You Are Mine

You Are Mine
Part 56


__ADS_3

Setapak demi setapak kakinya melangkah tanpa terburu-buru. Senyumnya mengembang seiring kakinya yang tak henti terayun. Menyapa setiap teman, baik yang dikenal ataupun tidak. Menaiki tangga satu persatu, Jingga menikmati pagi ini dengan teramat tenang.


Matanya menyipit saat berada di tengah tangga. Jingga melihat seseorang yang sangat ia kenal berada diujung tangga ini. Agaknya ia sedikit bingung, kenapa dia ada di gedung fakultas kedokteran?. Bahkan dulu dia tidak pernah masuk ke sini meskipun mencarinya. Jingga mengusir setiap rasa penasarannya dengan segera menaiki tangga untuk semakin mendekat.


"Kevin? kamu ngapain di sini?"


Kevin terkesiap mendengar suara mantan kekasihnya. Buru-buru ia memasukkan ponsel ke dalam sakunya untuk kemudian menatap wanita cantik itu.


"Eh, Jingga. Baru dateng?" tanya Kevin basa-basi.


"Iya, kan hari rabu jadwalku agak siang," jawab Jingga. "Kamu ngapain di sini? nyari siapa?" tanyanya lagi.


"Aku... nyari..." Matanya berkeliling. "Ah, itu anak semester tiga. Kebetulan ada yang ikut basket." Kevin tersenyum kikuk. Ia berharap Jingga memercayai ucapannya.


"Gedung semester tiga kan ada di atas, kok kamu di sini?" Kening Jingga berkerut bingung.


Kevin mengusap tengkuknya. "Udah ketemu tadi, terus ada telepon dari temen jadi berhenti dulu." Senyum canggungnya kembali terukir.


"Oh, ya udah. Aku duluan ya, Kev." Jingga memutar tubuhnya. Melanjutkan kembali langkahnya menuju kelas.


"Hati-hati, Jingga." Kevin mengembuskan napasnya lega. Ia menatap punggung gadis itu. Masih melekat kuat dalam ingatannya akan masa-masa di mana ia dan Jingga menjadi sepasang kekasih. Saat ia menjadi pendengar setia mantan kekasihnya itu. Gadis cantik yang telah merubahnya menjadi sekarang.


Kevin menggeleng, mengenyahkan segala pikirannya akan masa lalu bersama Jingga. Sudah saatnya Kevin melupakannya. Tak ada lagi hak untuk Kevin memikirkan gadis itu, karena dia sudah menjadi milik orang lain.


Mengambil ponselnya dari saku celana. Kevin menghubungi seseorang melalui pesan teks, bahwa ia akan menunggu orang itu nanti di parkiran kampus. Setelah pesan terkirim, Kevin menuruni tangga dengan senyum lebar.


Di dalam kelas, Jingga menghampiri Keyra yang tengah duduk sendiri dengan ponsel menyala.


"Riana nggak masuk lagi, Key?"


Keyra mendongak, sedikit terkejut mendengar suara Jingga. Dengan segera ia meletakkan ponselnya ke atas meja. Memutar tubuhnya menghadap Jingga.


"Riana? iya kayaknya. Dia nggak chat gue sih kenapa nggak masuk," jawab Keyra.


"Masa sakit lagi sih? jarang-jarang lo dia kayak gini." Jingga menopang kepalanya dengan tangan kanannya. "Nanti temenin gue ke toko buku, ya?" pinta Jingga.

__ADS_1


"Hu? nanti?" Keyra memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri seperti berpikir. "Gimana ya, Ji. Kayaknya nggak bisa deh," ucapnya dengan raut menyesal. "Ee, tadi nyokap nyuruh gue cepet balik," imbuhnya.


Jingga mencebik.


"Emang suami lo ke mana?"


"Ya nggak ke mana-mana sih, tapi kangen aja jalan sama kalian," ujarnya sambil merebahkan kepalanya ke atas meja.


***


Sore harinya.


"Mbak,"


"Mbak,"


"Mbak Kikan!" Jingga mengguncang bahu Kikan dengan kencang, karena si pemilik nama tidak menyahut sejak tadi.


Kikan membelalakkan mata karena terkejut, namun ia menyembunyikannya dengan bersikap tenang. Ia memutar kepala menatap gadis yang sudah mengganggu acaranya melamun.


"Ish, Mbak Kikan nglamun, ya?" tuduh Jingga sambil mengacungkan jari telunjuk.


Kikan menepis jari telunjuk gadis itu pelan. "Ngaco, siapa yang nglamun," elaknya.


Jingga mencibir akan elakan Kikan. Ia menduduki kursi kosong di samping Kikan. Menopangkan kepala pada meja. "Mas Banyu ke mana, Mbak?" tanya Jingga. Sejak ia memasuki kafe ia tak menemukan suaminya, di ruangannya pun tak ada.


"Dia nggak ngehubungin lo?"


"Yee, kalau ngehubungin ngapain aku nanya," sungut Jingga. Rasa laparnya membuat ia lebih sensitif.


"Iya juga" Kikan tertawa. Lantas menjawab pertanyaan istri sahabatnya itu. "Katanya sih tadi mau ketemu seseorang. Mau nyewa kafe buat nglamar ceweknya. Tapi Banyu disuruh ke kantornya gitu. Nggak paham juga gue," jelasnya. Kikan sendiri sebenarnya kurang paham dengan apa yang Banyu jelaskan. Akhir-akhir ini ia sering kali tak fokus saat berbicara dengan orang lain.


Jingga manggut-manggut saja. Ia beranjak menuju dapur kafe untuk menyapa beberapa koki dan meminta beberapa makanan untuk mengganjal perutnya.


"Lo nggak pengen coba menu baru?" tanya Kikan dari arah belakang Jingga.

__ADS_1


"Emang ada menu baru?" Jingga balik bertanya dengan dahi mengerut dan alis menaut.


Kikan mengangguk. "Gue lupa apa namanya, yang pasti enak banget." Kikan memanggil seseorang yang bertugas menyediakan menu tersebut, memintanya untuk membuatkan dua dessert terbaru kafe ini.


Kedua gadis itu menikmati makanan mereka dengan canda dan tawa. Semakin hari mereka semakin akrab layaknya kakak beradik. Mereka merasa nyaman dengan kedetakan ini, karena sama-sama cocok dalam setiap pembahasan.


***


Jingga menunggu suaminya di balkon ruangan pria itu. Ia menatapi jalan raya yang tak pernah surut akan kendaraan. Dari sana ia juga bisa menikmati suasana sore hari. Langit yang menguning dan burung-burung yang terbang ke barat.


Matanya masih asik menghitung awan. Sampai-sampai ia terkejut akan hadirnya seseorang dari arah belakang. Ia tersenyum kemudian terkekeh geli mendapat beberapa kecupan di pipi dari suaminya.


"Hiss, geli tahu!" sungut Jingga. Tidak ada seraut muka marah, hanya ucapannya saja yang terdengar ketus.


Pria itu hanya tersenyum. Meletakkan tangannya pada pagar balkon, mengunci tubuh istrinya dengan tangan berada di sisi kanan dan kiri gadis itu.


"Udah makan?" tanya Banyu basa-basi.


"Udah, sama mbak Kikan tadi," jawab Jingga tanpa menoleh. Matanya tertuju pada seseorang di sebrang jalan. Ia seperti melihat Keyra bersama seorang pria yang tak familiar.


"Kevin?" gumam Jingga.


"Kenapa, Sayang?" tanya Banyu mendengar gumaman istrinya yang begitu samar.


"Lihat deh, Mas!" Jingga menunjuk sebrang jalan. "Itu kayak Keyra deh."


Menyipitkan matanya, Banyu menatap lekat seseorang yang istrinya tunjuk. "Iya deh kayaknya."


"Itu Keyra sama Kevin?" tanya Jingga entah pada siapa.


_________________


Dikit dulu ya guys, aku lagi dikejar deadline. Pusing banget. Maaf kalau alurnya nggak jelas.


Jangan lupa like dan komen ya❤

__ADS_1


__ADS_2