
***
"Jangan biarkan Ranxue mengetahui hal ini, dia tidak boleh gegabah seperti Kabir!" Titah Larisa dengan tegas pada anak buahnya. Semua penjaga mengangguk mengerti, mereka akan menjaga rahasia ini dan tidak boleh bocor kemana-mana.
"Nona, apa tidak begitu baik jika nona Ranxue tidak mengetahuinya? Dia pastinya akan sangat marah pada kita." Ujar Jack bertanya sedikit takut. Jika Ranxue mengetahui Kabir sedang di penjara di rumah Akeno, sudah pasti mereka yang akan di marahi.
"Aku tidak ingin mendengar ada bantahan lain, jadi jangan mengucapkan apapun lagi selain menjalankan perintah ku!" Tegas Larisa. Ia menatap mereka satu-persatu dengan tajam.
Jika putrinya tahu hal ini, sudah pasti akan meninggalkan sekolahnya, ia sudah bersusah payah agar putrinya itu belajar dengan giat bersama tetua ke sepuluh juga guru sekolah untuk mengajar Ranxue dengan baik.
"Kabir, dia terlalu gegabah, aku sudah mengatakan padanya, untuk jangan melakukan sesuatu tanpa ku setujui! Tapi dia benar-benar keras kepala!" Decak Larisa.
__ADS_1
Aryan yang sedang mempelajari ilmunya, ia juga tidak tahu jika nyawa putranya sedang dalam bahaya, namun seorang ayah tetaplah bisa merasakan keresahan dalam hatinya.
Ia membuka matanya, di tempat air terjun ini, begitu banyak suara burung dan hewan lain yang saling bersahutan. Keluar dari air terjun, ia mengambil handuk dan menyelesaikan semua pertarungan dalam otaknya. Pencapaian kekuatannya hampir selesai dan sebanding dengan Akeno, itu lah yang Larisa katakan dan yang dia inginkan.
Kembali pada Kabir, saat ini ia tengah di kurung di dalam sel yang sangat bau, di bawah air yang benar-benar tidak enak. Ia mendekap tubuhnya, matanya memerah dengan kepalan tangan yang erat.
Suara langkah kaki sangat lah merdu di telinganya, Kabir mendongak kan kepalanya dengan kening yang mengerut, ia bergumam, "Mommy."
"Mommy! Kau di sini?" tanya Kabir, ia bangkit dan memegang besi yang sudah berkarat. Menatap ibunya dengan menitikkan air mata.
Wajah Kabir langsung berseri dan ceria, ia memegang tangan ibunya merasa terharu.
__ADS_1
"Oh, siapa nama mu? Kau lahir di download atau dari rahim ku?" tanya Aira menahan tawanya yang ingin sekali ia ledakkan.
Kabir menyatukan kedua alisnya heran, "Ibu, apa kau tidak percaya pada ku? Aku adalah putra mu!" teriak Kabir menunjuk dadanya.
"Hahaha!" Tawa Aira langsung meledak, ia memegang perutnya yang sakit akibat tertawa puas sekali.
"Aku saja belum menikah, bagaimana bisa kau lahir ke dunia ini? Katakan, apa aku mendownload mu dari salah satu aplikasi?" Tanya Aira mendekatkan wajahnya pada Kabir.
Anak kecil itu menundukkan kepalanya merasa sedih, ia pikir ibunya benar-benar ingat jika dia adalah putranya, namun sepertinya ibunya sudah melupakannya.
Kabir mendongak kembali, menatap nanar pada ibunya, "Bisa kah ibu melihat ku sebentar dan tanyakan pada hati mu, siapa aku ini." ujar Kabir berharap Aira menatap dirinya sebagai seorang putra.
__ADS_1
Kata-kata itu seolah menghunus jantungnya, Aira tidak mengerti hatinya ikut sedih mendengar ucapan anak kecil yang sepertinya benar-benar merindukan seorang ibu.
"Ibu, kamu adalah orang yang sangat penting dalam hidup ku, hampir delapan tahu kita tinggal bersama, bagaimana mungkin kau tidak mengenali putra mu sendiri?" tanya Kabir dengan menitikkan air matanya, anak kecil itu terisak dengan sedih.