
Itu lah pemberian nama untuk Aira dari para pelayan yang pernah di perlakukan tidak baik atau pun masih belum mendapatkannya.
Mereka semua seolah menjadi dendam. Terlebih, sudah ada tiga pelayan yang mati di bunuh hanya karena kesalahan kecil, benar-benar kejam. Pikir mereka.
Via berlari ke arah Anya, mereka di ruangan berbeda, karena Via harus melakukan tugasnya terlebih dahulu sebagai pelayan, sedangkan Anya, sebagai wanita penghangat ranjang tuan Akeno, tidak perlu melakukan apapun. Bisa di anggap, jika dia adalah wanita yang di spesial kan.
Di saat bersamaan, Aira berjalan bersama para pelayan yang setia mengumpatnya di dalam hati. Bersamaan dengan wajahnya yang tertutup rapat oleh pakaian lainnya.
"Kecantikan ku, tidak boleh di umbar begitu saja." Kata Aira pada pada pelayan.
Via menepuk bahu Anya, tampak sekali wanita itu sangat kelelahan, dengan rumah yang besar ini, setidaknya harus menggunakan waktu 5 menit lamanya agar sampai.
"Ada apa?" tanya Anya dengan kening berkerut. Via menyodorkan handphonenya, "Ini adalah wanita tuan Akeno. Kau mengatakan sangat penasaran kan? Ini lihatlah." Titah Via.
Anya menatap heran, namun tetap mengambil handphone temannya yang kini menjadi gelap karena terkunci.
Ia mulai membukanya, suara dari MC terdengar, Anya tak sempat membuka handphone Via, dia hanya membuka kuncinya saja dan langsung beralih menatap ke arah mereka dengan suara hiruk pikuknya.
"Kita sambut, calon istri dari tuan Akeno." Ucap MC itu. Pintu terbuka dari kedua sisi, seorang wanita dengan gaun kerlap kerlip itu terlihat, namun wajahnya tersembunyi semakin membuat semua orang penasaran dengan kecantikannya.
Akeno tersenyum di kejauhan sana, ia sudah mengira jika Aira akan tetap datang, sebelumnya ia tidak memaksa akan datang atau tidak karena calon istrinya sedang tidur.
Namun sekarang ia melihat Aira yang masuk ke aula acara.
Ke tiga pelayan masuk mengikuti langkah nona mereka dengan jalan yang begitu santai. Mereka saling bertatapan.
Anya menatap ke arah handphone, hatinya sudah sangat penasaran sekali. Mulutnya tertutup saat melihat wajah itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin! di-dia... tidak mungkin Aira!" gumam Anya, hatinya merasa sesak, bahkan untuk nafas saja sangat sulit.
Perlahan-lahan, penutup itu terbuka, suara yang berisik itu tiba-tiba lenyap saat seorang wanita membukanya. Kecantikan yang tiada tara, jika ada yang menandingi mungkin hanya bidadari saja.
Senyuman di wajah Akeno semakin lebar, itu adalah calon istrinya, dengan balutan pakaian yang sangat cocok di tubuhnya, memperlihatkan jika Aira sangatlah menjaga tubuhnya.
Anya mundur, dugaannya tidak salah, itu benar Aira istri dari Kakak iparnya.
"Tidak mungkin!" teriak Anya menggema di seluruh ruangan sana.
"Tidak mungkin dia orangnya!" tubuhnya seketika menabrak meja yang terdapat gelas dan minuman. Semuanya hancur, Anya dengan terkejutnya hingga tidak melihat kondisi, bahkan Via sendiri ikut aneh melihat temannya.
"Apanya yang tidak mungkin?" bisik orang-orang yang ada di sana.
"Entahlah, tidak tahu." jawab mereka.
Aira yang mendengar suara teriakan itu menoleh pada wanita itu, ia menghentikan langkahnya untuk sampai pada Akeno, namun kini melangkah pada Anya.
Anya menangis sembari menutup mulutnya, "Tidak mungkin kamu!" teriak Anya masih berusaha menyangkal.
"Orang lain mungkin boleh, tapi tidak dengan diri mu!" Anya kembali bersuara, kali ini dengan lantang ia menentangnya.
Alisnya terangkat, dengan perkataan wanita di hadapannya, tidak mungkin jika Aira tidak merasa curiga.
"Kau... pelayan atau tamu undangan?" Tidak ada tuduhan penghangat ranjang lagi, karena Akeno sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi.
Mendengar pertanyaan yang menyudutkan baginya, Anya menatap tajam pada Aira. Wanita itu tidak takut sama sekali, bahkan seolah menantang Aira yang pernah menjadi kakak iparnya.
Ternyata dia lah penyebab Akeno menderita, tak ada dugaan apapun, tidak ada persiapan sama sekali, Anya langsung berlari ke arah Aira dan hampir mencapai wajahnya yang ingin sekali dia rusak.
__ADS_1
Melihat pergerakan Anya yang ingin menyerang, Aira tidak bodoh, ia langsung ke sisi kiri untuk menghindarinya.
"Anya!" Sentak Akeno di kejauhan sana.
"Apa yang kau maksud tadi?" tanya Aira lagi.
"Aku akan membunuhmu!" Jerit nya yang frustasi, Anya bangun lagi, tapi kali ini penjaga berhasil menangkap dirinya.
Dengusan kecil yang mencemooh dia keluarkan, Aira menatap Anya dengan sangat tajam, seolah bendera permusuhan berkibar di antara kedua mata itu.
PLAK! Tamparan satu kali di layangkan ke pipi mulus Anya, wanita itu menengok ke arah kanan akibat ulah Aira. Mata Anya kini berbeda, ia tidak tahu apa yang terjadi, namun perasaan yang kini kuat tiba-tiba menciut entah kemana.
"Ingin membunuh seorang Aira? Apa kamu sanggup?" Ia berbisik di telinga wanita tersebut. Aira lalu menjauh kembali, berbalik badan dan melayangkan tamparan yang lebih kuat.
Semua orang tentu akan terkejut, suara jeplakan itu sangat kuat, bahkan terdengar oleh telinga mereka. Menebak sesakit apa itu, mereka juga pastinya tidak akan tahan.
Perlahan hidung Anya mengeluarkan darah, wajahnya sudah membiru akibat tamparan tersebut. Via yang berada tak jauh di sana hanya terdiam merasa kasihan pada temannya.
"Ini akibatnya jika kau berniat melakukan sesuatu yang di luar batas mu!" Kata itu penuh dengan amarah, Aira mendesis keras, saat tamparan kedua, barulah Akeno turun untuk menghentikannya.
Para tamu undangan tidak bisa menyembunyikan rasa keterkejutan mereka, bahkan wanita cantik bisa menjadi serigala yang ganas saat dirinya terancam.
Suara hiruk pikuk membuat Aira menatap nyalang pada semua tamu undangan. Presiden Jepang Kimazuki, menatap wanita yang kini sedang marah itu, keningnya menyatu seolah mengenal siapa dia.
"Hahh!" Kimazuki mundur sedikit, akhirnya ia ingat. Menunjuk pada Aira, dia berkata gugup, "Dia... dia, dia adalah nona Aira, calon penguasa dunia!"
Mendengar perkataannya, semua orang menatap takut pada Aira, sedangkan wanita itu mengerutkan keningnya heran, penguasa dunia apanya, pikirnya heran.
Akeno mengepalkan tangannya marah, tangannya menyibak mengeluarkan kekuatan yang ada di telapak tangan, semua nya langsung terjatuh akibat serangan dari pria itu.
__ADS_1
"Kalian bisa menikmati acaranya, tapi jangan berkata konyol!" Tegur Akeno memperingati. Satu-persatu matanya melirik mereka semua, itu adalah sebuah ancaman yang halus.
Anya menatap nyalang, juga takut, perasaan ini, nyali nya, rasa amarah dalam dirinya, menyatu dengan tidak beraturan. Anya mengeluarkan air matanya, ia sudah mengerti kenapa Akeno tidak pernah mencintainya meskipun mereka pernah bersama selama satu tahun, meskipun itu hanya sebagai wanita penghangat ranjang pria itu saja, tetap saja dia tidak mencintai nya.