You Are Mine

You Are Mine
Part 48


__ADS_3

Matahari terasa begitu terik. Namun tak membuat langkah Jingga berhenti begitu saja. Ia terus menyusuri trotoar sebrang kampusnya menuju kafe sang suami.


Peluh membanjiri keningnya saat Jingga membuka pintu samping kafe. Dari sana ia bisa langsung naik ke atas menuju ruangan sang suami. Tapi rasa haus membawanya masuk ke dapur dan mengambil satu minuman dingin dari dalam freezer.


Jingga tak menyadari seseorang mengikutinya masuk ke dalam dapur dan berdiri di belakangnya. Gadis itu masih asik dengan minumannya. Dahaganya mengalihkan segala dunianya saat ini. Setelah tenggorokannya puas, Jingga menyudahi acara minumnya. Ia berbalik dan terjingkat saat ternyata di belakangnya tengah berdiri seorang pria yang begitu ia cintai. Ia memukul pelan lengan pria itu saking kesalnya.


"Ngagetin ih!" sungut Jingga kesal.


Banyu tertawa. Gemas sekali melihat istrinya merajuk seperti itu. Bibir mungilnya maju beberapa senti membuatnya harus menahan diri untuk tidak menciumnya.


"Haus banget, ya? sampai nggak sadar aku ikutin," ucap Banyu setelah meredakan tawa kecilnya. Ia kemudian mendekat, mengusap peluh istrinya dengan sapu tangan yang ia bawa.


Hanya seperti itu saja wajah Jingga merona. Gadis itu salah tingkah sendiri ketika mendengar cekikikan karyawan Banyu yang tengah bekerja di sana. Segera saja Jingga menarik sapu tangan tersebut dan membersihkan sendiri keringatnya.


"Loh kok diambil!" Banyu hendak mengambil kembali sapu tangannya. Tapi urung saat mata sang istri melotot ke arahnya.


"Malu ih, banyak orang ini," ucap Jingga jengkel.


Banyu mengedarkan pandangan sejenak lalu kembali menatap wajah cantik istrinya. "Emang kenapa? mereka semua kan pegawai aku. Nggak masalah lah!"


"Hiss ... " Jingga berlalu meninggalkan suaminya sendiri di sana. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Ia pun merebahkan diri di atas kasur di ruangan suaminya.


Semenjak Jingga sering datang ke kafe, Banyu berinisiatif membelikan springbed untuk berjaga-jaga istrinya beristirahat di sana.


Kadang kala Jingga memang membantu Banyu melayani pelanggan, tapi sering juga gadis itu ketiduran di sofa karena kelelahan. Lama kelamaan Banyu tak tega melihat istrinya tertidur di sofa. Ia pun membeli springbed dan menaruhnya di ruangan pribadinya. Agar Jingga nyaman saat beristirahat.


Jingga mengalihkan pandangan dari ponselnya menuju pintu. Ia melihat suaminya masuk ke dalam sambil membawa nampan berisi satu piring makanan dan satu gelas air putih.


"Makan dulu," ucap Banyu sambil meletakkan nampan tersebut ke atas meja.


"Harusnya kamu nggak perlu repot kayak gini, Mas. Aku bisa kok ambil sendiri." Jingga turun dari ranjangnya dan duduk di sebelah Banyu.


Jingga memang bukan gadis yang terbiasa melakukan apapun sendiri. Ia terbiasa dilayani oleh para asisten rumah tangganya. Tapi bukan berarti dia tidak sungkan jika diperlakukan Banyu seperti ini. Ia masih memiliki rasa sungkan. Harusnya kan dia yang melayani suaminya, bukan malah dilayani seperti ini.


"Emangnya kenapa kalau aku yang ambilin? nggak ada salahnya kok suami ngambilin makan istrinya." Banyu berucap sembari mengambil piring berisi pasta. Lalu, ia sodorkan piring tersebut pada sang istri.


Tidak ada adegan romantis berupa suap-suapan, karena setelahnya Banyu kembali ke lantai bawah. Ada satu urusan yang lupa belum ia selesaikan.


Setalah makanan tadi tandas. Jingga membawa piring dan gelasnya ke dapur untuk dicuci. Sesampainya di sana, ia melihat Kikan dan Deva tengah duduk bersisihan. Mereka berdua terlihat begitu serius dengan laptop di depan mereka.


Jingga mendekati kedua orang tersebut. Ia melihat gambar grafik yang tidak ia mengerti sama sekali.

__ADS_1


"Mbak," sapa Jingga.


Kikan sedikit terkejut saat menoleh. Sebelumnya ia tidak mendengar langkah kaki sama sekali, dan tiba-tiba suara seseorang terdengar di telinganya.


"Demen banget lo ngagetin gue," sungut Kikan kesal. Deva hanya terkekeh saja. Ia sangat tahu Kikan mudah sekali terkejut. Entah apa alasannya, tapi gadis yang begitu ia cintai itu mudah sekali terjingkat saat mendengar suara yang mengejutkan.


Jingga hanya memperlihatkan deretan gigi putihnya. Kemudian ikut duduk di samping Kikan. Ia juga ikut mengamati laptop yang tengah menyala itu.


"Kamu abis dari mana, Ji?" tanya Deva.


"Abis cuci piring bekas makan aku tadi," jawab Jingga sambil menunjuk arah wastafel dengan dagunya.


"Nyoya pemilik kafe kok cuci piring sendiri sih?" Deva terkekeh mendengarnya.


"Emang nggak boleh?" Jingga menaikkan sebelah alisnya.


"Ya boleh sih," jawab Deva tersenyum kikuk.


Tak berapa lama kemudian, Banyu mendekat pada mereka bertiga.


"Ada video call dari bunda," ucap Banyu sembari menyerahkan ponselnya pada Jingga.


Jingga pun mengambil ponsel tersebut. Tampaklah figur ibu mertuanya yang tengah tersenyum. Spontan Jingga membalas senyuman bahagia bunda Ika.


"Jingga baik, Bun. Bunda sendiri gimana kabarnya?"


"Bunda juga baik, sayang." Wanita itu tersenyum. "Kamu kok nggak pernah ngunjungin bunda sih. Bunda kan kangen."


Jingga terkekeh mendengar nada merajuk dari ibu mertuanya.


"Maaf, Bun. Tugas Jingga lagi banyak banget jadi nggak sempet pulag," jawab Jingga mendapat cebikan dari bunda Ika.


"Nanti malem pulang ya, Ji. Ada yang mau bunda omongin sama suami kamu."


"Iya, Bun. Nanti aku sama Mas Banyu langsung ke sana aja dari kafe."


Mendapatkan jawaban seperti itu dari menantunya membuat bunda Ika merasa begitu senang.


"Kamu di mana sih? kok kayak di dapur?" tanya bunda Ika dengan kening berkerut.


"Iya, ini di dapur sama Mbak Kikan sama Bang Deva." Jingga mengarahkan kameranya pada Deva dan Kikan. Mereka berdua melambaikan tangan pada ibu sahabat mereka.

__ADS_1


"Bunda nggak kangen sama Deva?" tanya Deva dengan kekehan khasnya.


"Dasar anak nakal. Mentang-mentang sekarang udah kerja di perusahaan papa kamu, sekarang nggak pernah ngunjungin bunda," sungut bunda Ika pada sahabat putranya.


Deva tertawa kecil. Ia sangat suka melihat wajah kesal wanita paruh baya yang masih awet muda itu.


"Iya, Bun. Maaf!" Deva menyatukan kedua tangannya di depan dada sambil membungkuk. Menimbulkan cekikikan dari Jingga dan yang lain di sana.


"Ini juga, anak gadis bunda, sama aja nggak pernah ngunjungin bunda. Nggak kangen kamu sama bunda." Kali ini wanita itu menatap Kikan.


"Kangen dong, Bun. Apalagi sama masakan Bunda, Kikan kangen banget."


"Bohong, buktinya kamu nggak pernah nyamperin bunda. Bunda kangen loh jalan-jalan sama kamu."


"Salahin Banyu, Bun. Dia ngasih aku kerjaan banyak banget. Kan aku nggak bisa libur jadinya."


"Eh asem, lo. Malah nyalahin gue. Lo aja yang nggak pernah ambil cuti," sahut Banyu kesal. Kikan tertawa mendengarnya.


"Bunda nggak mau tahu, pokoknya kalian berdua harus datang ke rumah bunda dalam waktu dekat!" titah wanita itu tanpa mau dibantah.


"Asiap, Bunda" Jawab mereka berdua kompak sambil tertawa.


"Deva,"


"Ya, Bun."


Bunda Ika tersenyum geli sebelum bicara. "Cepetan dilamar, keburu tua kamu. Masak mau diduluin sama Dika," ucapnya menimbulkan sejuta pertanyaan dibenak Kikan.


"Doain aja, Bun" jawab Deva ikut tersenyum.


Kikan menoleh cepat pada Deva. Menatapnya dengan seribu pertanyaan. "Lo punya cewek, Dev?"


"Punya dong sayang." Bunda Ika menjawab dari sebrang telepon.


Kikan kembali menatap bunda Ika. "Bunda kenal?"


"Kenal dong. Ceweknya Deva tu cantik banget tahu, pinter juga. Pokoknya T.O.P B.G.T, deh," jawab sang bunda penuh semangat.


Entah kenapa perasaan Kikan jadi tidak nyaman mendengar Deva memiliki seorang kekasih. Bahkan akan segera dilamar.


Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang bercokol dalam otaknya. Namun hatinya enggan untuk bertanya. Dan akhirnya ia memilih untuk tidak mengetahui siapa gadis dimaksud oleh bunda Ika tadi.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2