
Terhitung sudah empat hari Jingga membantu Banyu di kafenya. Bukan karena disuruh, itu inisiatifnya sendiri.
Hampir setiap hari ia mampir ke sana dan hanya duduk diam sambil makan dan minum. Jika diteruskan hingga satu bulan mungkin berat badan Jingga akan bertambah lima kilo.
Beberapa hari ini pengunjung kafe Banyu membludak, membuat para karyawan Banyu kewalahan. Jingga pun berinisiatif untuk membantu mereka. Menurutnya akan terlalu lama jika menunggu karyawan baru.
Awalnya Banyu menolak. Ia tidak yakin Jingga bisa melakukannya. Jahat bukan? Tapi semua itu memang harus dipertimbangkan. Melihat latar belakang gadis itu tidak pernah melakukan pekerjaan rumah, bukankah sangat meragukan?.
Tapi Jingga tak menyerah. Ia membujuk Banyu, berjanji untuk selalu memperhatikan dengan cermat apa saja yang harus ia lakukan. Ia akan berusaha untuk tidak mengecewakan Banyu dan yang lainnya.
Hasil memang tak akan pernah mengkhianati usaha. Itu pepatah yang tepat untuk Jingga saat ini, karena pada akhirnya Banyu menyetujui permintaannya. Meskipun Jingga harus ditraining selama tiga hari terlebih dahulu, dibawah bimbingan Banyu. Dan sekarang adalah hari keempat setelah menjalani trainingnya.
Dengan langkah pasti Jingga menghampiri meja nomor tiga puluh. Terdapat seorang wanita dan pria duduk berhadapan. Ia mengeluarkan kertas dan pulpennya dan bersiap untuk mencatat apa saja yang akan dipesan pelanggannya kali ini setelah bertanya ingin memesan apa.
"Saya mau pesan ..." Kalimatnya terjeda setalah melihat siapa yang berdiri di samping mejanya. Pria itu memandang Jingga dari atas sampai bawah.
"Ini adik lo kan Ren?" tanya pria itu pada sosok wanita yang duduk di hadapannya.
Wanita itu menoleh. Ia tersenyum mengejek. "Oh, jadi gini kehidupan Lo setelah menikah? Beruntung banget lo yang dijodohin sama dia dan bukan gue."
Jingga sempat terpaku saat ternyata Iren lah pelanggannya saat ini. Namun, mendengar hinaan yang begitu halus dari mulut kakaknya membuat Jingga emosi seketika. Ingin sekali Jingga menampar mulut kakaknya dengan nampan atau apalah. Tapi Jingga masih tahu tempat. Hampir semua pelanggan setia kafe ini tahu siapa Jingga, dan ia harus menjaga nama baiknya di depan semua orang, atau nama Banyu akan ikut tercemar.
"Sabar ya Jingga. Gue tahu kok suami lo itu emang miskin, jadi nggak salah juga kalau lo bantu dia dengan kerja paruh waktu kayak gini." Iren tertawa mengejek lagi. "Untungnya duit kuliah lo udah dibayar lunas sama papa sampai lulus, kalau enggak, mungkin lo harus cuti beberapa tahun biar bisa bayar kuliah." Tawa mengejek dari Iren membuat telinga Jingga semakin panas.
"Lo mantannya Kevin kan? Bisa-bisanya lo milih dijodohin dan kerja kayak gini daripada milih Kevin yang udah pasti terjamin masa depannya." Ejek teman Iren. Jingga pernah melihat pria itu di kampus. Tapi ia sama sekali tidak tahu dan tidak mau tahu siapa pria itu.
Jingga menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralakan emosinya. Tanpa membalas ucapan kakak dan temannya, Jingga kembali memasang senyum secerah matahari.
__ADS_1
"Kakak mau pesan apa?" tanyanya tanpa memedulikan tatapan tidak suka dari Iren.
Dengusan kasar terdengar. Iren paling benci melihat adiknya ini tersenyum. Kemudian tanpa melihat buku menu, Iren meminta pada Jingga untuk menghidangkan menu termahal dan terfavorit.
Tanpa banyak kata, Jingga mencatatnya kemudian mengangguk dan berlalu dari meja tersebut.
"Itu kakak lo kan?" tanya Kikan setelah Jingga kembali ke dapur.
Jingga mengangguk. Ia mengambil segelas cappucino kesukaannya dan menikmatinya di samping Kikan.
"Kok kayaknya lo nggak seneng gitu kakak lo ada di sini." Ucapan Kikan sukses membuat Jingga menoleh.
"Aku nggak deket sama kak Iren," jawab Jingga sembari memasukkan sepotong cake ke dalam mulutnya.
"Ini kue dari twins cake. Mbak Kikan mau?" tawar Jingga. Ia menggeser satu kotak kue yang sengaja ia pesan khusus untuk Kikan.
...
Iren dan temannya telah menghabiskan seluruh makanan yang tadi ia pesan. Tak dapat dipungkiri rasa dari makanan yang ada di sini begitu menggugah seleranya. Mungkin setelah ini ia akan menjadikan BB Kafe sebagai kafe favoritnya. Terlebih bisa melihat penderitaan adiknya membuat Iren semakin semangat untuk sering berkunjung kemari.
Setelah merapikan kembali make up-nya. Iren mengajak Riko, temannya, untuk bergegas menuju kasir dan segera melanjutkan acara mereka berdua.
"Meja tiga puluh, Mas," ucap Iren. Ia megambil selembar kertas berisi total harga yang harus mereka bayar.
Riko memandang bingung pada Iren. Sebab, bukannya langsung membayar gadis itu malah meremas kertas tersebut dengan raut wajah emosi.
"Berapa sih Ren totalnya sampai lo emosi gini." Riko merebut kertas tersebut kemudian membacanya. Ia tercengang setelah membaca isi dari kertas tersebut.
__ADS_1
Kak Iren dan temannya tidak perlu membayar. Kafe kami menggratiskan makanan untuk kaum miskin akhlak seperti kalian.
"Kurang ajar," desis Iren, marah. "Panggil bos lo. Gue mau laporin anak kurang ajar itu." Iren menatap tajam sang kasir yang tak tahu apa-apa.
"Maaf, Mbak kami tidak bisa mempertemukan anda dengan bos kami," ucap kasir itu sopan.
"Gue nggak mau tahu, cepet lo panggil bos lo. Lo bilangin ke dia gue mau laporin salah satu pegawainya." Emosi Iren meluap-meluap. Ia tak segan meminta pada pemilik kafe ini untuk memecat Jingga yang secara tidak langsung telah menghinanya.
Pria yang bertugas sebagai kasir tersebut mau tidak mau menelepon ruangan Banyu. Ia tidak ingin ada keributan terjadi di sini.
Tak lama kemudian Banyu menghampiri meja kasir. Ia bertanya siapa yang ingin melaporkan salah satu pegawainya. Kasir tersebut menunjuk Iren yang tengah berdiri membelakangi Banyu.
"Permisi,"
Iren berbalik. Matanya membulat sempurna melihat adik iparnya berdiri di sini.
"Ngapain lo di sini?" Ketus Iren. Ia menatap tak suka pada Banyu.
"Gue nyuruh lo manggil bos lo. Bukan suami Jingga." Iren menyalahkan kasir tersebut. Ia sama sekali tidak tahu posisi Banyu di sini.
"Ini bos saya Mbak. Dia yang punya kafe sekaligus suaminya Mbak Jingga," jelas pria itu.
Iren semakin terkejut mendengar satu fakta ini. Dulu mamanya bilang, Banyu hanya seorang pegawai kafe. Tapi ternyata?. Huh! Pantas saja Jingga berani padanya.
Tanpa mengatakan apapun Iren melenggang. Meninggalkan Banyu dan pegawainya yang tengah dirundung kebingungan.
Dari dapur, Jingga tertawa terbahak-bahak melihat kakaknya keluar dari kafe dengan segala emosinya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen