
"Di malam hari ini, dengan sambutan yang meriah dari kami, mohon di terima, Lucas, Qivian dan Shi Yi." Mis mengangkat gelasnya seraya bangun dan berdiri memberikan sambutan.
Ketiganya mengikuti pimpinan Mis, juga yang lainnya ikut menyambut mereka. Setelah gelas berdenting dan bersahutan, mereka kembali duduk dan meminumnya.
"Silakan nikmati hidangan spesial dari klan penyembuh." Titah Mis dengan tersenyum pada mereka. Sepertinya memang sifat selalu menurun, seperti kali ini, Tuan Miss selalu tersenyum pada mereka seperti Nona Dewi yang anggun dan cantik.
"Tuan Pemimpin, terima kasih atas sambutan yang begitu hangat. Kami merasa senang dan juga terharu." Ujar Kabir tersenyum.
Semua orang mulai untuk makan malam, Lou Yi dengan senang mengambil makanan kesukaannya. Dew yang melihat itu ikut tersenyum karena hari ini putrinya memakai pakaian hanfu yang sangat cantik dan indah.
(Lou Yi)
"Perjalanan kalian kemari, pastinya akan sangat melelahkan, kami memberikan pelayan untuk kalian jika membutuhkan sesuatu." Ujar Mis menunjuk pada para pria yang di anggap budak di sana.
__ADS_1
Kabir dengan cepat menggeleng dan menjawab, "Tuan Mis, sejujurnya kami tidak merasa kelelahan, jadi tidak perlu mengirim tuan-tuan itu pada kami."
"Apanya yang tuan, mereka semua adalah pelayan, kalian harus menikmati semua yang ada di sana, mereka akan mengikuti kemana pun kalian pergi, jadi tolong terima mereka." Pinta Mis dengan tersenyum. Kabir menghela nafas kecil, ia kemudian duduk lagi, tindakannya barusan di anggap setuju oleh Mis untuk menerima para budak.
Malam hari semakin larut, Kabir menatap ke arah langit, ia melihat bintang dan bulan bersamaan, pikirannya mengingatkan tentang ibunya. Air mata di pelupuk matanya tiba-tiba turun tanpa izinnya.
"Mommy, kamu bertahanlah, jangan biarkan pria itu menyentuh mu sedikit pun!" gumam Kabir memaksa untuk tersenyum. Bayangan masa lalu memenuhinya, di mana kala itu Kabir dan ibunya masih belum bertemu dengan Aryan, yang sialnya itu adalah ayahnya sendiri.
"Ibu tenang saja, aku akan membalas semua ini pada ke dua pria itu! Aryan dan Akeno!" desis Kabir tak terasa tangannya terkepal kuat. Dagunya ia angkat tinggi, menunjukkan amarahnya, dengan hatinya berjanji akan menghancurkan hidup kedua pria itu.
***
Aryan mengecup leher istrinya, membalikkan tubuh Aira dan menghadapnya. Mata indah itu terbuka secara perlahan. Bibirnya menipis dan tersenyum pada pria yang berada di hadapannya.
"Musim gugur, daun berjatuhan, hati senang bagaikan sebuah rasa yang ada di dalam hati kita, tolong jangan biarkan aku berjauhan dengan musim salju kali ini, agar terus memeluk seorang wanita cantik ini." Kata Aryan dengan menatap Aira penuh cinta, pria itu terus mengucapkan kata demi kata yang syahdu, bagaikan seorang penyair.
__ADS_1
"Syair-syair mu, mengingatkan ku pada seseorang." ujar Aira pada pria itu. Aryan mengerutkan keningnya.
"Siapa yang kau ingat selain diri ku, Nona?" tanya Aryan. Bibir Aira mengerucut, "Aku tidak ingat dia siapa, tapi dia juga pernah memberi ku syair yang indah." jawab Aira membalikkan tubuhnya membelakangi pria itu.
"Katakan siapa nona? Apa dia lebih tampan dariku?" tanya Aryan yang langsung membalikkan tubuh istrinya.
"Aku tidak tahu, bahkan aku tidak ingat." Jawab Aira tersenyum malu.
"Oh, benarkah apa yang di katakan tuan putri yang cantik ini?" Tanya Aryan melepaskan tangan istrinya. Aira membuka mulutnya ingin berkata sesuatu, namun ia tidak jadi, menatap pria itu yang kian menjauh.
"Baiklah, aku katakan! Sejujurnya aku tidak tahu, tapi aku merasa itu adalah kata-kata yang sama persis yang di ucapkan oleh mu!" Ujar Aira sedikit berteriak. Aryan membalikkan tubuhnya dengan tersenyum penuh kemenangan, Aryan menatap istrinya yang sepertinya ketakutan.
"Pertemuan kita sampai di sini, aku akan menemui mu di dunia nyata, tunggu lah aku." Teriak Aryan dengan senyuman mengembang, Aira mengerutkan keningnya merasa sedih, waktu begitu sangat cepat, pria itu bahkan belum menciumnya, namun ingin segera pergi begitu saja.
"Aku pergi, Nona." teriak Aryan.
__ADS_1
"Ehhh..." teriak Aira. Bibirnya kembali bungkam, entah apa yang harus ia katakan, tubuhnya seolah tidak bisa bergerak sama sekali.
Aryan tertawa kecil, ia kemudian mendekat kembali, kedua mata itu saling bertatapan dengan angin yang berhembus ke arah rambut sang wanita, mengalun dengan sangat indah. Tangan Aryan menutup wajah istrinya, saat matanya terpejam, ia mengecup bibir Aira yang sangat menggoda batinnya.