You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 16


__ADS_3

Setelah menghabiskan hampir dua jam di UKS, Rania memutuskan kembali ke kelas. Rasa pusing yang sempat menderanya kini berangsur membaik. Namun, dalam langkahnya menuju kelas Rania tampak risi. Hampir seluruh siswi di sekolahnya menatap ke arah dirinya, lebih tepatnya menatap cowok yang kini berjalan di sampingnya.


“Lo kenapa sih, kayak nggak nyaman gitu?” tanya Ata. Sejak keluar dari UKS, Rania tampak waspada saat berjalan. Apa mungkin gadis itu masih merasa pusing?, tanya Ata dalam hatinya.


“Kamu bisa nggak sih jalan duluan aja. Aku risi diliatin sama siswi lain,” jawab gadis itu tanpa menatap pada lawan bicaranya. Pandangannya lurus ke depan, seolah sangat enggan bertatap muka dengan Ata.


Decakan Ata keluar begitu saja. Ia bahkan memutar bola matanya malas mendengar alasan Rania yang sangat tidak masuk akal.


“Udah, cuek aja lah! Nggak usah risi gitu, lebai!”


Rania menghentikan langkah. Ia memutar tubuhnya menatap Ata yang jauh lebih tinggi darinya. Ada raut tak suka yang terpancar dari gadis itu membuat Ata tiba-tiba takut.


“Aku nggak biasa ditatap seperti itu, Cakra! Jadi, nggak usah ngatain aku lebai!” Gadis itu bersungut kesal dikatai seperti itu oleh Ata. Ia yang tiba-tiba emosi berjalan mendahului Ata, meninggalkan jejak tak suka pada cowok itu.


Ata tak mengerti mengapa para wanita mempermasalahkan hal sepele seperti itu. Namun, kepergian Rania dengan seraut amarah membuat dirinya tak nyaman. Ia pun memutuskan mengikuti langkah kecil Rania yang dapat dengan mudah ia jangkau.


“Ran, lo gitu aja kok marah sih?” tanya Ata setelah menyejajarkan langkahnya dengan gadis manis itu.


Bungkam. Rania tak menjawab pertanyaan Ata meskipun telah diulang beberapa kali. Hingga saat mereka berada di depan kelas, Rania menghentikan langkah yang dapat membuat Ata hampir menabraknya.

__ADS_1


“Nggak semua orang itu terbiasa ditatap banyak orang seperti kamu, dan aku salah satunya.” Rania hendak berbalik dan meninggalkan Ata, tetapi gadis itu tiba-tiba kembali menatap Ata dengan raut kesal.


“Dan satu lagi! Kamu nggak berhak mengatai orang hanya karena dia nggak seperti kamu!”


Ata dibuat terbengong dengan apa yang Rania katakan. Cowok itu bahkan tak beranjak dari tempatnya sampai tepukan pada bahunya membuat Ata sadar.


“Kamu nggak masuk kelas?”


“Iya, Pak. Masuk kok,” jawab Ata kemudian mempersilakan guru mata pelajarannya masuk terlebih dahulu.


**


Rania mengayunkan kakinya yang menggantung di tepi gazebo rumahnya. Gadis itu tampak santai dengan satu gelas jus apel dan satu piring sosis bakar di sampingnya.


“Udah dapet?” tanya Rania pada Wina yang baru saja duduk di sampingnya.


“Udah, nih. Untung tadi ada pembantu lo. Kalau nggak ada mungkin besok pagi baru bisa dapet coklat ini,” jawab Wina berlebihan.


Rania terkekeh mendengar aduan temannya itu. Malam ini Rania memang meminta Wina untuk menginap di rumahnya. Ia yang merasa kesepian sedang ingin ditemani hari ini.

__ADS_1


“Besok joging, yuk! Mumpung gue di sini,” ajak Wina pada pemilik rumah itu.


“Boleh, udah lama juga aku nggak olahraga.” Rania tampak antusias dengan ajakan Wina.


Tak hanya joging saja, Wina mengajak Rania jalan-jalan setelahnya. Rania tampak antusias menyetujui ajakan Wina, sehingga malam itu mereka pun merencanakan kegiatan mereka esok hari. Hitung-hitung sebagai refreshing setelah berkutat dengan buku pelajaran selama satu minggu.


Perbincangan mereka agaknya memakan waktu cukup lama. Udara yang tadinya sedikit sejuk kini berubah lebih dingin saat menerpa kulit mereka.


Pukul sepuluh lewat dua belas malam tertera pada layar ponsel Wina kala gadis bertubuh mungil itu menyalakannya. Obrolan mereka yang cukup seru tadi pun mau tak mau harus terjeda sejenak. Setelah masuk ke dalam kamar Rania yang cukup luas, Wina kembali membuka percakapan mereka.


“Gue denger ada film baru di mal itu, kata anak-anak sih ceritanya seru dan pemainnya juga ganteng-ganteng. Lo mau kan nonton itu?” tanya Wina penuh semangat.


Rania mengangguk setuju dengan seulas senyumnya. Wina yang sangat cerewet dan suka sekali bercerita selalu bisa membuat Rania tersenyum. Seperti saat ini, dengan hanya mendengar Wina menceritakan apa yang tadi dia gosipkan mengenai film terbaru bersama teman-temannya tadi bisa membuat Rania tersenyum dan sedikit melupakan masalahnya dengan keluarganya.


Namun, senyum Rania terpaksa lenyap saat tiba-tiba Wina menanyakan sesuatu yang cukup privasi bagi gadis itu.


“Eh, btw dari pagi kayaknya lo nggak mood, sampai Cakra lo marahin cuma gara-gara hal sepele, kenapa? Lo berantem lagi sama kakak lo?”


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2