
Beberapa hari sudah usai, namun perjalanan mereka masih berada di tempat hutan itu. Kabir menatap langit yang sepertinya mendung, ia kemudian menoleh pada temannya.
"Kita sebaiknya istirahat saja, sepertinya hujan akan turun sebentar lagi." Ujar Kabir.
"Baiklah." Sahut mereka bersamaan.
"Shi Yi, Qivian, aku akan mencari makanan dulu, setidaknya buah pisang dan yang lainnya pasti ada di sini." pamit Kabir pada mereka.
"Kau yakin tidak mau di temani? Tidak takut?" tanya Qivian.
"Tenang saja, aku sudah terbiasa." jawab Kabir. Mereka hanya tersenyum membalas ucapan Kabir.
Mencari buah-buahan di hutan ini memang tidak sulit, namun jika mencari buah sesuai keinginan, maka agak susah.
Di tempat pohon itu terdapat buah apel, Kabir berjalan ke arah sana dengan tenang, di hutan ini sudah tidak ada siapa-siapa lagi selain mereka bertiga.
"Auhhh..." suara orang yang mendesah kesakitan membuat Kabir berhenti melangkah. Suara itu semakin terdengar, dengan rasa penasaran ia kembali berjalan dengan pelan, sebisa mungkin tidak boleh mengeluarkan suara apapun.
__ADS_1
"Aassshhh..." desis suara pria itu lagi. Kabir menoleh ke belakang pohon itu. Seorang pria yang berlumuran darah terlihat seperti menahan rasa sakit yang ada di pahanya.
"Si-apa kau!" teriak pria itu dengan keras juga terkejut. Kabir menautkan alisnya.
"Kau yang siapa? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Kabir balik.
Pria itu menelan saliva nya, matanya menyiratkan kehati-hatian pada Kabir.
"Aku adalah pemilik hutan ini, aku juga berada di bawah hutan Fengyuzen." Jawab pria itu masih waspada terhadap dirinya.
"Jangan khawatir, aku tidak memiliki niat buruk di sini." Ucapnya dengan dingin. Pria itu nampaknya sedikit lega saat mendengarnya.
"Anak kecil, kenapa bisa sampai tersesat, sepertinya aku belum pernah melihat mu di sini. Kau bisa sampai di sini, itu artinya kekuatan mu juga tidak boleh di remehkan." Ujar pria itu dengan sedikit letih.
Kabir hanya mengangguk, ia merobek celana pria yang berada di paha, melihat lukanya yang besar bahkan sampai robek seperti itu.
"Anak kecil, apa panggilan mu? Sepertinya kau memiliki otak yang sangat cerdas, tidak begitu baik jika mengatakan aku memanggil mu anak kecil." Ujar pria itu lagi.
__ADS_1
"Panggil saja Lucas, nama ku Lucas." Jawab Kabir tanpa ekspresi sedikit pun.
Pria itu kemudian melebarkan matanya, seolah pernah mendengar nama itu.
"Apa Anda adalah calon menantu dari keluarga Nona Dew?" tanya pria itu. Kabir menahan nafasnya sebentar, 'menantu' kata itu seolah menghantam jantungnya.
"Ya, aku adalah Lucas, namun tujuan ku ke sini bukan untuk menikah dengan Lou yi." Jawab Kabir. Pria itu tersenyum merekah, "Tuan Lucas, maaf saya tidak mengenali Anda." Kabir menatapnya dingin, sudah terluka namun masih ingin berlutut di hadapannya.
"Lebih baik sekarang obati luka mu sebentar, lagi pula aku masih belum menjadi menantunya, jadi jangan menyebut ku tuan, panggil saja Lucas." Kata Kabir tegas. Pria itu tidak membalasnya lagi. Membiarkan Kabir untuk memeriksa lukanya yang lumayan parah.
"Kau bisa menahan rasa sakit akan besi yang panas? Lukanya akan infeksi jika tidak di lakukan dengan cepat." Ujar Kabir seraya bertanya. Pria itu mengangguk, sesekali meringis saat Kabir akan menyentuh lukanya.
"Tuan Lucas, saya akan berusaha untuk menahan semua rasa sakitnya."
Kabir mengerti, ia mengeluarkan kekuatan apinya, menyatukannya dengan besi agar menjadi panas.
Setelah di rasa sudah cukup, Kabir menekannya di luka sobekan itu.
__ADS_1