You Are Mine

You Are Mine
Kejadian Ini Terulang Lagi, Sesuatu Yang Sudah Tertanam Terlebih Dahulu. 131


__ADS_3

"Mereka bodoh! tidak ada yang mau mendekat pada Aira!" bentak Kagira pada para pengawal. Semua para penjaga saling menunduk satu sama lain, akibatnya mereka lah yang harus di marahi karena tidak ada yang berani mendekat sedikit pun pada nona mereka.


Akeno menggeleng, "Itu adalah kekuatan yang dia miliki ibu, tidak semudah itu mengeluarkannya. Tapi, jika tidak menyelamatkan Aira, dia tidak akan selamat." ujar Akeno bersedih. Hatinya langsung gelisah saat ini.


"Ibu, aku masih belum tahu apa penangkalnya, tapi biarkan aku mencobanya terlebih dahulu dengan kekuatan ku." ujar Akeno menarik tangan ibunya untuk mundur.


Pria itu mulai memejamkan matanya, kemudian energi yang dia miliki bersatu dengan kekuatan dalam tubuhnya, mereka bersatu dengan kombinasi yang sempurna.


Kekuatan itu mengarah pada langit, lalu menyatu seolah bertarung dengan kekuatan yang Aira pancarkan dari tubuhnya.


Hing.....


Suara yang sangat hening membuat mereka semua menutup telinga mereka masing-masing. Akeno tidak bisa bergerak sedikit, suara yang sangat memekik di telinganya seakan ingin menulikan dirinya. Namun, ia masih bertahan berdiri dan mencapai kekuatan tertinggi yang dirinya miliki.


Tubuh Akeno langsung melayang dan terjatuh ke tanah akibat serangan dari orang lain. Ia menggertak kan giginya marah terhadap orang itu, berani sekali dia menyerangnya di saat seperti ini.


Larisa berdiri dengan menyeringai sinis, ia menatap Akeno mencemooh pria itu. Akeno langsung berdiri mengepalkan tangannya.


"Larisa! kenapa kau menyerang ku secara tiba-tiba!" Bentak Akeno tidak terima.


Larisa berdecih, memutar bola matanya lalu berkata: "Kau ingin mati kan? biarkan aku yang membunuh mu."


"Larisa!" sentak Akeno yang tidak menyukai perkataan wanita itu.


"Menggunakan kekuatan mu yang hanya berada di level puluhan saja, apa sanggup menghindar dari kematian akibat serangan darinya?" ujar Larisa menunjuk pada Aira yang masih dalam gulungan ombak.


Larisa menatap Aira, kejadian ini terulang lagi, "Sesuatu yang sudah tertanam terlebih dahulu." ujar Larisa dengan menyatukan alisnya, gulungan ombak itu benar-benar hebat sekali, Larisa bahkan harus di bantu oleh Aditya saat mereka menenangkan wanita itu yang sedang marah.

__ADS_1


"Lalu aku harus apa? jika dia di biarkan, maka nyawanya akan dalam bahaya." ujar Akeno cemas. Larisa menatap Akeno sekilas, kemudian beralih pada Aira.


Di dalam pusaran sana, Aira sedang memejamkan matanya, kepalanya mendongak dan kedua tangannya mengepal di kedua sisinya. Ia menjerit kembali, bukan suara jeritannya yang membuat semua orang merasa tuli, tapi suara dari pusaran itu lah.


"Biarkan aku yang melakukannya, setidaknya aku mempunyai batu permata hati." kata Larisa seraya menunjukkan benda berkilau itu. Akeno ingin sekali menyentuhnya, namun dengan cepat Larisa melihatkan jari-jarinya sehingga menutup keseluruhan benda tersebut.


"Kau bisa bantu aku setelah kekuatan ku menyatu dan menyerang Aira." ucap Larisa. Akeno mengangguk, demi Aira, ia bisa melakukan apapun.


Matanya di pejamkan, dengan kedua tangannya yang menyatu dengan kekuatan yang ada di dalam tubuhnya, Larisa mengangkat tangannya dan akhirnya kekuatan mereka menyatu di atas langit, perlahan namun pasti, kekuatan Aira bisa terkalahkan olehnya.


Larisa membolak kan matanya tajam, "Kekuatan Aira, ini... aku seperti tidak bisa menahannya..." kata Larisa terus berusaha, sedikit demi sedikit kakinya mundur, Akeno langsung ikut membantu setelah melihat Larisa kesulitan.


"Kenapa... elemen ini, seperti tidak bisa di kalahkan?" Larisa memejamkan matanya dan kembali membuka, melihat hasilnya, ia semakin terkejut.


"Larisa, kenapa dia sangat kuat? aku bahkan belum pernah melihat kekuatan sehebat ini." ujar Akeno bertanya, ia melihat Aira yang masih dalam genggaman pusaran ombak cahayanya sendiri.


"Arrrghhhhh!" teriak Aira begitu kencang. Gelombang cahaya itu menghempaskan semua orang yang ada di sana, Larisa terpental jauh, begitu juga dengan Akeno.


Kagira bangkit kembali dan berlari pada putranya, dengan cemas wanita itu menangis karena putranya terluka.


"Aira membuat mu terluka, Nak." lirih Kagira yang tidak terima. Bukannya menyahut, pria itu malah langsung berdiri dan berlari, syukurlah pada saat ini, Aira sudah tidak berada dalam bahaya.


"Akeno!" teriak Kagira, ia berlari kencang mengejar putranya.


"Aira, jangan tinggalkan aku. Ku mohon bertahan lah, jangan tutup mata mu!" Jeritan Akeno menggemparkan semua orang.


Larisa melihat ke telapak tangannya, dia tidak berhasil menyelamatkan Aira, ia menekan lututnya ke tanah, air matanya terjatuh secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Uhuk, uhuk." Akeno kembali bersemangat saat Aira mengeluarkan suaranya, pria itu menangis dan mendekap kembali wanitanya, "Jangan tinggalkan aku, Aira. Kau membuat ku menjadi gila karena kehilangan mu!" Isak pria itu.


Aira mengerjapkan matanya, ia melihat langit yang sudah malam, ia menyunggingkan senyuman nya menatap ke atas.


"Aira," panggil Akeno. Mendengar suara itu, ia menoleh ke arah pria di dekatnya.


"Panggil dokter sekarang juga!" teriak Akeno memerintah. Para pelayan dan penjaga, mereka akhirnya bangkit seraya memegang dada mereka masing-masing, akibat serangan tak terduga, membuat mereka tidak bisa menghindar.


Anya bangun, wanita itu tidak tahu jika Aira memiliki kekuatan yang sangat dahsyat ini, ia berjalan tertatih-tatih, kakinya yang sakit karena terpental jauh dan membuatnya keseleo.


Akeno mengangkat tubuh Aira dengan tenaganya yang tersisa, ia kemudian berjalan, Anya langsung berlari menahan sakitnya, dia sungguh penasaran dengan wujud Aira yang selalu di puji-puji oleh para pelayan.


Kagira ikut berjalan di samping putranya, membuat Anya tidak bisa berkutik, ia hanya mengikuti mereka dan mencari kesempatan untuk melihat Aira yang sedang pingsan.


"Apa yang kau lakukan?" Larisa mencengkram kuat pergelangan tangan Anya, ia meringis saat tangannya di pegang dengan kuat.


"Tolong lepaskan, aku hanya ingin melihat Aira." Anya berusaha melepaskannya, ia menatap punggung Akeno yang semakin menjauh darinya, kesempatan ini tidak boleh dirinya sia-siakan.


Saat menarik tubuhnya agar terlepas, Anya langsung terjatuh ke lantai dengan sangat nikmat, ia meringis dan berteriak kesakitan, tidak terduga Larisa akan melepaskan tangannya tanpa memberi tahu. Al hasil ia terpental lagi.


"Lain kali, jangan lancang!" tegas Larisa. Wajahnya mendekat ke arah Anya, mereka saling berhadapan, menaikkan alisnya ke atas dengan tersenyum sinis, ia lalu berkata lagi, "Ingat posisi mu, kau hanya ****** di rumah ini."


Melangkah maju ke depan, Larisa mengabaikan Anya yang terluka akibat perkataannya.


"Steven..." lirih Anya.


Para dokter berhamburan masuk ke dalam kamar Aira, memeriksa jantung dan hati terlebih dahulu, mereka kemudian memeriksa bagian lainnya, tidak ingin jika sampai melakukan kesalahan sedikit pun.

__ADS_1


"Ibu, apa Aira akan baik-baik saja?" tanya Akeno. Kagira tidak menjawab, ia hanya diam, masih memiliki dendam karena Aira membuat putranya terluka saat tadi.


__ADS_2