You Are Mine

You Are Mine
Aku Hanya Ingin Kamu Tetap Mengenal Siapa Tuhan Mu 126


__ADS_3

"Jaga ucapan mu! Akeno hanyalah milik ku! tidak boleh ada siapa pun yang boleh memilikinya selain diriku!" sentak Anya dengan keras. Wanita itu membalikkan bola matanya jengah, ia langsung pergi dan tidak berbicara apapun lagi.


Akeno masuk ke dalam kamar Aira, pria itu tersenyum dengan merekah, saat melihat wanitanya sedang berdiri di jendela seolah sedang mengamati orang-orang yang ada di sana.


"Ada apa, sayang? Kau ingin berjalan-jalan di luar?" tanya Akeno dengan mendekat, tangannya membelai bahu Aira.


"Jangan menyentuh ku! Buang jauh-jauh tangan mu! aku tidak mau jika tangan kotor itu menyentuh kulitku!" Sentak Aira berbalik badan dengan kesal.


Akeno tidak bisa tidak terkejut, ia kemudian menatap Aira dengan lekat, terlihat amarah cemburu dari matanya, dia bisa merasakan itu.


"Kamu sedang marah?" tanya Akeno. Aira menggeleng tidak mau mengakuinya.


"Ayolah sayang, kamu marah karena aku pernah tidur bersama wanita lain?" tanya Akeno lagi.


"Berhenti! jangan memeluk ku!" sergah Aira. Ia melangkah ke arah ranjangnya dan tidur di sana. Akeno malah tertawa melihatnya merajuk. Pria itu pun mendekat kembali, mengelus pundak Aira dan mengecupnya.


"Kamu terlihat jelek saat marah, apa tidak takut jika orang lain akan melihatnya?" Goda Akeno tertawa kecil. Wanita yang sedang marah itu bangkit, memanyunkan bibirnya kesal.


"Menikah lah dengan ku, kita akan berbahagia selamanya, tanpa ada hambatan atau pun orang yang mengganggu kebahagiaan kita." Tangannya melingkar di pinggang Aira, Akeno memejamkan matanya dengan memeluk wanita itu. Menghirup harum dari tubuh sang wanita yang dicintainya.


Jantungnya berdetak lebih cepat, Aira tidak mengerti dengannya kali ini, seakan hal ini adalah dejavu yang selalu ada dalam bayangan seorang pria lain.


'Mungkinkah ini adalah kenangan ku dengan Akeno? Tapi, kenapa aku merasa berbeda?' Batin Aira heran. Seakan bayangan di dalam otaknya itu terus mengingatkan dirinya pada sesuatu yang tidak di ketahuinya.


"Sekarang sudah malam, ingin ku temani tidur?" tanya Akeno. Aira dengan cepat menggeleng tidak mau, sosok pria yang berada di hadapannya sangat lah asing, ia bahkan tidak mengerti dengan hatinya, semuanya, ruangan ini, rumah ini, orang-orang yang ada di dalam rumah ini.


Seminggu telah berlalu, di kediaman Ahmad Khan, pria yang sangat agung itu mengeratkan kepalan tangan nya, dia sedang menahan amarah yang akan keluar.

__ADS_1


Mengetahui putrinya di culik, ia berjanji jika akan membunuh Akeno dengan tangannya sendiri, tidak akan ada yang berani menentangnya jika sudah berada di batas kesabaran.


"Tuan Ahmad Khan, dua sosok wanita kini sedang berada di tangan orang yang jahat. Istriku juga hilang entah kemana, jika boleh, aku ingin Santi di temukan terlebih dahulu." Ucap seorang pria dengan meminta bantuan, Qixuan bahkan tidak mengerti kemana istrinya menghilang kali ini.


Ahmad Khan masih tidak menjawab, ia merenungkan ini semua terlebih dahulu sebelum memilih keputusannya.


Di sisi lain, Zafirah menangis tanpa suara, ia menyesal telah memperlakukan adiknya dengan kejam.


"Aku berjanji, akan membuat kaki mu bisa berjalan!" Seru Aira berada di otaknya, Zafirah kemudian terisak, ucapan demi ucapan, kata demi kata, terus berada di pikiran dan bayangannya.


"Kau hanya akan sia-sia saja, karena aku tidak mau berjalan kembali!" Sentak Zafirah membalas.


"Baik.... Terserah, aku juga akan melakukan yang seharusnya aku lakukan!" timpal Aira lagi dengan tertawa.


Suara membuyarkan lamunannya, "Nona," panggil Alkaf dengan memberikan sapu tangannya pada Zafirah. Ia mengambilnya dan menghapus air matanya yang keluar begitu saja.


"Keputusan apa yang ayah katakan?" tanya Zafirah ingin kepastian terhadap adiknya, yang kini berada dalam bahaya.


"Tuan, ingin mencari nona Vivian dulu, setelah itu baru nona Aira." lanjut pria itu.


Zafirah mendongakkan kepalanya lurus menatap ke jendela, dua orang wanita yang sayangan terpisah ini memiliki kebiasaan yang sama. Keduanya sering melihat ke jendela jika sedang gelisah.


Mungkin bibir keduanya saling mengatakan 'Aku membencimu' namun tidak dengan hati mereka yang ingin mengatakan jika aku menyayangimu dan ingin bersama, akan tetapi di pisahkan oleh rasa malu bercampur dengan rasa ketidak akraban mereka.


Zafirah terisak kembali, memejamkan matanya mengenang masa kecil mereka semua. Pria itu terus berdiri di belakang sang nona, tidak berniat untuk menyenangkan, karena hatinya pun ikut bimbang.


Matanya melirik ke arah budaknya, Zafirah kemudian bertanya: "Apa Aira baik-baik saja di sana?"

__ADS_1


"Nona, Anda tidak perlu khawatir, meskipun nona Aira sedang di culik, dia selalu di perlakukan dengan baik, namun...." ucapannya tiba-tiba menggantung, berpikir jika kelanjutannya sangat tidak enak.


"Namun apa?" tanya Zafirah malah di buat penasaran oleh budaknya.


"Nona Aira bertindak kasar pada para pelayan, bahkan dia tidak segan-segan untuk membunuh pelayan yang melakukan kesalahan." Jawab pria itu dengan menunduk. Terdengar helaan nafas yang sangat pelan, Zafirah mungkin tahu, setelah ini adiknya bukan hanya jauh dari mereka, namun dia akan jauh dari Tuhannya, ini lah yang di khawatir olehnya saat Aira meminum buah pembakar hati.


"Tidak peduli sejauh apapun kamu di sana, adik. Akan tetapi, aku hanya ingin kamu tetap mengenal siapa Tuhan mu dan yang menciptakan mu." Gumam Zafirah.


Kedua tangannya terangkat, "Ya Allah, jagalah adik ku, jangan biarkan dirinya berbuat sesuka hati, tumbuhkan rasa cinta dalam hatinya untuk mu kembali ya Allah." Pinta Zafirah, ia kemudian mendekatkan kedua tangannya ke wajah dan mengelusnya.


"Aamiin..." sahut pria itu.


***


Aira duduk dengan wajah yang sangat galak, ia baru akan meminum minuman arak, namun sebuah tangan dengan cepat mencegahnya.


"Kamu sedang hamil, jangan minum ini." sergah Akeno, ia kemudian merebutnya kembali.


"Setelah ini semua, ternyata kau menyadari jika di dalam perutku terdapat benih mu!" Sindir Aira kesal. Akeno memejamkan matanya, benih mu, pikirannya langsung mengingat Aryan, ayah dari bayi yang sedang Aira kandung.


"Sudah lah, jangan membahasnya!" seru Akeno. Aira mengerutkan keningnya heran.


"Pelayan! bawa minuman ini, dan jangan membiarkan istriku meminum ini!" teriak Akeno memerintahkan, para pelayan berhamburan dan mendekat dengan membawa semua makanan dan minuman yang ada di meja itu.


"Kembali ke kamar mu!" titah Akeno yang marah. Aira mencibir, ia berdecak kesal karena di perintah.


"Pria membosankan!" cibir Aira.

__ADS_1


Ia tidak membantah, dan masuk ke dalam kamarnya yang berada di lantai atas. Anya menautkan alisnya, wanita yang baru saja naik ke lift itu, ia merasa begitu mengenalnya.


"Ada apa, Anya? beberapa hari ini, kau selalu saja termenung tidak karuan, kenapa? katakan padaku." Cecar wanita di sebelahnya.


__ADS_2