You Are Mine

You Are Mine
Part 81


__ADS_3

"Neng Jingga," panggil Nia.


"Ada apa Mbak Nia?"


"Itu ada tamu," ucap Nia. Ibu jarinya menunjuk arah pintu masuk.


"Siapa Mbak?"


Nia menggeleng. "Katanya si temennya Mas Banyu," jelas Nia. "Tadi sudah saya suruh masuk juga," imbuhnya.


Jingga mengangguk. Kemudian menyuruh Nia untuk membuatkan minum, dan Jingga bergegas menemui tamunya yang entah siapa.


Saat berada di ruang tamu Jingga terpaku sejenak. Di sana ada Celin sedang duduk manis, melemparkan senyum memukaunya pada Jingga.


Jingga membalas senyum manis Celin. Ia mendudukkan diri di seberang gadis itu setelah menyuruh Celin untuk duduk.


"Mbak Celin, lama nggak ketemu, gimana kabarnya?" tanya Jingga basa-basi.


"Kabar aku baik. Kamu sendiri gimana kabarnya?" tanya Celin balik dengan seulas senyum.


Jingga berdeham. Menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba mendera dirinya.


"Baik, Mbak."


Hening.


Celin hanya kembali tersenyum. Ia sendiri tidak tahu harus memulai percakapan dari mana. Ia tidak terlalu mengenal gadis di hadapannya ini.


"Emm, Banyu ada?" tanyanya kemudian.


"Mas Banyu lagi teleponan sama Bang Rega ... ah Mbak, tolong panggilin Mas Banyu. Bilang ada Mbak Celin," pinta Jingga saat Nia meletakkan satu gelas jus jeruk.


Nia mengangguk, kemudian beranjak memenuhi perintah majikannya.


"Diminum, Mbak. Adanya cuma itu," ucap Jingga.


Celin mengiyakan, sambil menyesap cairan berwarna oranye itu. "Kalian udah lama tinggal di sini?" tanya Celin. Ia memutar kepala, menelisik setiap sudut rumah itu.


"Ya, sekitar dua bulanan lah,"

__ADS_1


"Kamu betah?"


Alis Jingga bertaut. "Betah," jawabnya dengan kepala naik turun.


"Hai, Cel!" Banyu duduk di samping Jingga.


"Hai, Nyu. Lama nggak ketemu, ya"


Banyu terkekeh. "Kamu sibuk mulu si," candanya.


Celin tertawa. "Oh, ya. Aku ke sini mau ngasih ini" Celin mengeluarkan sebuah kertas undangan berwarna coklat. Di atasnya terdapat tulisan nama yang cukup besar.


Mengambil kertas tersebut. Banyu tersenyum kemudian mengalihkannya pada Jingga.


"Syukur deh, kalau kamu mau nikah. Jadi, istri aku nggak cemburu-cemburu banget kalau ketemu kamu," kelakar Banyu. Sedetik kemudian ia meringis mendapatkan satu cubitan panas pada lengannya.


Celin tertawa pelan. "Tenang aja, Jingga. Aku nggak bakal ngrebut suami kamu, kok." Gadis itu tertawa kecil kembali.


"Ya, walaupun butuh perjuangan juga untuk nglupain Banyu," imbuhnya.


Jingga tersenyum canggung. Ia memang masih suka cemburu jika tahu suaminya membuka IG story dari Celin, atau men-tap love foto yang Celin unggah. Baginya, Celin adalah saingan terberat. Selain karena parasnya lebih cantik dan anggun dari Jingga, hubungan mereka yang cukup lama terkadang sering membuat Jingga dilanda rasa tidak percaya diri. Terkadang ia tidak yakin suaminya ini benar-benar sudah melupakan Celin.


"Tadi aku ke kafe kamu, kata karyawan kamu hari ini kamu nggak masuk. Terus waktu aku bilang mau ke apartemen kamu, dia bilang kamu nggak tinggal di sana. Katanya kamu udah pindah. Dia nggak tahu juga sih tepatnya alamat kamu, cuma ngasih tahu kamu tinggal di kawasan sini. Aku juga sempet tanya-tanya sama tetangga kamu, dan akhirnya ketemu deh," jelas Celin panjang lebar.


Banyu mengangguk paham. Mereka masih lanjut mengobrol, membahas siapa calon suami Celin dan membahas beberapa hal untuk berbasa-basi.


"Aku denger kamu sempet keguguran ya, Ji? Aku turut berduka cita dan semoga kalian lekas diberi momongan kembali," tutur Celin dengan wajah sedikit sendu. Ia memang sempat mendengar kabar kehamilan Jingga, lalu tak lama kemudian ia mendengar kabar itu dari salah satu teman kuliahnya.


"Iya, Mbak. Aamiin"


Tak ingin istrinya larut dalam kesedihan mengingat kejadian itu. Banyu mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Cukup lama mereka mengobrol, hingga Nia memotong pembicaraan mereka, karena makan siang sudah siap.


Celin datang memang saat sudah hampir masuk waktu makan siang. Saat Celin dan Banyu mengobrol, Jingga menyempatkan diri meminta Nia memasak untuk mereka. Jingga pun mengajak Celin bergabung makan siang. Dan Celin dengan senang hati menyetujuinya.


Selesai makan siang, Celin berpamitan untuk pulang, karena masih ada beberapa undangan yang harus segera ia antar.


Banyu dan Jingga pun tak bisa lagi mencegah dan membiarkan Celin pergi. Meninggalkan rumah mereka.

__ADS_1


***


Malam hari ini terlihat begitu cerah. Jingga berdiri di tepian balkon, menatap langit malam dengan satu bulan sabit di tengah-tengahnya.


Ada perasaan sedih menjalar ke dalam hatinya secara tiba-tiba. Ia mengusap perut datarnya, mengingat kehamilannya beberapa bulan yang lalu. Perasaan bersalah sekelebat muncul, menjatuhkan setetes air dari pelupuk matanya.


"Mikirin apa?" bisik Banyu tepat di samping telinga Jingga. Sejak tadi ia mengawasi gadis itu dari kamar.


Jingga menggeleng. Berusaha untuk tersenyum. Ia merasakan dekapan pada pinggangnya mengerat. Ia pun menyentuh tangan besar suaminya itu untuk menghangatkan diri.


"Andai dia masih ada, mungkin sekarang kita lagi sibuk mikirin nama sama perlengkapan baby kita." Entah kenapa Jingga tak pernah bisa menyembunyikan apa yang ada dalam kepalanya. Air matanya meluruh, mengalir membasahi pipinya.


Banyu mengusap pipi Jingga dari belakang. Mencium pipi dan pelipis istrinya sedikit lama. Ia menjauhkan bibirnya dari wajah Jingga menatap kecantikan gadis itu dari samping kemudian berkata, "Nggak usah disesali lebih dalam, Sayang. Semua sudah takdir dari Tuhan. Kita hanya tinggal menjalani saja."


Jingga mendesah. "Apa kamu nggak merasa kehilangan? Dulu kamu yang sangat menginginkan hadirnya dia dalam hidup kita tapi kenapa sekarang–"


"Hei, dengarkan aku!" Banyu memotong ucapan istrinya yang mulai melantur.


"Jika aku bilang aku merasa kehilangan, bahkan sangat merasa kehilangan, apa yang akan kamu lakukan?"


Jingga terdiam


"Aku juga merasa kehilangan, Sayang. Aku merasakannya. Tapi, aku lebih memilih diam dan berusaha untuk meralakan kepergiannya. Aku takut kamu akan semakin sedih jika aku tetap meratapi kesedihanku sendiri." Banyu membawa tubuh Jingga untuk menghadapnya.


"Aku hanya tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan dan berimbas pada kita. Terutama kamu." Lengan kekar itu merengkuh tubuh Jingga.


Tak bisa lagi Jingga tahan. Air matanya kembali luruh.


"Maafkan aku!" ujarnya sembari membalas dekapan sang suami. Ia menyembunyikan wajahnya pada dada Banyu.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, Sayang."


Jingga semakin mengeratkan dekapannya. Ia bersyukur kepada Tuhan, karena telah memberinya sosok suami yang begitu pengertian. Sosok suami yang bisa membuat hatinya selalu tenang dan damai.


***


Ya ampun, kalian jahat banget nuduh Celinku yang anggun jadi pelakoe 😭


Etapi makasih udah mau baca, jangan diunfav dulu, ini otw tamat :v

__ADS_1


Jangan lupa like dan komenā¤


__ADS_2