
Banyu membuka bagasi mobilnya. Setelah itu menurunkan beberapa kardus berisi snack yang dibeli Jingga beberapa hari yang lalu. Dibantu oleh beberapa anak panti dan juga seorang bapak penjaga, yang sering dipanggil pak Joko.
Mereka membawa kardus itu masuk ke dalam panti, kemudian membagikannya.
Seulas senyum nampak terbit pada bibir Jingga, melihat betapa senangnya mereka mendapatkan beberapa makanan.
Gadis itu mencari sosok yang selalu menyambutnya penuh antusias. Namun, hingga beberapa menit ia di sana, sosok yang ia tunggu tidak terlihat. Ia pun memberanikan diri untuk bertanya pada salah satu anak panti yang berusia remaja.
"Tadi Kak Celin ke sini. Mungkin mereka sedang bermain di taman belakang," kata anak itu. "Ibu juga ada di sana kayaknya. Makanya kita yang disuruh nyambut Mas Banyu." Imbuh gadis itu.
Jingga hanya mengangguk. Kemudian ia mencari suaminya yang tiba-tiba hilang entah ke mana.
"Kak Jingga!"
Jingga menoleh pada seorang gadis kecil berusia delapan tahun.
"Nyariin Mas Banyu, ya?" tanya gadis itu. Jingga tersenyum kemudian mengiyakan.
"Tadi aku lihat Mas Banyu diajak ibu ke halaman belakang," ucap gadis itu memberitahu.
"Oh, ok. Makasih ya Cika" Jingga mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Mengundang senyuman begitu manis dari gadis berkulit coklat tersebut.
Jingga pun melangkah menyusuri jalan menuju halaman belakang. Sesampainya di sana, Jingga terdiam. Tidak langsung bergabung, ia memilih untuk berdiri mematung di ambang pintu.
Di sana, Banyu tengah bercanda bersama Ibu dan Celin. Tak lupa juga si kecil Icha. Nampak binar bahagia pada keempat orang tersebut, terutama ibu dan juga Icha.
Entah kenapa, rasanya hatinya begitu sakit melihat kedekatan suaminya dengan gadis lain bersama seorang anak kecil yang telah dianggap sebagai anak oleh suaminya. Apalagi melihat senyum ibu yang lebih merekah dari biasanya membuat hatinya tercubit.
"Mama!" Suara Icha membuyarkan lamunan Jingga. Ia tersenyum melihat gadis itu melambaikan tangan padanya.
"Ma, kenalin ini bunda aku," ucap Icha setelah Jingga mendekat pada mereka. Icha memeluk leher Celin semakin erat. Binar matanya menampakkan bagaimana bangganya ia memiliki Celin.
Sekali lagi Jingga tersenyum hambar. Rasanya sangat perih, tapi ia tidak tahu apa alasannya. Bukankah seharusnya ia senang, melihat kebahagiaan terpancar pada Icha. Tapi ... ah sudahlah.
Ibu pamit masuk ke dalam setelah kedatangan Jingga. Kini mereka hanya berempat dengan Icha yang sudah turun dan bersikeras menarik tangan Celin dan Banyu untuk bermain bersama.
__ADS_1
Sesaat Banyu memandang istrinya. Seakan meminta izin untuk menuruti permintaan Icha. Meskipun Jingga tersenyum dan mengangguk, Banyu dapat merasakan kesan dingin dan tak rela pada gadis itu.
"Ayo Yah, Bun, kita main ayunan"
Mata Jingga berkaca saat dirinya tidak disebut. Ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Jingga merasa terabaikan. Celin mencuri setiap perhatian yang Icha miliki. Meskipun merasa sakit, Jingga tetap menyadari, Celin tentu jauh lebih berarti bagi Icha, ketimbang dirinya. Ibarat kata ia hanya ibu tiri sedangkan Celin ibu kandungnya.
Jingga menoleh ke arah kiri, seorang gadis kecil menarik-narik bajunya. Ia memasang senyumnya kembali.
"Kak Jingga mau nggak temenin aku gambar sama teman-teman yang lain?" tanya gadis itu sembari menunjuk beberapa temannya yang sudah berdiri di ambang pintu dengan membawa meja lipat dan juga buku beserta krayon.
"Boleh," jawab Jingga mendapatkan pekikan senang dari beberapa anak panti.
"Kita duduk di sana saja bagaimana? Sepertinya menyenangkan menggambar di bawah pohon. Pasti rasanya sejuk sekali." Jingga menunjuk pada pohon besar yang tumbuh di taman tersebut. Dan semua anak itu mengangguk setuju, kemudian berhambur menuju tempat yang Jingga pilih.
Dari kejauhan Banyu menatap istrinya. Ia tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu saat ini. Ajakan Icha tidak bisa ia tolak sama sekali. Kemudian sebuah ide muncul.
"Icha nggak ikut gambar seperti kakak yang lain?" tanya Banyu sembari menunjuk sekumpulan anak panti dan juga Jingga.
"Gambar?" Icha nampak menimang-nimang tawaran Banyu. Dan anggukan antusias gadis itu menerbitkan satu senyum dari pria itu.
Hanya saja sikap gadis itu terasa sangat dingin. Tidak ada senyum atau yang lain. Jingga hanya menatapnya datar kemudian kembali memperhatikan gadis kecil bernama Cika yang tengah asik mewarnai gambar alam bawah laut.
Banyu tak ingin ambil pusing, ia memanggil seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahunan.
"Esa!"
"Ya, Mas." Anak itu mendongakkan pandangan.
"Mas minta tolong, ambilkan buku sama meja lipatnya Icha, ya!" Pinta Banyu yang diangguki oleh bocah itu.
"Ini, Mas" Bocah itu menyerahkan apa yang Banyu minta.
"Makasih Kak Esa," ucap Icha dengan senyum lebar.
"Sama-sama Icha," balas bocah itu, kemudian berlalu, kembali ke tempatnya semula.
__ADS_1
"Wah Icha mau mewarnai apa?" Suara Celin menginterupsi semua orang yang ada di sana, tak terkecuali Jingga.
"Hai, Kak Celin," sapa seluruh anak-anak panti itu.
"Halo anak-anak. Kalian lagi gambar sama Kak Jingga, ya? Kak Celin boleh gabung?" tanya Celin dengan halus. Tutur kata gadis itu memang sangat lembut dan anggun. Mencerminkan sikap dewasa gadis itu. Menambah nilai plus dari dirinya.
"Boleh," jawab anak-anak itu serempak.
Celin kemudian duduk di samping Icha. Ia memperhatikan gadis itu mewarnai dengan dibantu oleh Banyu.
Dari arah lain, Jingga memperhatikan Celin. Ia jadi merasa semakin minder dengan apa yang Celin miliki dalam dirinya. Kecantikan, kelembutan, keanggunan, dan kecerdasan. Katakan saja Celin itu sempurna. Sedangkan Jingga? Ia merasa menjadi gadis kecil yang belum tahu apa-apa. Jingga kembali mengalihkan pandangan saat Banyu memandangnya secara terang-terangan.
***
Hari sudah beranjak sore. Jingga dan Banyu berpamitan untuk kembali.
Icha yang sudah kembali ke pelukan Jingga, karena Celin sudah pulang sejak tadi, menatap sendu saat Jingga sudah masuk ke dalam mobil. Ia melambaikan tangan secara tidak rela manakala mobil Banyu mulai berjalan keluar gerbang.
Hening melanda. Tidak ada percakapan apapun antara Jingga dan Banyu. Jingga memilih untuk menatap luar jendela. Melihat pepohonan yang seakan berlari mengejarnya.
Jingga mengalihkan pandangan ketika merasa tangannya digenggam.
"Kamu kenapa? Kok diem aja dari tadi," tanya Banyu.
Jingga meggeleng sembari melepaskan genggaman tangan Banyu dengan pelan. "Nggak papa, capek aja," jawab gadis itu kembali menatap jalanan luar. Ia memilih memejamkan mata. Tapi ingatannya malah kembali pada saat Celin berpamitan pulang tadi.
"Ibu senang kalau kalian berdua berkunjung bersama seperti ini." Ucapan itu ditujukan pada Celin dan Banyu, seakan mereka masih sepasang kekasih dan Jingga bukan siapa-siapa.
Mengingat akan hal itu rasanya menyakiti sebagian dari dirinya. Ia merasa ibu sama sekali tidak senang dengan kehadirannya diantara Banyu dan Celin. Tapi apa salahnya? Bahkan dalam masalah ini Jingga juga mengorbankan cintanya.
Huh ...
Jingga menghela napas lelah. Ia merasa hari ini benar-benar menguras tenaga. Apalagi melihat senyum Celin saat bersitatap atau bahkan berbicara dengan Banyu membuat hatinya seperti terbakar.
Apa ini yang namanya cemburu?
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen