You Are Mine

You Are Mine
Bahkan Kutub Utara Pun Akan Kalah Dari Mu 135


__ADS_3

"Ayok, kita harus berkenalan dengan yang lain." Ajak Akeno. Anya menatap sedih pada pria itu, Akeno bahkan tidak meliriknya. Hatinya tertusuk duri tajam, tidak bisa berhenti menangis, ia di seret keluar setelah tangan Akeno menghempas beberapa kali sebagai kode pada penjaganya.


"Akeno, menoleh lah pada ku." Pinta Anya dalam hati. Ia terus melihat ke arah belakang, di mana pria itu berjalan sambil memegang pinggang Aira. Pria itu tiba-tiba menengok ke arah Anya, di mana wanita tersebut di usir dari ruangan itu.


Senyuman di bibirnya bangkit, nyatanya pria itu bisa mendengar suara hati yang terdalam ini, Anya tidak melepaskan pandangannya, terlebih Akeno pun menatapnya sedikit lebih lama. Sampai akhirnya pria itu memutar kepalanya dan tidak melihat ke arahnya lagi.


Anya tertawa kecil, hatinya yang sakit kini sudah mendapatkan obatnya, yaitu pertanyaan apakah Akeno mencintainya atau tidak, nyatanya pria itu menoleh setelah dirinya memohon.


Acara berlangsung lama, Aira tidak bisa diam, ia duduk dengan memakan buah anggur, namun ada saja seorang wanita yang ingin menjilat dirinya dengan pujian palsu yang mereka katakan.


"Tidak menyangka saya bisa bertemu dengan calon istrinya tuan Akeno . Nona Aira, terima salam ku dengan baik." ucap wanita itu membungkuk kan badannya. Aira membalikkan kedua bola matanya, wanita tersebut heran melihat reaksi dari Aira yang tidak menghormatinya sama sekali.


"Terima kasih." Sampai akhirnya kata itu keluar.


"Sama sama, nona. Senang bertemu dengan Anda." ucapnya lagi. Aira memaksa untuk tersenyum, mana tahu wanita itu malah duduk di dekatnya bagaikan saudara.


"Maaf kan aku, tapi untuk pertemuan pertama kita, seharusnya ada minuman yang menjadi saksi bukan?" Ujar wanita itu. Ia memanggil pelayan yang sedang membawa minuman jus dan alkohol.


"Aku sedang hamil." tolak Aira.


"Oh, benarkah? selamat atas kehamilannya." ucapnya merasa tidak enak.


"Karena itu lah, sebelum memberikan sesuatu, sebaiknya tanya aku, apa aku menyukainya atau tidak!" Timpal Aira yang sangat menohok.


"Maafkan saya jika saya bersalah." Ia hanya datang dan ingin bergabung dengan Aira, namun inilah perkataan yang di layangkan untuknya.


"Masih meminta maaf? seharusnya kau berdiri dan pergi dari sini, kau membuat ku terganggu!" Balas Aira masih dengan santainya, buah anggur itu masuk ke dalam mulutnya seraya matanya melihat ke arah wanita itu yang langsung berdiri tegas.

__ADS_1


"Ada apa? apa aku bersalah?" tanya Aira menaikkan alisnya. Wanita itu menggeleng sebagai jawaban. "Kalau begitu saya akan pergi, permisi, nona." pamitnya. Tak menunggu jawaban, ia langsung pergi karena tidak mau mendengar perkataan yang dapat menyakiti hatinya lagi.


"Huhh! pengacau!" cibir Aira tidak menyukainya. Ia tertawa pelan dengan suara yang merdu. Akeno tersenyum melihat Aira yang masih santai duduk dengan tenang, setidaknya wanita itu merasa senang berada di keramaian orang-orang ini.


"Tuan Akeno, maaf jika saya salah sangka." ucap seorang pria paruh baya.


"Menurut saya, baru beberapa Minggu ini, kabar nona Aira pulang ke Dubai bersama suami dan anaknya, apa itu berita palsu?" tanya pria tua itu. Nafas Akeno tercekat, mengelus hidungnya dengan pelan, ternyata pria itu tahu jika Aira adalah anak dari tuan Ahmad Khan.


Akeno mendekat dan menepuk punggungnya, tersenyum dan berbisik: "Terkadang burung kecil lebih indah suaranya, namun memekakkan telinga seseorang. Jadi, untuk membuatnya bungkam, apa aku harus membunuh nya?"


Pertanyaan itu, sang petuah tadi tidak tahu apa yang harus di jawab, namun melihat watak asli Akeno, ia akhirnya tahu jika burung yang di sebut itu adalah dirinya.


"Aku harus apa?" tanya Akeno lagi.


"Tuan, saya tidak tahu apa-apa, anggap saja tadi hanya bualan saja." ucap pria tua itu langsung, tubuhnya bergetar hebat karena ucapan Akeno.


Melihat Aira yang sepertinya masih nyaman sendirian, Akeno tidak jadi mengajaknya berkeliling.


Setiap kali Akeno di dekati wanita, matanya mengerling. Aira tidak suka, ia merasa tempatnya di sini akan terhempas kan jika ada wanita lain yang masuk ke dalam rumah ini.


Hanya dirinya lah yang boleh memimpin rumah ini.


Pintu masuk acara terbuka kembali, kini menampilkan seorang pria yang berusia 50 tahun. Aditya tersenyum dan masuk ke dalam sana.


Ia berjalan mendekat ke arah Akeno yang jauh berada di sana. Sedangkan pria itu nampak gugup dan ketakutan, melihat ke arah Aira yang juga melihat Aditya.


"Apa yang akan dia lakukan? semoga saja Aira tidak mengenali pria tua itu!" gumam Akeno.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun.... selamat ulang tahun... selamat ulang tahun Akeno, selamat ulang tahun...." ucapan selamat di berikan oleh Aditya. Terlihat kepalan tangan itu, Akeno menggertak kan giginya melihat pria itu berada di sini.


"Selamat ulang tahun, tuan Akeno. Maaf, kedatangan saya sangat terlambat." ucap Aditya tersenyum mengejek.


"Kenapa kau berada di sini?" tanya Akeno mendesis.


"Anda mengundang ku, kan? jadi aku datang. Tidak baik menolak undangan dari seorang Akeno." Ucapan itu bisa di bilang mencibir.


Aditya menatap ponakannya, senyumannya merekah. Ia berjalan mendekat pada Aira yang jauh berada di sana.


"Aira sayang, paman sangat merindukanmu. Kamu pingsan, paman sangat sedih huhuhu..." Aira tiba-tiba mengerutkan keningnya, wajah pria itu tidak sedih sama sekali, malah terbilang memaksa untuk menangis.


"Oh Aira, paman sangat khawatir." Katanya seraya memeluk Aira. Tidak ada penolakan atau pun dorongan, bagi Aditya, itu sudah sangat bagus, terlebih kemarahan ponakannya ini tidak stabil.


'Jangan sampai dia membunuhku tanpa ku ketahui.' batin Aditya sedikit ngeri. Karena takut, ia cepat melepaskan pelukan mereka. Wajah ponakannya sungguh berbeda, biasanya bibir itu selalu tersenyum, tapi kini mukanya sangat merah padam dan dingin.


"Ada apa dengan wajah mu, Aira? Bahkan kutub Utara pun akan kalah dari mu." celetuk Aditya menunjuk pada wajah itu.


"Ckk! berani sekali kau menunjuk ku dengan tangan kotor mu!"


Nah, ini lah yang Aditya takutkan, benar-benar tidak stabil.


"Kau berbeda, Aira." sedikit berakting. Aditya ingin tahu sebagaimana dirinya bisa berdrama seperti di film film.


"Apa maksud mu?" tanya Aira.


Akeno yang melihat Aditya berulah, ia tidak bisa diam, langsung berlari ke arahnya dan menarik pria yang sudah setengah abad namun masih sangat tampan dan gagah.

__ADS_1


"Lebih baik cepat pergi dari sini! aku tidak mau melihat mu lagi!" usir Akeno. Orang terkaya nomor empat di dunia, di perlakukan tidak begitu baik, semua orang sangat heran dengan sikap Akeno yang menentangnya. Bisa di bilang mereka sangat ketakutan jika harus berurusan dengan Aditya.


__ADS_2