You Are Mine

You Are Mine
Part 37


__ADS_3

Malam mulai menyelimuti bumi. Ditemani bulan dan para bintang serta angin malam yang tidak terlalu kencang.


Tidak seperti biasanya, malam ini Jingga mengajak sang suami mampir ke taman di dekat kafe. Katanya ia sedang malas untuk pulang, ia ingin merasakan keramaian malam layaknya para anak muda zaman sekarang.


Duduk ditepian taman sembari menyaksikan langit penuh bintang. Jingga tersenyum sendiri mengingat kejadian tadi. Perasaan senang dan menyesal membaur menjadi satu dan sedikit mengusik pikirannya. Jingga tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya. Ia sendiri juga bingung bagaimana bisa ia melakukan hal seperti tadi.


Jingga meletakkan dagunya pada lutut yang ia tekuk. Ia menoleh saat suaminya datang membawa dua gelas minuman hangat dan dua kantong burger. Angin menerbangkan rambutnya yang tak terikat, membuat Jingga harus menyingkirkannya dari wajah.


"Aku tidak tahu apa yang membuat kamu melakukan hal seperti tadi kepada Iren. Tapi jujur saja, aku kurang suka," ucap Banyu tiba-tiba sembari menyodorkan burger pada istrinya.


Gadis itu tersenyum kikuk. "Ya, aku tahu aku salah." Mengembuskan napas pelan. Jingga kembali menatap lurus ke depan. Setelah menelan satu gigitan burger Jingga berkata, "dulu aku bisa menahan diri, tapi saat mendengar dia ngatain kamu kayak gitu aku merasa nggak terima."


"Sepertinya bukan itu alasan utama kamu. Aku yakin kalian memiliki masalah lain sebelumnya." Banyu menatap lekat wajah istrinya. "Kamu bisa cerita ke aku kalau kamu mau."


Jingga menoleh. Rasa ingin bercerita kepada orang lain tentu ada, tapi semua itu akan membuka sebuah luka. Mengingatkannya pada kejadian masa lalu, dimana penyebab utamanya sebenarnya adalah dirinya.


Banyu tersenyum tipis mendapati Jingga menggeleng. Meskipun sedikit kecewa Banyu berusaha untuk mengerti keadaan istrinya. Mungkin memang sangat menyakitkan. Pikirnya.


Mereka berdua larut dalam keheningan. Keramaian jalan sama sekali tak mengusik keterdiaman Jingga.


Setengah jam berlalu. Satu cup cappucino Jingga tandas beserta burgernya. Gadis itu mengajak Banyu untuk kembali ke apartemen.


Suhu udara luar mulai menurun. Beberapa kali Jingga mengusap lengannya, menghalau rasa dingin yang mulai menerpa. Jingga tersentak, pipinya memanas ketika Banyu merapatkan tubuh mereka.


Kaki mereka terhenti di samping motor. Banyu menghadap pada istrinya, Jingga. Kemudian ia melepas jaketnya dan memakaikannya pada sang istri.


"Loh, kok dipakaikan ke aku, Mas? Dingin loh harusnya Mas Banyu yang makai jaketnya bukan aku." Jingga hendak melepas jaket yang telah terpasang sempurna pada tubuhnya. Tapi urung, tatkala tangan Banyu menghentikan pergerakannya.


"Aku nggak bakal kedinginan selagi kamu meluk aku dengan erat saat naik motor nanti."


Jingga melotot, pipinya memerah kembali.


Tak ingin mendapatkan penolakan dari istrinya, Banyu segera menyalakan motor, kemudian melajukannya setelah sang istri ikut naik.


Banyu tersenyum semringah mendapati dekapan Jingga dari belakang. Terasa begitu hangat dan ...


Pria itu segera menggelengkan kepalanya. Menghilangkan segala pikiran kotor yang tiba-tiba merasuk ke dalam kepalanya.


...


Minggu pagi yang begitu cerah. Seorang gadis dan kedua sahabatnya tampak memasuki aula restoran ternama yang ada di kota ini. Mereka bertiga duduk bersisihan. Sebentar lagi seminar akan segera dimulai. Hampir seluruh teman satu jurusan Jingga mengikuti seminar tersebut. Karena seminar itu diadakan oleh kampus Jingga dan diselenggarakan di sini.


Dua jam telah berlalu. Setelah seminar selesai Riana mengajak Jingga dan Keyra untuk makan siang terlebih dahulu. Gadis itu tidak boleh terlambat makan. Jadi dengan senang hati kedua sahabatnya itu menyetujui permintaan Riana, karena mereka sendiri juga merasa lapar.


Mereka bertiga duduk di dekat jendela. Tempat favorit mereka.


Jingga meneliti restoran tersebut. Cat dinding berwarna coklat, dihiasi lukisan kuno berukuran besar. Memberikan kesan sederhana namun menarik. Seperti pemiliknya, batin Jingga. Tempat duduk yang begitu nyaman dan memiliki sandaran yang cukup tinggi, menambah kesan privasi bagi setiap pengunjung.


Mata gadis itu berhenti meneliti saat pelayan membawa pesanannya dan juga temannya. Ia ikut tersenyum saat para pelayan itu mengangguk dan memberikannya sebuah senyuman yang ia tahu apa artinya.


Mereka bertiga mulai menyantap makanan sembari mendengarkan ocehan Riana. Ya, gadis itu memang memiliki selera humor yang begitu tinggi. Tapi, tiba-tiba mereka berhenti tertawa saat melihat segerombolan pria masuk ke dalam restoran, melewati meja mereka dan duduk tepat dibelakang Jingga.


"Kevin" bisik Riana lirih.

__ADS_1


Suara tawa segerombolan itu terdengar jelas ditelinga mereka.


"Astaga, Vin. Berhari-hari lo nggak keliatan, muka lo tambah kucel," ucap salah seorang dari mereka. Diikuti suara tawa yang lain.


Kevin memutar bola matanya. Tak menanggapi apapun yang temannya katakan.


"Lo masih galau ditinggal nikah sama tu cewek?" Semua kembali tertawa.


"Diem lo!" sentak Kevin.


"Wah, udah nggak bener nih. Masa Kevin jatuh cinta sama si cewek taruhan itu."


Deg, Jingga meremas ujung bajunya. Sedari tadi Jingga memang mendengarkan apa yang mereka katakan. Meskipun tersekat sandaran sofa yang cukup tinggi tak membuat suara mereka yang cukup keras teredam begitu saja.


"Semoga yang dimaksud bukan gue." Lirih Jingga berharap.


"Astaga, Vin. Nggak mungkin lo beneran suka sama cewek cupu kayak dia. Ya emang cantik sih. Tapi masih cantikan juga kakaknya, si Iren."


Jingga melebarkan matanya. Iren?


"Udahlah, Vin. Cewek kayak Jingga tu nggak usah lo pikirin sampai kayak gitu. Inget! dia itu cuma bahan taruhan antara kita. Kita juga nggak bakal minta mobil itu lo kembaliin gara-gara dia yang mutusin lo."


Jingga dan ketiga temannya kembali terkejut dengan fakta yang baru saja mereka dengar. Jingga sudah tak tahan lagi. Ia berdiri, kemudian menghampiri meja Kevin dan teman-temannya yang berada tepat dibelakangnya.


"Oh, jadi selama ini lo pacaran sama gue biar bisa dapet mobil?"


Kevin menoleh mendengar suara gadis yang ia rindukan beberapa hari ini.


"Jingga" gumam Kevin.


"Jingga, please dengerin penjelasan aku dulu."


"Penjelasan? Apa yang harus dijelasin lagi? Gue udah denger semuanya." Jingga mundur satu langkah saat Kevin mencoba mendekatinya.


"Semua yang kamu denger ini salah."


Byur


Tak segan, Jingga menyiram Kevin dengan jus mangga yang ia bawa.


"Itu yang namanya salah?."


"Heh, Jingga. Berani lo ya!" Salah seorang teman Kevin berdiri.


"Apa? Gue nggak takut sama kalian."


Riana dan Keyra dibuat melongo dengan apa yang Jingga lakukan. Sangat jauh dari sifat aslinya.


"Gue nggak nyangka, Kev, kata cinta yang setiap saat lo ungkapin ternyata cuma kebohongan belaka." Jingga menggeleng. "Nggak salah gue milih nikah sama Mas Banyu dan ninggalin, lo."


Kevin menggeleng. Menatap sendu mantan kekasihnya itu. "Jingga, please dengerin aku. Jangan seperti ini, Jingga. Nggak semua yang mereka katakan itu bener." Kevin hendak menyentuh tangan Jingga tapi ditepis. "Aku beneran cinta sama kamu, Jingga."


"Gue nggak percaya sama omongan lo, Kev." Jingga menatap benci pada pria itu. Pria yang masih memiliki sedikit tempat di hatinya. Tapi, tidak lagi untuk sekarang. Jingga berjanji akan menghilangkan rasa cintanya pada Kevin dan akan mulai belajar mencintai suaminya sendiri.

__ADS_1


"Dan untuk kalian semua." Jingga menatap semua teman Kevin. "Gue cuma mau ngucapin terima kasih. Berkat kalian gue bisa ngrasain apa itu pacaran." Jingga menyunggingkan satu sudut bibirnya. "Sebagai rasa terima kasih gue, gue bakal nraktir kalian semua."


"Jingga, lo serius? makanan di sini cukup mahal, lo nggak dimarahin suami lo?" bisik Keyra.


"Cewek kayak, lo, mau nraktir kita?" Salah satu teman Kevin tertawa. "Mana bisa lo bayar makanan kita semua?"


Jingga tersenyum pongah. Ia melambaikan tangan memanggil seorang pelayan.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang pelayan wanita setelah mengangguk hormat pada Jingga.


"Panggilkan manajer!"


Pelayan itu kembali mengangguk. Tanpa bantahan ia meninggalkan Jingga dan teman-temannya.


Tak lama kemudian seorang pria datang menghampiri mereka. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak Jingga?"


Semua orang terkejut mendengar manajer itu menyebut nama Jingga.


"Anda masih mengenali saya ternyata?"


Manajer itu hanya tersenyum.


"Oh ya, sampaikan pada suamiku. Hari ini aku mentraktir teman-temanku. Segera siapkan makanan terenak dan termahal di sini." Ucapan Jingga menambah keterkejutan mereka semua. Tak terkecuali Keyra dan Riana.


"Baik, Mbak. Nanti saya sampaikan." Setelah mengatakan itu manajer pamit untuk kembali ke belakang dan melaksanakan perintah Jingga.


Jingga kembali menatap teman-teman Kevin. "Itu sebagai rasa terima kasih gue untuk kalian semua. Huh lagi pula gue nggak sudi nerima duit dari kalian." Tanpa mengucapkan apapun lagi, Jingga pergi meninggalkan mereka semua, termasuk kedua sahabatnya.


"Gue kecewa sama lo, Vin. Gue kira lo beneran cinta sama Jingga. Gue nyesel pernah bantu lo buat deketin dia," ucap Keyra.


Tidak ada yang tahu, bahwa Keyra pernah membantu Kevin mendekati Jingga. Keyra pikir Kevin telah berubah saat mulai mendekati Jingga. Tapi ternyata semua salah.


Kevin termangu. Namun tak lama kemudian ia kembali sadar dan berlari mengejar Jingga. Tapi terlambat. Jingga sudah masuk ke dalam taksi.


"Masih punya muka lo ngejar Jingga?"


Suara Keyra menginterupsi pendengaran Kevin.


Ia berbalik menatap sahabat mantan kekasihnya.


"Key, please! bantuin gue kali ini. Gue cinta sama Jingga."


"Gue nggak sudi bantuin cowok kayak lo."


Kevin terus memohon pada Keyra. Tapi tetap saja Keyra tak mengindahkan permintaannya.


.


.


.


.

__ADS_1


Hai semuanya. Maaf ya, aku lama nggak update. Satu minggu ini aku sibuk banget, di rumah ada acara. Kemarin aku juga sakit karna kecapekan. Doa-in cepet sembuh ya, biar bisa update lagi. Dan semoga kalian bisa ngertiin aku.


Terima kasih buat kalian yang sabar nungguin cerita ini. Jangan lupa like dan komen ya...


__ADS_2