You Are Mine

You Are Mine
Part 79


__ADS_3

Satu minggu kemudian Banyu dan Jingga resmi pindah ke rumah baru mereka. Keesokan hari setelah Banyu menunjukkan rumah tersebut pada Jingga, mereka memutuskan untuk segera menempati rumah tersebut.


Tak perlu memakan waktu hanya untuk sekadar pindahan, karena semua perabot sudah tersedia di sana. Mereka hanya tinggal membawa baju dan beberapa perlengkapan pribadi lainnya.


Malam ke-dua mereka di sana. Banyu mengadakan jamuan untuk para tetangganya sebagai ajang perkenalan sebagai warga baru.


Banyu sangat senang mendapatkan sambutan ramah dari para tetangganya. Ia bersyukur, Jingga juga bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar sana. Ibu-ibu di sana cukup ramah sehingga Jingga sendiri merasa begitu nyaman dengan lingkungan baru mereka.


***


Jingga melingkarkan tangannya pada lengan Banyu. Mereka melangkah beriringan menyapa beberapa orang yang mereka kenal.


Saat ini mereka berada di pesta resepsi pernikahan Kikan dan Deva. Sebagai sahabat, tentunya mereka bukan hanya hadir sebagai tamu. Mereka juga berperan sebagai penyambut para tamu yang kebanyakan adalah teman mereka.


"Banyu!" seru salah seorang gadis dari samping kiri mereka.


Jingga dan Banyu sontak menoleh pada sumber suara. Sejenak mereka menghentikan satu obrolan dengan salah satu kolega bisnis Deva yang kebetulan juga mengenal Banyu.


"Banyu, astaga! Gimana kabar kamu?" Rasa antusias itu sejenak membuat telinga Jingga sedikit risih.


Banyu berdeham, melirik istrinya yang tengah mengerutkan kening.


"Hai Cla, gue baik," jawab Banyu berusaha untuk tenang dan menjawab seadanya saja.


"Ya ampun. Akhirnya aku bisa ketemu kamu lagi setelah sekian lama," ujar seseorang yang diketahui bernama Clara. Gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai bak seorang model ternama.


Banyu tersenyum canggung. Ia kembali menatap istrinya yang saat ini pasti memiliki banyak pertanyaan di kepalanya.


"Ini ... temen SMA aku sama Deva," jelas Banyu pada istrinya. Tanpa harus disuruh pun Banyu memang harus segera menjelaskan siapa gadis itu pada istrinya.


"Temen?" Gadis itu tertawa lembut. Ia mengulurkan tangan pada Jingga, kemudian berkata, "Kenalin, gue Clara mantan pacar Banyu."


Ada rasa enggan saat mendengar kalimat terakhir gadis itu, membuat Jingga dengan berat hati menyambut uluran tangan tersebut sembari menyebutkan namanya.


Dalam kepalanya Banyu mengutuk Clara, karena telah menggamblangkan hubungan mereka dulu.


"Jadi, setelah putus dari Celin, kamu pacaran sama ...." Clara menatap Jingga dari atas sampai bawah. "Anak kecil?" Clara mengulum senyum gelinya. Terlihat dari gestur tubuh Jingga yang cukup mungil dan juga penampilannya yang masih terlihat seperti remaja. Siapa pun pasti akan menganggap Jingga seorang anak kecil di lingkungan para orang-orang dewasa seperti Banyu.

__ADS_1


"Ini istri gue," jelas Banyu pada mantan kekasihnya itu.


Clara menaikkan sebelah alisnya. "Lo udah married?" tanyanya bingung. Ia tentu saja tidak tahu bahwa Banyu sudah menikah. Beberapa tahun belakangan ini gadis itu berada di luar negeri dan baru kembali satu bulan yang lalu.


Banyu mengangguk santai. Tampak sekali raut kecewa dari Clara, namun Banyu tak acuh dan memilih untuk meninggalkan Clara setelah memberitahu gadis itu di mana Deva dan Kikan berada.


Setelah bertemu dengan Clara, Jingga tampak lebih sering diam. Sepertinya gadis itu merasa tidak nyaman dengan kemunculan mantan kekasih Banyu.


"Hei, kamu laper?" tanya Banyu. Ia sadar betul dengan gelagat Jingga yang tak mengeluarkan suaranya barang sedikit pun saat mereka hanya berdua.


Jingga menggeleng. Ia sama sekali tidak menatap Banyu.


"Kamu marah?" Banyu memberanikan diri untuk bertanya demikian. Ia tidak ingin wanita yang ia cintai ini merasa tidak nyaman.


Sekali lagi Jingga hanya menggeleng. Namun, kali ini ia memberanikan diri untuk menatap mata teduh suaminya.


"Aku keliatan kayak anak kecil, ya?"


Ada seraut ekspresi sedih dan juga menggemaskan tertangkap oleh Banyu. Mati-matian Banyu menahan diri untuk tidak tertawa, karena apa yang ia takutkan ternyata tidak terjadi.


"Kok sedih gitu, kenapa?"


Suara Deva menginterupsi Banyu dan Jingga. Mereka menghadap pada sepasang pengantin baru itu. Kemudian berbincang sedikit menceritakan apa yang baru saja terjadi.


Di samping Deva, Kikan terkekeh. "Tenang aja, meskipun Clara itu masih cinta sama Banyu, tapi dia bukan tipe cewek yang suka rebut cowok orang. Cuma, omongannya emang suka pedes." Kikan mengusap lengan Jingga.


Gadis itu mencebik. Namun, tak ayal ia mengangguk sebagai tanda mengerti. Meski dalam hatinya ia masih sedikit merasa insecure, karena penampilannya yang memang masih terlihat seperti para remaja. Sedangkan semua teman Banyu memiliki penampilan yang bisa dikatakan dewasa dan membawa sisi anggun tersendiri.


Deva dan Kikan mengajak Banyu dan Jingga untuk makan bersama. Salah satu tujuannya untuk mengalihkan perhatian Jingga, agar tidak terlalu memikirkan perkataan Clara. Dan semua itu berhasil melihat, bagaimana binar ceria Jingga kembali datang setelah mereka selesai makan.


"Mbak," Jingga mencolek lengan Kikan.


Saat ini mereka sedang duduk berdua di ruang tamu rumah Kikan. Banyu dan Deva masih menyalami tamu yang sudah mulai berpamitan.


"Hm?" Kikan menaikkan dagunya, menatap pada perempuan yang sudah ia anggap adiknya sendiri.


"Gugup nggak?" tanya Jingga menggoda. Seulas senyum jahil tak lupa Jingga lemparkan.

__ADS_1


"Apaan si" Entah kenapa tiba-tiba semburat merah muncul pada pipi Kikan. Padahal Jingga hanya bertanya seperti itu. Dan tidak menjurus pada suatu hal.


Kembali Jingga tersenyum penuh makna. "Ciee, yang udah punya suami," goda Jingga dan dihadiahi pelototan mata oleh Kikan.


Jingga tergelak sebentar sebelum sebuah ciuman mendarat pada kepalanya. Ia menoleh, menatap rindu pada suaminya. Padahal mereka baru berpisah satu jam yang lalu.


"Pulang, yuk. Jangan gangguin pengantin baru," ajak Banyu. Sebelah matanya mengerling pada Kikan.


"Ah, iya-iya. Kalau kelamaan di sini takut ganggu. Kasian Bang Deva nanti." Jingga lantas berdiri menyambut lengan suaminya yang telah siap untuk membawanya pulang.


"Udah buruan pulang sana," usir Deva sambil mengibaskan kedua tangannya. "Tugas kalian udah selesai. Sekarang gue mau berduaan sama istri baru gue." Deva memasang senyum penuh makna sambil menaik turunkan alisnya pada Kikan. Sedetik kemudian ia meringis, karena mendapatkan satu cubitan panas pada lengannya. Membuat Banyu dan Jingga tergelak bersamaan.


"Mbak, aku balik dulu." Jingga merendahkan tubuhnya. Mendekatkan bibirnya pada telinga Kikan seraya berbisik, "Ati-ati, Mbak!" Ia segera meraih dirinya sebelum dipukul oleh Kikan.


Sekali lagi Jingga tertawa. Kemudian mereka benar-benar berpamitan pada sepasang pengantin baru itu dan pada kedua orang tua mereka.


"Dev," panggil Banyu saat ia berada di ambang pintu. "Jangan kasar-kasar, kasian Kikan."


"BANYUUU!!!" Kikan melemparkan high heels yang baru saja ia lepas dari kakinya.


Banyu dan Jingga segera berlari keluar untuk menghindari kemarahan Kikan selanjutnya.


***


"Aaa"


Jingga memekik terkejut saat Banyu tiba-tiba menggendongnya. Reflek ia mengalungkan kedua lengannya pada leher pria itu. Sedetik kemudian satu pukulan mendarat tepat pada dada Banyu.


"Kebiasaan, deh!"


Bibir Jingga mengerucut. Memberikan kesan gemas pada Banyu, hingga tanpa bisa dicegah Banyu mencium bibir istrinya itu sambil berjalan menuju kamar mereka di lantai dua.


Malam itu bukan hanya si pengantin baru yang menghabiskan malam panjang. Namun, sepasang manusia lain juga bergelut di bawah selimut dengan berbekal doa untuk diberi kehidupan baru dalam keluarga kecil mereka.


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2