You Are Mine

You Are Mine
Part 77


__ADS_3

"Udah .... " Jingga mendorong sendok berisi bubur yang Banyu sodorkan padanya.


"Ini masih banyak, Sayang. Ayo makan lagi," pinta Banyu, ia kembali mendorong sendok ke depan bibir istrinya.


Jingga menutup bibirnya. Ia menggelengkan kepalanya cepat, tak mau kembali menelan makanan yang terasa begitu hambar. Sudah cukup baginya tiga hari mengonsumsi makanan dari rumah sakit. Lidahnya sudah rindu merasakan makanan seperti biasa.


"Nggak boleh gitu dong. Ayo makan lagi," suruhnya lagi tanpa lelah.


"Nggak mau, Mas. Aku bosen makan makanan yang disediain rumah sakit." Wanita itu merengek, masih dengan tangan bersarang pada bibirnya.


"Nih, gue bawain bakso kesukaan lo!"


Jingga mengalihkan pandangannya pada pintu. Di sana ada Kikan dengan dua bungkus bakso di tangan kanannya. Matanya langsung berbinar bahagia melihat makanan yang akhir-akhir ini ia sukai siap untuk dilahap.


"Kok lo bawain makanan kayak gitu, Ki," sentak Banyu saat Kikan meletakkan bakso tersebut di atas nakas.


"Udah lah, Nyu. Lo tu diem aja. Yang penting dia mau makan. Dari pada lo paksa dan akhirnya muntah, rugi sendiri nanti." Kikan mendudukkan dirinya di sebrang Banyu. "Gimana kata dokter? Kapan boleh pulang?" Kikan melihat infus Jingga sudah terlepas.


"Nanti sore udah bisa pulang. Lukanya juga udah banyak yang kering. Tinggal lebam-lebam di beberapa tempat aja ya, Yang?"


Jingga mengangguk tanpa memandang suaminya. Ia sibuk dengan bakso yang Kikan bawa. Sama sekali tak terganggu dengan obrolan Kikan dan Banyu selanjutnya yang membahas masalah kafe.


"Gue mau ngurus administrasi dulu. Lo jagain Jingga dulu, ya?" Banyu berdiri, mengambil dompet yang ada di dalam laci nakas.


"Lo nyuruh gue? Berani bayar berapa lo?" Dagu Kikan mengedik, dengan senyum miring.


"Nikahan lo mau gue sewain di mana? Singapura? Korea? Jepang? Bilang aja, gue yang bayarin," ujar Banyu menantang. Ia membiarkan Kikan menganga di tempatnya, sedangkan kakinya melangkah keluar dengan segera.


"Suami lo sombong banget, Ji." Kikan berdecak kesal. Kepalanya geleng-geleng karena terlalu sebal dengan kesombongan Banyu yang hanya dilakukan padanya.


Jingga tertawa menanggapi gerutuan Kikan. "Lagi kumat dia, Mbak. Coba Mbak, suruh bayarin siapa tahu dibayarin beneran," usulnya dan diangguki oleh Kikan.


"Bener juga, lo. Kan dia kaya, omset kafe sama restoran lagi naik tiga bulan ini. Lumayan lah pendapatannya."


Mereka berdua tertawa bersama. Setelah itu, Kikan membantu membereskan beberapa baju Jingga untuk dibawa pulang. Obrolan masih terselip diantara keduanya. Membahas pernikahan Kikan yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi.


"Nanti resepsinya di mana, Mbak?"


"Di taman belakang rumah gue. Lumayanlah, penghematan." Kekeh Kikan diakhir kalimatnya.


Jingga hanya ber-oh saja menanggapi Kikan. "Berarti setelah ini Mbak Kikan tinggal di rumahnya Bang Deva?"

__ADS_1


Kikan mengangguk. "Soalnya di sana cuma ada Deva sama bokapnya doang. Nanti kalau buat rumah sendiri kasihan papa nggak ada yang nemenin," jelas Kikan.


"Beruntung banget Bang Deva bisa dapetin Mbak Kikan," ucap Jingga membuat alis Kikan bertaut. "Mbak Kikan kan baik, pengertian, cantik, pekerja keras. Pokoknya siapapun yang nikah sama Mbak, dia orang yang saaangat beruntung," jelas Jingga melihat kebingungan Kikan.


"Gue yang beruntung bisa dapetin dia ..."


"Ngomongin apa sih?! Seru banget kayaknya," tukas Deva yang baru saja masuk. Ia berjalan mendekati Kikan dan Jingga. Tak sungkan Deva mengecup puncak kepala Kikan sekilas.


"Cieee ... cieee ..." goda Jingga saat pipi Kikan bersemu merah.


"Apaan sih anak kecil!" sahut Kikan, kesal. Rasanya begitu malu saat Deva memperlakukannya begitu manis di depan orang lain.


"Aku bukan anak kecil, Mbak!" Kali ini Jingga yang kesal. Tidak terima dikatakan masih kecil. "Aku udah nikah ya!" peringat Jingga pada Kikan. Matanya sampai menyipit karena terlalu kesal.


Bola mata Kikan memutar. "Iya-iya, istrinya Banyu ..." Kikan terkekeh melihat raut muka Jingga yang begitu menggemaskan. Wanita kecil satu ini sungguh bisa membuat suasana hatinya berubah. Ia merasa memiliki adik perempuan.


"By the way, Banyu di mana? Kok, nggak kelihatan," tanya Deva. Ia mendudukkan diri di sofa sambil menyilangkan kakinya.


"Lagi bayar administrasi di depan," jawab Jingga.


Deva mengernyit. "Bukannya ini rumah sakit keluarga dia?" Ia terkekeh begitu saja. "Kok masih bayar?" tanyanya lagi sedikit bingung.


Tak lama kemudian Banyu masuk dengan membawa beberapa obat di dalam kantung kresek.


"Baru dateng, lo?" tanya Banyu saat melihat adanya Deva di sana.


"Iya, baru duduk juga," jawab Deva.


Setelahnya Banyu duduk di samping Deva. Mereka mengobrol berdua, terkadang Kikan atupun Jingga juga ikut menyahut. Sejak dulu mereka memang sangat cocok dalam segala hal. Jadi, seberapa lama pun mereka mengobrol tak akan pernah bosan.


***


Hari ini adalah hari senin. Hari di mana hampir semua orang tak ingin beranjak dari tempat tidur. Hari di mana rasa malas masih melekat kuat.


Sama seperti orang-orang di luar sana. Banyu masih sibuk mendekap erat istrinya di atas tempat tidur. Ia tak menghiraukan rengekan wanita itu. Ia tetap bergeming meskipun istrinya meronta ingin segera pergi dari sana.


"Masss ... udah siang, aku mau bikin sarapan," rengek Jingga mencoba melepaskan lengan Banyu dari pinggangnya.


"Lima menit lagi, Sayang," pinta Banyu dengan suara serak. "Kamu nggak kangen sama aku? Aku baru pulang semalem loh," ujarnya lagi. Kali ini ia menaruh kepalanya pada ceruk leher Jingga.


Dua hari yang lalu Banyu pergi ke luar kota untuk pembukaan restorannya yang baru. Ia tidak bisa mengajak istrinya, karena wanita itu sedang melaksanakan ujian akhir semester kemarin. Jadi, Banyu terbang sendiri, dan ia meminta Kikan untuk menemani Jingga menginap di apartemen.

__ADS_1


"Bikin sarapannya nanti aja, Sayang. Kita masak bareng nanti!" Banyu kembali mengeratkan dekapannya. Tak membiarkan Jingga beralih satu senti pun.


Sudah satu bulan berlalu setelah Jingga keluar dari rumah sakit. Wanita itu kini sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Memasak, mencuci, menyapu, dan masih banyak lagi.


Jingga lebih sering menyibukkan diri dengan kegiatan ibu rumah tangga, layaknya seorang istri sejak kejadian itu. Meskipun ia selalu tersenyum pasca keguguran, namun tak menutup kemungkinan bahwa ia masih sering melamun dan menangis saat teringat kembali. Jingga hanyalah wanita biasa yang memiliki hati. Tak mudah baginya untuk menerima semua ini, seberapa sering pun ia mencoba.


Ada banyak alasan kenapa ia lebih memilih berpura-pura untuk selalu tersenyum meski rasa sakit masih terus menghantam. Salah satunya adalah Banyu. Ia tidak ingin pria itu terus merasa khawatir kepadanya.


Setelah berdebat panjang, akhirnya Jingga dapat melepaskan diri dari Banyu. Segera ia membersihkan diri, kemudian berkutat dengan dapur.


Siang hari setelah urusan rumah selesai. Jingga mengikuti Banyu ke kafe. Hari ini adalah hari pertama Jingga libur semester, tak masalah baginya berada di kafe meskipun hanya sekadar duduk, atau terkadang membantu para karyawan Banyu jika banyak pelanggan.


Setelah kejadian itu juga, Banyu memutuskan untuk tidak kembali ke perusahaan ayahnya. Ia ingin fokus pada pengembangan restoran dan kafe yang sudah ia geluti sejak lama. Ia juga ingin selalu ada di dekat Jingga, tak ingin kejadian seperti kemarin terulang kembali.


"Mbak Kikan kok nggak ada?" Sejak tadi Jingga mencari Kikan, namun tak ia dapati gadis itu di sana.


"Ada urusan sama Deva. Kayaknya sih ngurusin pernikahan, kan tinggal dua bulan lagi," jawab Banyu. Ia sedang sibuk dengan komputernya. Ada beberapa laporan keuangan yang harus ia baca, karena minggu kemarin ia tidak sempat membaca laporan dari Kikan dan dua manajer restorannya yang lain.


"Kamu bosen?" Beberapa kali Banyu mendapati Jingga menghela napas. Sejak tadi wanita itu hanya memainkan gawainya dan berguling-guling di atas tempat tidur yang ia sediakan di sana.


Jingga mengangguk dengan bibir mengerucut. Terlihat sangat menggemaskan bagi Banyu.


"Bentar lagi ini selesai. Setelah ini kita keluar," tutur Banyu menciptakan binar penasaran pada Jingga.


"Mau ke mana?"


"Udah, nanti ikut aja."


***


Jingga mengernyitkan kening kala Banyu membawanya ke suatu tempat yang belum pernah ia datangi. Terlebih saat ini mereka memasuki kawasan perumahan yang tidak terlalu besar. Suasananya begitu asri, masih banyak pohon yang tumbuh di area sana. Dan sepertinya rumah-rumah di sana bukan kawasan orang-orang elit.


Wanita itu semakin dibuat bingung saat Banyu masuk ke halaman sebuah rumah yang sedikit lebih besar dari semua rumah yang ada di sana. Tampaknya rumah ini masih baru, terlihat dari warna catnya yang masih begitu bersih.


"Ini rumah siapa, Mas?" Jingga tak tahan untuk bertanya. Rasa penasaran yang menyeruak ke dalam dirinya meronta meminta jawaban.


Banyu hanya tersenyum kemudian menggandeng tangan Jingga untuk masuk ke dalam rumah tersebut.


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2