
Hening menyapa saat Rania menjejakkan kakinya di pelataran rumah besar milik orang tuanya.
Embusan napasnya terdengar pasrah, seakan hal itu memang lumrah. Tidak ada yang mengejutkan bagi gadis berambut sepunggung itu.
“Papa dan Mama sudah berangkat, Mbak?” tanya Rania saat seorang asisten rumah tangga menyambutnya.
“Sudah, Non. Pagi tadi tuan dan nyonya berangkat bersama,” jawab art itu seraya mengulas senyum.
“Apa Kakak juga belum pulang?” tanya Rania lagi.
“Belum, tuan muda belum pulang. Tapi, saya dengar dari sopir mungkin besok lusa tuan muda sudah kembali.”
Rania hanya mengangguk sebagai tanda bahwa ia mengerti. Setelahnya, gadis itu pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Mengingat bagaimana kedekatan salah seorang temannya yang ia kenal dengan nama Cakra dengan adiknya membuat Rania sangat iri. Bukankah hubungan mereka sangat harmonis meskipun diselingi pertengkaran yang begitu menggemaskan.
Sejenak Rania berdiri di ujung tangga. Gadis itu melihat sekitar rumahnya. Rumah yang begitu besar, tetapi tidak memiliki kehangatan sama sekali. Embusan napas Rania begitu berat mengingat semua keluarganya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka bahkan mungkin lupa memiliki seorang anak gadis yang masih memerlukan kasih sayang di rumahnya.
“Kenapa aku tak pernah bersyukur?” rutuk Rania pada dirinya sendiri. Gadis berperawakan mungil itu menggelengkan kepalanya kala rasa iri itu kembali menjalari hatinya.
“Bukankah diberi harta yang cukup juga harus disyukuri? Meskipun aku tidak menginginkan semua ini.” Langkah Rania kembali terayun menuju kamarnya. Gadis itu segera merebahkan diri. Raganya begitu lelah, begitu pun dengan hatinya. Sepertinya tidur akan jauh lebih menyenangkan sore ini.
**
__ADS_1
“Ayah ke mana, Ma?”
Jingga menghentikan aktivitasnya yang tengah membereskan beberapa piring kotor yang baru saja ia dan anak-anaknya gunakan untuk makan malam.
“Ayah ada rapat sama karyawan kafenya,” jawab Jingga. Wanita itu membawa piring-piring kotor tersebut ke dapur.
“Bia! Bantu gue cuci piring!” teriak Ata dari arah dapur.
Cowok itu mencuci piring yang tadi ibunya bawa ke dapur. Tugas cuci piring memang Jingga limpahkan pada anak-anaknya sejak dulu.
“Emang Kak Caca nggak bisa?” tanya Ata. Ia menggeser tubuhnya, supaya sang adik bisa bergabung untuk membilas piring yang telah ia beri sabun.
“Kasihan Kak Caca kali, Kak. Kak Caca kan lagi hamil,” jawab wanita itu sembari mengamati kedua anaknya yang terlihat akur malam ini.
Jingga yang menyadari hal tersebut segera menyadarkan Ata dari ingatan masa lalunya.
“Udahlah, Kak. Lupain aja. Kasihan Kak Caca nanti kalau kamu inget-inget terus.”
Ata tak menjawab, cowok itu hanya kembali ke aktivitasnya lagi.
Setelah pembahasan tersebut, dapur itu berubah menjadi hening. Bia yang tak suka suasana seperti itu pun melantunkan lagu dengan suara yang sukses membuat Ata menjitak kepalanya.
Kurasa ku t’lah jatuh cinta
__ADS_1
Pada pandangan yang pertama
Sulit bagiku untuk bisa
Berhenti mengagumi dirinya
“Aww ... Mama, Kak Ata jahat,” adu gadis itu sambil merengek.
“Suara lo jelek nggak usah nyanyi!” maki Ata pada adiknya.
“Ih, Mama. Kak Ata ngatain Bia,” rengek bocah itu lagi.
Ata yang sudah sangat geram meraup wajah gadis itu dengan tangan penuh sabun.
“KAKAK!”
Ata berlari menghindari pukulan yang akan Bia lancarkan padanya. Mereka berlarian mengelilingi rumah, padahal cucian piring mereka belum selesai.
Jingga hanya bisa menggeleng melihat pemandangan yang tak pernah jemu ia pandang. Ia bahagia melihat kedua anaknya yang selalu bertengkar, karena semua itu menandakan hubungan mereka baik-baik saja. Jika keduanya saling diam, bisa dipastikan ada masalah pada keduanya.
***
Jangan lupa like dan komen ❤
__ADS_1