You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 19


__ADS_3

“Kak, nanti Bia pulang sama Kak Mika, ya?”


Ata yang tengah fokus pada jalan raya menatap adiknya melalui kaca spion. “Tumben, emang Mika naik apa?”


“Kemarin Bang Rasya pulang. Nanti dia mau ngajak aku sama Kak Mika jalan-jalan,” jawab Bia dengan semringah.


“Udah izin ayah sama mama belum?” tanya Ata. Jangan sampai adiknya ini membuat Ata harus dihukum, karena membuat kedua orang tuanya khawatir.


“Udah, dong. Semalem Bang Rasya sendiri yang minta izin ke ayah.” Jawaban Bia mendapat anggukan kecil dari Ata.


Setelah membelokkan motor ke area sekolah, Ata berucap, “Ya udah. Jangan nyusahin Bang Rasya.”


“Siap Kakakku sayang,” jawab Bia dengan semangat.


Setelahnya, Ata memarkirkan motor dengan rapi. Kemudian meletakkan helmnya dan Bia ke atas spion. Mereka melangkah bersama menuju kelas yang kebetulan satu arah.


“Bi, nanti lo jalan-jalan ke mana sama Bang Rasya?”


“Paling juga ke mal. Nonton, makan, sama main ke timezone.”


“Timenzone mulu otak, lo. Kayak anak kecil aja,” olok Ata.


Mata Bia menyipit tak terima. Ia menghentikan langkah, membuat Ata melakukan hal yang sama. Bia mendongak dengan tatapan tak suka saat mendengar ejekan Ata padanya.


“Biarin, Bia kan emang masih kecil,” ucap Bia kemudian menjulurkan lidahnya. Tangan gadis itu bersedekap dan memasang raut muka kesal yang kentara dengan bibir mengerucut.


“Biasa aja kali, nggak usah marah gitu,” ucap Ata sambil tertawa. Ia kemudian merangkul pundak Bia dan membawanya berjalan lagi sembari mengucapkan kata maaf.

__ADS_1


Saat sampai di depan kelas Bia, Ata menyuruh adiknya masuk. Sedangkan Ata menatapnya penuh perhatian. Cowok itu membalas lambaian tangan Bia sebelum kemudian melangkah pergi menuju kelasnya sendiri.


**


“Vian mana?” Ata bertanya saat Dio dan Alvin menghampirinya ke kelas untuk mengajaknya ke kantin. Dan saat tak didapati salah satu temannya itu, tentu membuat Ata bertanya-tanya.


“Biasa, diajak bokapnya keliling dunia,” seloroh Dio.


“Urusan bisnis maksud, lo?” tanya Ata memperjelas. Dan anggukan Dio merupakan jawaban yang cukup untuk Ata.


Orang tua ketiga sahabat Ata memang memiliki perusahaan. Hanya ayahnya saja yang tak ikut mengelola perusahaan seperti ayah ketiga temannya. Namun, di antara mereka berempat, hanya Vian yang sudah diperkenalkan ke dalam dunia bisnis. Cowok itu kerap kali diajak oleh ayahnya untuk ikut melakukan pertemuan di luar kota, bahkan luar negeri.


Ketiga orang itu masih melangkah santai menuju kantin. Hingga seorang gadis berambut sepunggung dengan bando di kepalanya berhenti tepat di depan mereka.


“Kak Cakra,” panggil gadis itu. Suaranya terdengar sangat manis menembus gendang telinga seseorang yang ia sebut namanya.


Sejenak Ata memindai gadis itu. Ia merasa tak asing dengan figur gadis di hadapannya ini. Jadi, Ata hanya menjawab iya saja, karena masih belum ingat siapa dia.


Ata menjentikkan jarinya sambil tersenyum. “Oh, Pinky Sweet?”


Gadis itu mengerutkan keningnya tak mengerti. Kemudian mengatakan bahwa dia bukan pemilik akun bernama Pinky Sweet yang Ata sebutkan.


“Aku Kania Asmarina, Kak.”


Ata meringis malu, karena salah menebak. Membuat kedua temannya mengulum senyum geli.


Beberapa hari ini Ata memang sedang berkirim pesan dengan dua orang adik kelasnya melalui aplikasi instagram. Hanya saja, selama itu ia tidak benar-benar tahu siapa mereka dan baru kali ini ia melihat secara langsung salah satunya.

__ADS_1


“Oh, Kania. Maaf, ya, aku belum pernah ketemu sama kamu sebelumnya,” ucap Ata membubuhkan satu senyum memesonanya. Tangannya menggaruk kepala belakang secara refleks karena malu.


Gadis itu mengangguk kecil. Kemudian mengangkat satu batang coklat bermerek terkenal yang harganya cukup mahal ke depan Ata.


“Aku mau kasih ini ke, Kakak,” ucap gadis itu tanpa malu. Padahal saat ini mereka tengah berdiri di depan ruang kelas dan ada beberapa siswa-siswi yang memperhatikan mereka.


Ata mengulas senyum. Sejujurnya ia tidak menyangka ada gadis seusia adiknya yang memberinya benda seperti ini di area sekolah. Apalagi di depan muka umum seperti ini.


Ata pun mengambil coklat itu dengan lembut. Ucapan terima kasih meluncur setelahnya dan gadis itu terlihat begitu senang.


“Btw, aku nggak lagi ulang tahun loh. Jadi, dalam rangka apa kamu ngasih aku ini?” Ata menggoyangkan coklat tadi di samping kepalanya.


Gadis itu tersenyum malu. Kepalanya menunduk menatap kedua tangannya yang tengah asyik memilin ujung seragamnya.


“Bukan dalam rangka apa-apa, kok, Kak. Emang lagi pengen ngasih ke Kakak aja. Anggap aja sebagai bentuk perkenalan kita,” jawab gadis itu. Rona merah pada pipinya membuat Ata dan kedua temannya ikut tersenyum. Gadis itu begitu manis dalam pandangan mereka.


“Oke, thanks, ya.” Kata terima kasih itu kembali meluncur dari bibir Ata secara tulus.


Gadis itu mengangguk. “Aku pergi dulu, ya, Kak. Sampai bertemu lagi,” pamit gadis itu dengan binar yang tak bisa disembunyikan. Tampaknya gadis itu begitu bahagia bisa memberikan satu batang coklat berukuran besar tadi pada Ata.


Netra Ata tak lepas memandang pada gadis bernama Kania tadi. Ia ikut merasa senang melihat binar mata bahagia gadis itu. Tak pernah ia sangka, para gadis yang memberinya barang akan merasa sebahagia itu kala ia menerimanya. Padahal kan yang untung Ata.


“Ehem”


Pandangan Ata beralih pada Dio dan Alvin yang kini malah cekikikan. Mereka pasti menertawakannya yang salah menyebut nama gadis tadi.


“Segitu bayaknya cewek yang lo bales chat-nya, ya, Ta, sampai salah sebut gitu,” ledek Dio yang kini tak bisa menyembunyikan tawanya.

__ADS_1


Alvin pun ikut menertawakan Ata meski tanpa suara.


Ata hanya memutar bola matanya malas. Teman-temannya ini pasti sudah hafal kalau dia memang selalu membalas semua pesan dari gadis mana pun, yang ia kenal ataupun tidak. Ata tidak ingin mereka menganggapnya sombong hanya karena tidak membalas pesan mereka.


__ADS_2