
“Gue duluan,” ucap Ata saat ia telah berada di depan kelasnya. Ketiga temannya tadi hanya mengangkat tangan sambil berlalu menuju kelas mereka.
Ata sempat mematung sejenak saat netranya menangkap gadis yang tadi ia tabrak berada di kelasnya. Gadis itu duduk tak jauh dari tempat duduk Ata. Entah kenapa Ata tersenyum dalam hati melihat gadis itu di sana.
Senyum Ata terlempar begitu saja saat pandangannya berserobok dengan gadis itu. Ia melewati meja gadis itu dan duduk di tempatnya. Di sampingnya sudah ada tas ransel yang ia yakin milik seorang perempuan.
“Cakra, aku bolehkan duduk di sini? Tadi waktu aku masuk cuma kursi di sebelah kamu yang kosong,” tanya seorang perempuan berambut sebahu kepada Ata.
“Boleh, siapa aja berhak duduk di sini, termasuk, lo.” Senyum manis Ata yang terulas dengan mudah membuat gadis itu bersemu.
“Nama lo siapa? Kita belum pernah satu kelas kan?” tanya Ata. Ia memang tak terlalu mengenali siswa-siswi di kelas itu. Mungkin hanya beberapa siswa saja yang ia tahu namanya, karena mereka mengikuti ekstrakurikuler yang sama.
“Aku, Bella.”
“Nama yang cantik,” puji Ata membuat gadis itu kembali bersemu.
“Adik gue namanya juga Bella. Tapi, sejak dulu gue lebih suka panggil dia Bia,” cerita Ata mengingat masa kecilnya dulu yang lebih suka memanggil adiknya yang bernama asli Carabella dengan sebutan Bia.
Bella hanya mengangguk saja saat Ata bercerita. Ia sering mendengar cerita tentang Ata di sekolahnya. Cowok satu ini memang sangat terkenal karena ketampanannya dan juga prestasinya dalam bidang olahraga. Banyak dari temannya yang membicarakan tentang ketampanan Ata dan hari ini Bella benar-benar membuktikan bahwa cowok yang duduk di sampingnya ini memang memiliki ketampanan yang luar biasa. Sikap ramahnya juga membuat Bella tertarik dengan cowok satu ini.
“Eh, Bel. Lo tahu nama cewek itu nggak?” Ata menunjuk gadis yang duduk di depannya. Gadis yang ia tabrak pagi tadi.
“Selamat pagi semua!”
__ADS_1
Ata harus menelan kecewa, karena sebelum Bella menjawab guru mata pelajaran pertama telah hadir.
“Pagi, Bu,” jawab seluruh murid kelas itu.
Guru itu tersenyum ramah pada semua muridnya. Setelah itu sang guru memanggil satu persatu nama murid dalam kelas itu sebagai bentuk presensi.
“Cakra Langit Biru”
Ata mengangkat tangannya sembari berkata hadir.
“Akhirnya kamu bisa masuk kelas ini, ya, Cakra?”
Ata tertawa renyah. Guru perempuan bernama Friska itu memang guru favoritnya sejak kelas sepuluh. Mereka cukup dekat, karena Ata memang cukup cerdas untuk mata pelajaran yang diemban Bu Friska itu.
Bu Friska menimpali balasan Ata dengan senyuman. Kemudian melanjutkan memanggil nama muridnya yang lain.
Ata sangat penasaran dengan nama gadis itu, sehingga Ata dengan sabar menunggu gadis itu mengangkat tangan saat namanya dipanggil. Hingga akhirnya senyum Ata timbul kala gadis itu mengacungkan tangan saat namanya disebut oleh guru itu.
“Rania Sanjaya,” gumam Ata dalam benaknya.
**
Bel pulang sekolah terdengar nyaring. Semua siswa-siswi SMA Bintang Unggulan bergegas membereskan buku-buku mereka yang tercecer di atas meja.
__ADS_1
Setelah guru pengajar keluar dari kelas. Para siswa itu turut keluar dari sana dengan hati riang. Akhirnya setelah berjam-jam berkutat dengan pelajaran mereka bisa pulang ke rumah ataupun jalan-jalan.
Di saat semua pelajar itu bergegas pulang, Ata masih duduk tenang di kursinya. Ia mengawasi gadis bernama Rania itu dari mejanya. Setelah teman sebangku Rania keluar, Ata mendekati gadis itu.
“Lo yang gue tabrak tadi pagi kan?” Ata mendudukkan dirinya di kursi samping meja Rania.
Gadis itu mengangkat kedua alisnya. Tampaknya ia masih mencerna maksud perkataan Ata.
“Oh, kamu yang tadi jalan mundur itu?” tanya Rania setelah mengingat kejadian pagi tadi.
Ata mengangguk. “Nggak nyangka ternyata kita satu kelas,” ucap Ata.
Rania hanya tersenyum. Gadis itu membenarkan tasnya, lalu berdiri.
“Lo balik naik apa?”
“Taksi mungkin,” jawab gadis itu sembari mengangkat bahunya.
“Mau bareng gu–”
“KAKAK!”
***
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen❤