi Ayah kemanapun Ayah pergi, dan akan menjadi ibu dari anak-anak Ayah."


"Hai Icha," sapa Jingga membuat gadis kecil itu menoleh.


"Perkenalkan, nama tante, Jingga. Icha boleh panggil tante, Mama"


"Kamu yakin?" tanya Banyu meyakinkan. Ia tersenyum lega saat Jingga mengangguk dengan penuh keyakinan.


Berbeda dengan reaksi Banyu. Bocah itu malah mengernyitkan dahi dengan alis tertaut. "Kenapa aku harus panggil tante dengan mama?." Gadis cantik itu tentu saja bingung, karena setahunya ia sudah memiliki ibu yang tak lain adalah Celin.


"Kan tante istrinya ayah Banyu. Jadi sekarang tante mamanya Icha juga."


"Icha kan udah punya bunda!"


Jawaban itu sedikit menggores perasaan Jingga. Ia istri Banyu, tapi wanita lain yang mendapat panggilan ibu dari seorang anak yang memanggil suaminya ayah.


"Icha nggak seneng punya dua ibu? Mama Jingga itu juga baik loh, cantik juga. Lebih cantik dari bunda malah." Banyu mencoba membujuk putri angkatnya. Ia tidak ingin ketulusan hati istrinya tercampakkan begitu saja. Ia tahu, mungkin istrinya tengah cemburu. Hati mana yang tahan mendengar nama wanita lain yang sejak tadi disebut-sebut. Terlebih lagi wanita itu mantan pacarnya.


Bocah perempuan itu menatap ayahnya. Mulai berpikir, apakah ia akan setuju untuk memanggil wanita di hadapannya ini dengan sebutan mama. Ia beralih menatap Jingga. Sebagai anak kecil, ia dapat melihat tatapan tulus Jingga. Hatinya tiba-tiba menghangat begitu saja. Sepertinya ayahnya benar, Jingga adalah orang baik seperti ayah dan bundanya. Ia pun mengangguk setuju untuk memanggil Jingga mama. Meskipun hatinya masih lebih menyanyangi bunda Celin.

__ADS_1


Mendapatkan respon begitu positif dari Icha membuat Jingga merasa begitu senang. Tanpa sadar ia memeluk Icha dan menciumi pipi gadis itu sebagai bentuk terima kasih. Setelahnya Jingga mengajak Icha untuk bermain. Mencoba untuk melakukan pendekatan. Tidak hanya dengan Icha, Jingga juga mengajak seluruh anak panti untuk bermain bersamanya.


Ada rasa yang tak bisa diungkapkan saat bertemu dengan mereka. Perasaan sedih menjalari seluruh tubuh Jingga. Dalam hati ia bertanya, bagaimana bisa seorang ibu atau ayah membuang anaknya sendiri. Di mana perasaan mereka sebenarnya. Untuk apa mereka 'berhubungan' jika pada akhirnya membuang anak mereka.


Jingga bersyukur, meskipun ibunya tak pernah memberikan kasih sayang, setidaknya ia tidak dibuang seperti Icha. Ia masih bisa merasakan sebuah rumah meskipun terlalu banyak kesunyian. Ia bisa mendapatkan fasilitas yang layak untuk hidup. Dalam waktu yang sama, Jingga merasa bangga pada anak-anak panti seperti mereka. Mereka tetap bersyukur meski kehidupan mereka berada di sini. Tetap tersenyum meski lara hati pasti terpatri. Suasana ramai dari luar mungkin hanya sebagai pelipur lara. Tak ada yang tahu bagaimana isi hati mereka. Dan Jingga berharap, suatu saat mereka dapat menemukan keluarga yang baik untuk merawat mereka suatu hari nanti.


Dilain sisi, Banyu berbincang dengan Ana.


"Bu, aku harap Ibu tidak lagi menyebutkan nama Celin di depan istriku. Apa Ibu tidak berpikir itu sangat menyakitinya. Ia juga seorang wanita biasa. Meskipun dia terlihat biasa saja, aku yakin hatinya begitu perih mendengar nama mantan kekasihku disebut-sebut." Menghela napas lelah. "Aku tidak mau menyakiti dia, Bu. Aku harap Ibu bisa mengerti." Setelah mengatakan itu, Banyu pergi meninggalkan Ana.


...


Langit sudah hampir gelap. Banyu dan Jingga berpamitan pada anak-anak dan Ana untuk pulang.


Icha yang awalnya seperti cuek pada Jingga, akhirnya malah tak bisa lepas. Perlu waktu cukup lama untuk membujuk Icha agar mau ditinggal Jingga. Setelah Jingga menjanjikan banyak hal, gadis kecil itu akhirnya mau melepaskan mama barunya. Berjuta perasaan tak rela mengerubutinya, tapi ia tahan dan merelakan kepulangan ayah dan mamanya.


Tanpa sadar Jingga mendekap erat tubuh Banyu selama dalam perjalanan. Hatinya berbunga-bunga setelah apa yang terjadi hari ini. Banyak kata syukur yang ia ucapkan hari ini. Melihat mereka, ia merasa ada banyak hal yang harus ia rubah. Seperti kebiasaannya mengeluh, melamun, dan putus asa. Ia berjanji akan berusaha menjadi manusia yang lebih bermanfaaat kedepannya.


"Seneng banget kamu kayaknya, senyum-senyum sendiri gitu." Jingga tersentak mendengar suara Banyu ditengah keramaian jalan. Ia baru sadar tubuhnya dan Banyu sangat dekat. Jingga hendak sedikit menjauh, tapi ditahan oleh Banyu seperti tadi pagi. Jingga hanya bisa pasrah dan malah meletakkan dagunya pada pundak Banyu. Ia tersenyum kembali sembari memiringkan kepalanya menghadap Banyu.


"Kamu senang ketemu sama mereka?" tanya Banyu lagi setelah mereka berhenti pada lampu merah.


"Iya, seneng banget malah." Jingga kembali tersenyum. "Makasih, ya! udah ngajak aku ketemu sama mereka. Ada banyak pelajaran yang aku dapet dari mereka semua."


Banyu hanya membalas dengan senyuman. Kemudian tangannya terulur untuk mengusap kaki Jingga. Kebiasaannya saat bersama beberapa mantan kekasihnya dulu.


"Mas,"


"Hmm ... "


"Kenapa aku merasa Icha mirip seseorang."


Banyu sedikit menolehkan kepalanya. Setelah melajukan motornya Banyu bertanya, "mirip siapa?"


Jingga menggeleng. "Enggak tahu. Tapi aku merasa Icha mirip seseorang."

__ADS_1


Hening, tak ada jawaban dari Banyu. Hanya deru motor dan mobil yang tengah hilir mudik diantara mereka. Otak Banyu berpikir keras. Empat tahun ia merawat Icha, tapi ia tak pernah menemukan seseorang dengan wajah mirip bocah itu.


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2