You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 6


__ADS_3

Semburat jingga mewarnai langit. Sore yang cukup cerah itu menemani Ata, Dio, dan seorang gadis cantik bermata hazel.


Mereka bertiga berbincang seru. Mengabaikan suasana kafe yang cukup ramai. Ketiganya tampak bercanda tawa bersama.


“Lo inget, Di, waktu lo nembak temen gue tapi ditolak?” Gadis itu tertawa mengingat masa lalu mereka saat masa SMP dulu.


“Ah, temen lo yang tomboi itu?” tanya Ata menimpali. Ia ikut tertawa pelan saat gadis itu mengangguk.


Dio berdecak saat dua temannya itu menertawainya. Mengingat masa lalu selalu membuat dia merasa malu. Dulu Dio pernah menyukai teman gadis itu. Mereka cukup dekat sehingga Dio merasa mereka saling menyukai. Namun, sayangnya saat Dio menyatakan cinta, ia ditolak mentah-mentah di hadapan teman-temannya.


“Astaga, Di,” cibir Ata. Tawanya semakin lebar melihat raut kesal sahabatnya.


Mereka bertiga kembali bercakap-cakap. Membahas beberapa hal lucu. Namun, percakapan mereka harus terjeda saat ponsel Ata berdering.


“Iya, Om.”


“...”


“Iya, aku lagi sama Nana. Iya, Om Dika, nanti aku anterin pulang Nananya. Iya, Om. Ini lagi di kafe deket rumah Kak Caca. Iya, bentar lagi balik, kok. Oke, sama-sama, Om.”

__ADS_1


“Siapa?” tanya Dio penasaran.


“Bokapnya ni anak,” jawab Ata seraya mengedikkan dagunya pada gadis bernama Nana.


“Lo nggak pamit, ya, sama bokap, lo?” tuduh Ata dengan mata memicing.


“Gue pamit sama nyokap, Ta. Lo kan tahu bokap gue jam segini masih di kantor. Gimana sih,” jawab Nana tanpa beban membuat Ata mendengkus.


“Bukannya rumah kalian nggak satu arah, ya?” Dio kembali bertanya pada kedua temannya itu.


“Iya, rumah kita sebenarnya jauh banget. Tapi, sebagai sepupu yang budiman gue bakalan anter dia.”


Ya, Ata dan gadis bernama Nana itu adalah sepupu. Ayah mereka bersaudara. Secara kebetulan Nana satu sekolah dan kenal dekat dengan Dio saat SMP dulu. Hanya saja Nana melanjutkan sekolah SMA-nya di luar kota. Dan hari ini Nana mengajak Dio dan Ata bertemu, karena Nana sangat merindukan mereka.


**


Sarapan pagi ini membuat Rania tersenyum. Gadis itu senang melihat orang tua dan kakaknya menyempatkan sarapan bersama.


Rasanya sudah lama Rania tidak melihat kursi di meja makan ini penuh. Sedikit asing sebenarnya, tetapi rasa asing itu membuat Rania melengkungkan bibirnya.

__ADS_1


“Papa dan Mama hari ini akan pergi ke Jepang,” ucap ibunda Rania memberitahu.


“Bukannya Papa dan Mama baru pulang semalam?” tanya Rania. Ia berharap kedua orang tuanya ini hanya bercanda. Mana mungkin mereka akan pergi lagi, sedangkan keduanya baru pulang saat matahari baru saja tenggelam kemarin.


“Iya, tapi kami tidak bisa untuk tidak pergi, Sayang. Ada proyek penting yang harus kami kerjakan di sana,” jawab ibu Rania dengan seulas senyum.


“Berapa lama?” Suara Rania terdengar sedikit bergetar.


“Mungkin satu atau dua bulan. Tapi, nanti kalau pekerjaan kami cepat selesai, mungkin hanya akan memerlukan waktu satu bulan saja,” jawab ibunda Rania kembali.


“Apa Papa dan Mama tidak bisa pulang lebih cepat? Aku masih merindukan Papa dan Mama. Kalian sudah satu minggu keluar kota dan baru semalam kita bertemu.” Netra gadis itu berkaca-kaca menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


“Rania, Sayang. Kamu ini sudah besar, seharusnya kamu mengerti pekerjaan kami. Ini semua juga demi masa depan kamu.” Wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu menatap putrinya. Tak ada sorot rindu yang terpancar dari sana, membuat hati Rania semakin sakit saja.


Beranjak. Rania pergi meninggalkan ruang makan itu tanpa permisi. Ia terlalu kecewa dengan orang tuanya. Dalam benaknya, Rania bertanya-tanya, apakah mereka sama sekali tidak merindukannya? Kenapa mereka tak pernah sekali pun memperhatikan Rania layaknya orang tua memperhatikan anak gadis mereka?.


Dari ketiga orang yang masih berada di meja makan, tak ada satu pun dari mereka yang beranjak untuk mengejar Rania. Mereka seakan tak tahu, bahwa Rania tengah kecewa dengan mereka.


***

__ADS_1


Jangan lupa


like dan komen❤


__ADS_2