You Are Mine

You Are Mine
Part 88


__ADS_3

Perasaan bahagia kembali menyelimuti Banyu dan Jingga. Mereka baru saja keluar dari rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kandungan lebih lanjut. Mereka baru tahu, kandungan Jingga baru berusia tiga minggu. Dua hari setelah kedatangan Dokter Roro, kondisi Banyu berangsur membaik. Ia sudah tidak terlalu mual seperti hari sebelumnya. Dan hari ini mereka memutuskan untuk mengecek kandungan Jingga.


Kedua orang itu memasuki pekarangan rumah mereka dengan senyum yang tak dapat luntur. Mereka segera beristirahat, karena nanti malam mereka akan kedatangan seluruh keluarga mereka.


Mbak Nia hari ini diberi tugas untuk memasak banyak makanan. Untuk meringankan bebannya, ia meminta bantuan dari kedua anaknya.


Di tengah langit sore, Jingga memandang hamparan langit luas. Awan-awan tampak sedikit berwarna oranye. Seulas senyum hangatnya tak lagi bisa ia sembunyikan.


Berulang kali Jingga mengucap kata syukur kepada Tuhan, atas segala nikmat yang telah tercurahkan untuknya. Wanita yang baru berusia dua puluh satu tahun itu mengusap perutnya yang masih terlihat datar. Senyumnya terlihat semakin mengembang. Kebahagiaan yang ia rasakan, sama sekali tak bisa ia sembunyikan.


"Sehat-sehat, ya, Sayang. Kali ini mama akan menjaga kamu dengan benar. Doakan mama bisa melalui semuanya dengan baik, dan kita bisa bertemu di dunia ini," ujar Jingga dengan mata menatap lekat pada perutnya.


"Dan ketemu aku juga," ujar Banyu sembari menyelusupkan tangannya pada pinggang sang istri. Dari arah belakang, Banyu mengusap perut istrinya dengan begitu lembut.


Jingga tersenyum sembari menaikkan pandangan. Tangannya terulur menyentuh satu sisi wajah Banyu, kemudian mengecup pipi dan bibirnya sebentar.


Kedua sudut bibir Banyu ikut tertarik. Ia balas mengecup pipi istrinya sedikit lama.


"Apa Mbak Kikan akan ke sini juga?" tanya Jingga setelah keheningan sempat melanda mereka sejenak. Matanya kembali memandang lurus ke depan. Menikmati pesona langit senja.


"Tentu. Mereka tidak pernah absen dalam setiap rasa sedih yang kita alami. Jadi, mereka juga harus ikut merasakan kebahagiaan kita," jawab Banyu dengan seulas senyum.


"Aku bersyukur Tuhan memberikan kita banyak teman baik. Mungkin jika tidak ada mereka, aku sudah terpuruk sendiri setelah kejadian itu." Jingga menghela napas. "Ya, meskipun setelah itu aku bisa merasakan kasih sayang mama. Tapi, tetap saja aku menyesalinya."


Banyu ikut mengembuskan napasnya pelan. Ia menyentuh bahu sang istri, kemudian memutarnya supaya berhadapan dengannya.


"Sayang, aku tahu semua itu sangat berat untuk kamu. Tapi, bisakah kamu melupakannya dengan perlahan? Ingat, sekarang Tuhan telah menggantikannya. Dia hadir kembali untuk kita," ujar Banyu.


Menatap mata sang suami. Senyum Jingga terkembang begitu saja, namun matanya juga berkaca-kaca.


"Maaf! Aku janji, setelah ini aku akan melupakan semua itu. Aku akan lebih berusaha menerima," balasnya. Ia memeluk tubuh suaminya dengan hangat.


Mereka saling berpelukan dalam waktu cukup lama. Hingga sebuah mobil terdengar masuk ke dalam pelataran rumah mereka.


Banyu melongok dari balkon, melihat siapa yang telah tiba, padahal hari masih sangat terang. Dan rencananya mereka akan melakukan makan malam, yang mungkin baru akan siap satu hingga dua jam lagi.


"Siapa?" tanya Jingga mengikutsertakan kepalanya melihat halaman depan.


"Si Gembul," jawab Banyu bersemangat.

__ADS_1


Mereka berdua lantas turun untuk menyambut Kikan dan Deva yang mungkin sudah masuk ke dalam rumah. Dan benar saja, tanpa disuruh, ketiga orang itu sudah duduk di depan televisi Banyu.


Banyu segera mengangkat tubuh baby Rasya untuk ia bawa ke dalam kamarnya. Di sana, ia memiliki banyak mainan yang sengaja ia siapkan saat Deva dan Kikan berkunjung.


Deva hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kebiasaan Banyu. Namun, tak ayal ia mengikuti langkah pria itu juga.


Sedangkan Jingga. Wanita itu menemui Kikan. Mereka berbincang-bincang sembari menikmati teh hangat dan beberapa toples biskuit.


Malam pun tiba. Seluruh anggota keluarga telah hadir di rumah Banyu. Mereka telah berkumpul dan tengah menikmati makan malam.


Setelah semua selesai, Banyu mengumumkan akan kehamilan Jingga. Semua tampak sangat antusias. Tak tertinggal ibunda Jingga juga. Wanita yang dulu sangat cuek dan tidak peduli pada putri keduanya kali ini tampak begitu bahagia. Tanpa sungkan wanita itu menciumi seluruh wajah Jingga.


Perasaan haru tentu menyelubungi hati Jingga. Ia tidak pernah membayangkan ibunya akan seantusias ini. Untuk kesekian kalinya Jingga mengucap syukur atas apa yang Tuhan berikan.


"Apa mama perlu menginap di sini, supaya ada yang membantu kamu?" tanya Kiran. Mereka tengah duduk di ruang keluarga.


Jingga tersenyum. Ia menatap suaminya sejenak sebelum kembali menghadap pada ibunya. Tangannya menyentuh tangan ibunya yang mulai keriput.


"Tidak perlu, Ma. Aku pasti bisa menjaga diriku sendiri di sini. Lagi pula ada Mbak Nia. Tapi mama boleh sekali-kali menginap," jawab Jingga. Matanya memancarkan kehangatan dan keharuan.


Kiran mengembuskan napasnya pelan. "Beneran nggak papa?" tanyanya memastikan.


"Kamu juga bisa menghubungi bunda jika memerlukan sesuatu, Sayang," ujar Ika dari arah seberang.


Senyum Jingga berkembang semakin lebar. Ia amat bersyukur dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya.


Kali ini suasana hangat itu benar-benar lengkap. Ibunya menjadi lebih antusias dari yang ia bayangkan. Ibu mertuanya yang selalu baik. Dan di sebelah ayahnya, Iren sang kakak terlihat menatapnya hangat, meskipun tak mengeluarkan suara sama sekali.


Lagi dan lagi. Rasa syukur itu mengerubungi benak Jingga. Hingga air matanya hampir saja menetes melihat semua orang tersenyum dan tertawa di sebelahnya.


***


Empat bulan berlalu begitu cepat. Jingga terlihat lebih aktif setelah kehamilannya. Meskipun terkadang ia didera mual atau morning sickness, tak membuat Jingga hanya tiduran saja.


Kehamilan kali ini menurut keduanya sangat berbeda dengan kehamilan awal kemarin. Kehamilan saat ini Jingga sering ngidam. Wanita itu berkali-kali membuat Banyu kewalahan dengan setiap permintaannya yang terkadang sangat menjengkelkan.


Pernah sekali Banyu merasa geram. Lantaran saat jam sepuluh pagi, wanita itu meminta Banyu untuk membawakannya rendang buat sang bunda. Banyu pun menyanggupinya, karena sang bunda memang ahli dalam hal memasak. Dan dua jam setelahnya, saat ia mengantarkan makanan tersebut ke kampus Jingga, wanita itu malah mengatakan sudah tidak ingin, karena terlalu lama.


Saat itu Banyu hampir saja menangis, lantaran terlalu lelah bolak-balik dari kafe ke rumah dan kembali ke kampus Jingga. Jarak antara rumah keluarganya dan kafe memang cukup jauh, hingga membutuhkan banyak waktu dalam perjalanan. Ditambah tatapan mesum para gadis-gadis lajang di kampus Jingga membuatnya risi. Bahkan salah satu dari mereka ada yang dengan terang-terangan menggoda dirinya.

__ADS_1


Namun, lama kelamaan Banyu mulai terbiasa dengan permintaan Jingga yang aneh-aneh. Ia berusaha menyabarkan dirinya sendiri dengan setiap kelakuan nyeleneh istrinya.


Seperti hari ini. Wanita itu sedang ke luar rumah. Pergi ke toko yang tak jauh dari rumah mereka, dan Banyu diharuskan untuk menunggunya di ruang keluarga.


Hari ini hari Minggu, jadi rumahnya sepi, lantaran Mbak Nia dan sopirnya libur.


Setengah jam Banyu menunggu hingga merasa bosan. Istrinya tak kunjung datang. Ia hampir saja tertidur, saat suara menggelar istrinya menggema dari arah pintu depan.


"Sayang! Kamu di mana?"


"Di sini!" jawab Banyu sama berteriak. Tak lama kemudian sang istri terlihat. Wanita itu mengenakan daster berwarna biru bermotif bunga, dengan rambut diikat rendah. Meskipun hanya berpenampilan sederhana, pancaran kecantikannya tak bisa Banyu tepiskan.


"Lama, ya?" tanya Jingga seraya duduk di samping Banyu.


Banyu hanya melirik istrinya saja, lalu kembali memandangi layar televisi yang tengah menayangkan berita.


"Ecie ngambek!" Jingga menusuk-nusuk pipi Banyu dengan jari telunjuknya. Yang mau tak mau menarik sudut bibir suaminya.


"Dari mana aja si, kamu?" tanya Banyu akhirnya.


"Dari warung depan" Menunjuk arah seberang rumahnya. "Tadi ada Bu Rina sama Mbak Nila, jadi ngobrol dulu" Satu senyum lebar Jingga berikan pada suaminya.


"Terus, kamu beli apa di sana?" tanya Banyu heran.


Jingga mengangkat satu kantung plastik kecil berisi ikat rambut kecil warna-warni. Senyumannya teramat lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya.


Kening Banyu mengernyit. "Buat si beli gituan?" Suara decakan terdengar keluar dari bibir Banyu beserta gelengan kepala.


"Buat kamu,"


Alis Banyu semakin bertaut mendengar ucapan Jingga. Ia tak habis pikir untuk apa Jingga membeli ikat rambut sebanyak itu untuk dirinya. Rambutnya memang mulai panjang. Namun, untuk mengikat rambut, Banyu masih belum tertarik.


Tanpa menunggu persetujuan dan memberikan pencerahan pada suaminya. Jingga menghela Banyu ke kamar dan secara paksa mendudukkan pria itu di tepi ranjang. Kemudian ia mengambil sebuah sisir dan beberapa alat make up. Setelah itu Jingga menyalakan sebuah video tutorial merias wajah secara natural. Dan ikat rambut tersebut rencananya akan ia gunakan untuk mengikat rambut Banyu secara acak.


Sedangkan Banyu. Ia hanya bisa pasrah tanpa bisa menolak. Karena sebelumnya wanita itu sudah mengatakan bahwa ini adalah keinginan anaknya. Entah semua itu sebuah tipuan atau apa pun. Namun, Banyu tetap tak bisa membantah. Sekeras apa pun Banyu menolak. Wanita itu pasti akan punya cara untuk membuatnya luluh dan menerima setiap perlakuannya.


***


Haii, aku kembali😌

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen untuk cerita yang hampir tamat iniā¤


__ADS_2