
Waktu tak pernah berlari, namun selalu terasa begitu cepat. Satu tahun telah berlalu. Hubungan Jingga dan Banyu semakin erat. Mereka berdua selalu bisa untuk saling menguatkan satu sama lain.
Tak pernah ada pertengkaran antara keduanya, karena mereka sama-sama belajar untuk saling mengerti. Terlebih Banyu memiliki usia yang cukup dewasa. Ia lebih sering mengalah saat istrinya sedang merajuk. Ia berusaha untuk lebih menghargai setiap keputusan yang Jingga buat. Ia juga tak pernah bertindak semena-mena pada istri tercintanya.
Keguguran kala itu masih membekas kuat dalam benak mereka. Masih sering menjatuhkan air mata Jingga. Sebagai pria dewasa Banyu lebih sering mencoba untuk menghiburnya, memberi perhatian lebih hingga istrinya lupa.
Banyu pun menginginkan kehadiran malaikat kecil. Namun, sekuat tenaga tak ia ungkapkan demi menghargai hati istrinya. Ia tidak ingin Jingga merasa stres karena semua itu. Ia hanya ingin semua berjalan sesuai dengan apa yang telah Tuhan gariskan. Ia hanya akan terus berdoa dan berusaha.
Siang ini langit sedikit mendung. Jingga berdiri di depan gedung kampusnya seorang diri, menunggu suaminya datang menjemput. Sesekali kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan suaminya yang tak kunjung terlihat.
Lima belas menit Jingga menunggu. Matanya memicing kala sang suami berhenti tepat di depannya. Kening Jingga berkerut, karena Banyu membawa motor yang jauh berbeda dari yang dibawa pagi tadi.
Banyu tersenyum sembari memberikan helm kepada istrinya tanpa mematikan mesin motor.
"Ini motor siapa?" tanya Jingga mengusir rasa penasarannya.
"Motornya Faro," jawab Banyu. Faro adalah salah satu karyawan Banyu.
Kening Jingga masih senantiasa berkerut. "Terus motor kamu di mana?"
"Di kafe. Aku tukeran sama dia. Abisnya dari dulu aku pengen banget naik motor vespa. Eh, hari ini dia bawa motor ini. Ya, aku pinjem," jelasnya tanpa merasa berdosa.
Jingga menggeleng. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Banyu menukarkan motor besarnya dengan motor vespa ini. Bukannya Jingga malu, hanya saja bukankah terlalu aneh untuk seseorang sekelas Banyu lebih memilih naik motor vespa daripada motor besarnya.
"Terus ini aku duduknya di mana?" tanya Jingga lagi.
"Ya tinggal duduk doang lah, Yang, kayak biasanya. Sama aja ini," jawab Banyu sembari memutar matanya malas.
"Kecil gini?"
"Muat kali itu buat pantat kamu!" Banyu mengembuskan napas kesal.
Jingga berdecak sebelum mendudukkan dirinya di belakang Banyu. Sedikit tidak nyaman bagi Jingga, tapi ia tak mempermasalahkannya. Mungkin karena belum terbiasa, batinnya.
"Ke rumah baby Rasya, ya?" ajak Jingga.
__ADS_1
"Siap, Bu Boss" jawab Banyu seraya menarik tuas gas hingga mereka berjalan membelah keramaian jalan.
Rasya adalah anak pertama Kikan dan Deva. Bocah itu lahir empat bulan yang lalu. Setiap minggu Jingga tak pernah absen untuk mengunjungi bocah itu. Ia akan selalu meluangkan waktu jika sudah lama tak bertemu keponakan tersayangnya itu. Dan sudah sepuluh hari Jingga tak bertemu dengan bocah itu, sehingga Banyu pun meluangkan waktunya mengantarkan sang istri ke rumah Deva.
Banyu menghentikan motornya setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit. Ia melepaskan helm dan juga maskernya sebelum masuk ke rumah tersebut.
Mereka berdua melangkah masuk sembari menenteng dua kantung berisi kue favorit mereka. Jingga menyempatkan diri mampir ke Twins Cake saat melewatinya.
"Ciluk ... baa" Suara Kikan terdengar jelas dari arah ruang tamu. Membuat Jingga dan Banyu terkekeh bersama.
"Excuse me, paket!" Teriak Banyu saat mereka berada di ruang keluarga. Di mana Kikan dan anaknya berada.
Kikan menoleh. Ia terkekeh mendengar teriakan Banyu. Wanita itu memang sudah tahu akan kedatangan mereka, sehingga ia sengaja membaringkan putranya di ruang keluarga.
"Dek, tukang paketnya dateng," ujar Kikan sambil terkekeh pada putranya.
Melihat keponakannya terbaring di lantai beralaskan kasur mini, Jingga buru-buru mendekati bocah itu. Ia menciumi pipi gembul Rasya hingga bocah itu hampir menangis.
"Baby gembul ganteng. Ante kangennn!" Jingga mengusap-usapkan hidungnya pada hidung bocah itu juga.
Banyu hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia mendudukkan diri di samping wanita itu. Mereka duduk di bawah beralaskan karpet.
Kikan yang hendak beranjak menoleh. "Belum. Paling juga bentar lagi balik," jawabnya sembari melenggang ke dapur.
"Titip dulu, ya, Ji. Jangan sampai dipegang Banyu, entar sawan!" teriak Kikan dari arah dapur diakhiri suara tawa yang begitu menggema.
"Sialan tu anak!" umpat Banyu.
Plak
Banyu menggosok pahanya. Pukulan tangan wanitanya ini memang benar-benar dahsyat hingga menimbulkan rasa panas sekaligus perih.
"Sakit, Yang!"
"Ada anak kecil nggak boleh ngomong kayak gitu!“
__ADS_1
Banyu berdecak. "Mommy kamu tuh, Mbul!" Menatap keponakannya. Banyu memainkan jemari bocah itu. Menggerakkannya seperti orang menari.
Mereka berdua bermain dengan bayi mungil itu seakan dia adalah anak mereka. Bagi Kikan keberadaan Banyu dan Jingga sangat menguntungkan, karena dengan adanya mereka, Kikan bisa sedikit beristirahat atau sekadar memasak untuk makan malam.
Kikan tidak menggunakan jasa baby sister. Ia yakin bisa mengurus putranya sendiri, meskipun memang sedikit repot. Untuk sementara waktu Kikan juga melepas tanggung jawabnya dari kafe. Ia akan fokus pada putranya dulu sampai bocah kecil itu benar-benar bisa ditinggal bekerja.
"Kalau punya anak nanti kamu mau cewek atau cowok?" tanya Jingga tiba-tiba.
Banyu menoleh sekejap, kemudian kembali fokus pada Rasya. "Pengen cewek. Kan udah ada si gembul. Jadi pengen ngrasain punya anak cewek," jawabnya dengan menatap Rasya.
Jingga tersenyum. Entah kenapa ia merasa senang saat Banyu mengutarakan ingin memiliki anak perempuan. Yang ia tahu, biasanya kebanyakan pria ingin anak pertamanya laki-laki. Namun, berbeda dengan Banyu yang ingin memiliki anak perempuan. Dalam hati Jingga berharap untuk segera diberi kesempatan hamil kembali oleh Tuhan.
Ada perasaan bahagia bercampur sedih muncul dalam benak Banyu saat Jingga mulai kembali mempertanyakan masalah anak. Sebisa mungkin Banyu menanggapi Jingga dengan santai, agar tidak terlalu kentara akan keinginannya memiliki seorang anak. Yang ia inginkan saat ini hanyalah kebahagiaan istrinya. Itu saja.
Tak berapa lama suara deru mobil terdengar dari arah luar. Rasya yang mulai merespon akan suara-suara berteriak-teriak, seakan tahu bahwa ayahnya lah yang datang. Bayi itu menggerakkan kedua kaki dan tangannya. Seakan ingin segera berlari menyambut ayahnya.
"Kamu hafal banget sama suara mobil daddy." Kekeh Jingga melihat senyuman bocah itu.
"Lagi main sama om tante, ya?" ujar Deva. Ia berjalan mendekati putranya. Sedang bocah itu semakin berteriak mendengar suara ayahnya.
"Uhh, jagoan daddy. Kangen ya sama daddy?" Deva mengangkat tubuh putranya sembari menciumi pipi anak itu.
Melihat Rasya sudah bersama ayahnya, Jingga memutuskan untuk menyusul Kikan di dapur. Ia berencana untuk membantu wanita itu.
"Gimana? Masih belum juga?" Deva mendudukkan dirinya di sofa dengan Rasya berada di pangkuannya.
Banyu yang mengerti ke mana arah pembicaraan Deva hanya tersenyum simpul kemudian menggeleng pelan.
"Kayaknya belum, hampir setiap bulan dia tes tapi masih aja negatif." Banyu menatap istrinya yang tengah berkutat bersama Kikan. "Gue nggak mau maksa juga, kasihan entar malah tertekan gue yang repot," ujarnya lagi sambil tersenyum miris.
"Bulan ini udah tes?"
Banyu menoleh pada Deva. Ia kembali menggeleng. "Belum, kayaknya untuk bulan ini libur dulu tesnya. Daripada kecewa lagi. Gue nggak tega lihat dia sedih mulu."
Deva hanya bisa menepuk punggung Banyu untuk memberi kekuatan pada sahabatnya itu.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤