
Siang berganti petang, seiring hilangnya sinar mentari yang begitu terang. Bulan naik dengan begitu congkak, memamerkan keindahan sinarnya.
Detik jam terus berputar hingga larut malam. Suhu udara turun begitu drastis. Namun, sama sekali tak dihiraukan oleh sepasang manusia yang tengah bergumul di bawah selimut. Keringat yang tengah membanjiri tubuh mereka terkesan mengejek pada suhu dingin malam ini. Tak peduli dengan udara dingin yang hendak merayap mengelilingi tubuh mereka. Kedua manusia itu terus memacu dan pekikan nama keduanya menandakan berakhirnya kegiatan panas mereka.
Banyu menarik selimut semakin tinggi. Menutupi seluruh tubuh polos istrinya. Ia memandangi wajah cantik Jingga meskipun matanya tengah terpejam. Ia membelai pipi lembab istrinya dengan jari telunjuk. Senyumnya tak bisa ia tahan mendengar deru napas bersahutan dari istrinya. Tak tahan melihat istrinya yang begitu menggemaskan, Banyu mencium pipi wanita itu sedikit lama, hingga sang pemilik membuka matanya waspada.
Jingga memundurkan wajah Banyu dengan telapak tangannya. Ia menatap nayalang pria itu. "Capek, Mas." Membalikkan badan, Jingga memunggungi suaminya yang tengah terkekeh.
Tak hilang akal, Banyu kembali mendekati istrinya, memeluknya dari belakang. "Masa udah capek sih?," goda pria itu. Ia menyurukkan kepalanya pada leher Jingga.
Gadis itu mendengkus seraya menggoyangkan kepalanya. "Udah ih, aku ngantuk, besok harus berangkat pagi," ujarnya sedikit kesal.
"Iya-iya!" Sudahlah Banyu menyerah untuk kembali menggoda istrinya. Ia mengangkat kepalanya, menjajarkannya dengan kepala Jingga. Satu kecupan tak lupa ia tinggalkan sebagai rasa terima kasihnya malam ini. Kemudian mengikuti intruksi Jingga untuk segera melabuhkan diri ke dalam mimpi.
***
Keesokan harinya
Banyu berjalan menuju ruangan khusus milik Kikan dengan ponsel dalam genggaman tangannya. Ia bersuara saat masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Tadi gue udah ngehubungin Deva. Nanti lo pulangnya dianter dia. Gue harus cepet pulang ke rumah, Dika mau lamaran."
Kikan berdiri dari duduknya, menatap Banyu dengan kesal, seraya berkata, "Nyu, gue bawa motor sendiri. Ngapain harus dianter Deva sih."
Menaikkan kedua alisnya, Banyu memasukkan ponsel yang tengah ia genggam ke dalam saku kemejanya. "Terlalu bahaya, Ki, kalau lo pulang sendiri," jelasnya. "Bukannya udah biasa ya Deva nganterin lo pulang?. Dari kemarin kan lo juga gue anterin gara-gara Deva masih di luar kota. Nah, hari ini dia udah balik dan gue harus cepet pulang untuk persiapan acara lamarannya Dika."
__ADS_1
"Gue tu lagi kesel sama dia, Banyu!," sergah Kikan.
Banyu memicingkan matanya. "Pokoknya gue nggak mau tahu. Lo harus balik bareng dia atau lo pilih nginep di sini?"
"Maksa banget sih, lo," sentak Kikan frustasi. Beberapa hari ini ia sedang berada pada suasana hati yang begitu buruk. Dan sekarang Banyu malah menyuruhnya untuk pulang bersama orang yang sudah menghancurkan suasana hatinya.
Astaga! Kikan menggeram dalam hatinya. Gadis itu semakin kesal saat Banyu tiba-tiba berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata, yang artinya ia harus menuruti perintah atasannya itu.
***
Banyu: Aku udah di depan kampus kamu.
Send to my wife
Jingga: Ok, aku udah izin ke dosen. Aku otw ke sana.
Banyu tersenyum menatap balasan pesan dari sang istri. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi mobil. Matanya terpejam untuk mengurangi sedikit rasa lelah yang tengah mendera.
Akhir-akhir ini Banyu sangat sibuk. Mengurusi acara lamaran adiknya dan juga sahabatnya dalam waktu yang sama sangat menguras tenaganya.
Mata Banyu terbuka bersamaan dengan pintu mobilnya yang juga terbuka. Ia tersenyum menatap istrinya. Memajukan wajahnya pada dang istri, Banyu mencium pipi gadis itu, sesaat setelah Jingga duduk. Ia terkekeh melihat semburat merah muda menyebar pada wajah Jingga. Kekehannya menjadi tawa saat sorot mata istrinya berubah tajam.
"Kalau ada yang liat gimana?." Mata gadis itu menatap sekeliling. Untung saja area ini sangat sepi. Membuatnya bisa bernapas lega.
"Ya nggak papa 'kan? Siapa yang bisa nglarang suami nyium istrinya?." Banyu menaikturunkan alisnya disertai senyum jahil.
__ADS_1
Jingga hanya menatap suaminya dengan bibir mencebik. Setelahnya ia menyuruh Banyu untuk segera melajukan mobilnya, karena hari sudah semakin siang. Mereka juga harus mampir ke toko kue untuk mengambil pesanan bunda.
Sesampainya di kediaman Banyu. Jingga segera ikut membantu para asisten rumah tangga untuk menyiapkan hantaran yang akan mereka bawa.
Di ruangan lain
"Nanti kita nentuin tanggal pernikahan mereka sekalian, Yah?" tanya Banyu pada ayahnya yang tengah berada di ruang kerja pribadinya.
"Iya. Dika bilang udah punya tanggal, cuma belum diomongin sama keluarga Erika." Pria paruh baya itu menyeruput kopinya dengan tenang. Kemudian meletakkan kembali ke atas meja. "Nyu, kamu beneran nggak mau ikut megang perusahaan ayah?"
Banyu menatap ayahnya. Mengembuskan asap rokok ke sisi kanannya, kemudian menjawab, "aku udah pernah bilang 'kan, Yah, aku nggak suka kerja di perusahaan, apalagi jadi pemimpin. Lagi pula restoran sama kafe aku juga rame." Ia mematikan rokoknya, memasukkannya ke dalam asbak sebelum menyandarkan punggungnya pada sofa.
Ayah Liyas tampak menghela napas. "Tapi perusahaan butuh kamu, Nyu," ucap pria itu penuh penekanan.
"Kan ada bang Rega, Yah."
"Rega saja tidak cukup. Kamu juga tahu bagaimana kemampuan dia. Butuh waktu sangat lama untuk Rega mempelajari sesuatu yang baru."
"... "
"Cuma kamu satu-satunya harapan ayah untuk meneruskan perusahaan," lanjutnya. Ia menatap putranya mengiba. Sudah sangat lama ayah Liyas ingin membahas ini dengan putra ke-duanya. Tetapi tidak pernah bisa, karena Banyu jarang sekali berada di rumah ini.
Banyu menghela napasnya. Ia berpikir sejenak sebelum berkata, "Aku akan memikirkannya." Tak lama kemudian mereka keluar dari ruangan tersebut setelah seseorang memanggil mereka untuk segera bersiap.
*******
__ADS_1
Yuhuu aku kembali😋
Jangan lupa like dan komen ya❤