
Mendorong troli sembari memilah dan memilih barang yang akan ia beli adalah kebiasaan Banyu. Namun, kali ini ada yang berbeda. Ia tidak lagi mengambil barang sendiri, ada istrinya yang ikut berjalan di sampingnya yang dengan telaten mengambil setiap barang yang Banyu sebutkan ataupun barang yang gadis itu inginkan.
"Mas Banyu udah lama bisa masak?" Jingga mencoba memecahkan suasana kaku diantara mereka. Meskipun itu terasa sangat sulit, tapi ia akan mencobanya.
Banyu menoleh, tersenyum tipis kemudian menjawab, "lumayan lama, sejak SMP kayaknya. Dari kecil aku emang suka ngerecokin bunda di dapur." Banyu tersenyum lagi mengingat bagaimana masa kecilnya dulu.
Jingga manggut-manggut saja, tidak tahu lagi harus menanggapi apa.
Sepasang suami-istri itu masih mengelilingi supermarket, mencari beberapa camilan tambahan untuk disimpan di apartemen. Saat Jingga asik memilih beberapa camilan kesukaannya, seseorang datang menyapa suaminya dari belakang.
"Banyu!"
Jingga menoleh pada sumber suara. Seseorang itu ternyata Celin. Ia menatap wanita itu datar.
"Hai, Cel. Kamu di sini juga?" tanya Banyu. Senyum manis terukir jelas pada bibir pria itu.
"Iya, mau pulang dari kantor sekalian mampir," jawabnya membalas senyum manis Banyu yang masih membuat hatinya bergetar hebat.
Banyu mengerutkan keningnya. Ia ingat sekali kantor Celin bukan disekitar sini. Kantor gadis itu malah jauh dari lokasi saat ini.
"Bukannya kantor kamu ... "
"Aku dipindah tugaskan kemarin. Dulu aku bekerja di kantor cabang dan sekarang aku ditugaskan di kantor pusat," tukas Celin. Gadis itu tersenyum getir, jika saja Banyu masih menjadi kekasihnya ia yakin Banyu orang pertama yang akan ia beritahu. Dan mungkin akan menjadi orang yang paling senang karena jarak kantor dan kafe pria itu tidak terlalu jauh sekarang.
"Kamu masih jadi sekertaris manajer?" tanya pria itu antusias.
__ADS_1
"Bukan sekretaris manajer sih sekarang, tapi sekretaris CEO." Ada perasaan berbunga-bunga yang melintasi hatinya. Banyu tidak berubah, pria itu masih suka menanyakan bagaimana pekerjaannya.
Kedua orang itu masih asik mengobrol tanpa memedulikan Jingga. Gadis itu merasa terabaikan. Kesal sekali rasanya tidak diajak bicara padahal dia ada diantara dua manusia itu. Bukan Jingga cemburu, hanya saja ia tidak suka terabaikan seperti ini. Cukup disapa sepertinya ia sudah lega, setidaknya keberadaannya dianggap.
Jingga hendak melangkah untuk menyingkir dan memberikan waktu untuk Banyu dan Celin mengobrol. Namun langkahnya terhenti saat tiba-tiba ia merasakan Banyu tengah mencekal pergelangan tangannya. Ia menatap pria itu dan dibalas dengan kedipan mata. Saat itu juga Celin baru menyadari bahwa Banyu tentu tak sendiri.
"Ya udah Nyu, aku balik dulu ya, udah malem." Celin menganggukkan kepala pada Banyu dan istrinya sebelum pergi meninggalkan sepasang suami-istri tersebut.
Sesaat setelah kepergian Celin, Banyu menatap istrinya. Gadis itu mengalihkan pandangan berpura-pura memilih apa yang ingin dibelinya.
"Udah belum milihnya?" tanya Banyu.
"Ha? Oh udah kok. Kalau Mas, ada lagi yang mau dibeli?" tanya Jingga sembari meletakkan dua bungkus snack yang baru saja ia ambil.
"Udah semua sih yang aku beli. Kalau gitu aku bayar dulu, kamu tunggu di luar aja nggak papa."
...
Di tempat lain.
Kikan memandang jalanan yang begitu ramai. Hilir mudik kendaraan bermotor sama sekali tak mengusik kekosongan yang tengah Kikan alami. Pikirannya entah berada di mana saat ini. Bahkan hatinya terasa seperti hilang diterbangkan angin.
Tidak ada yang tahu, betapa hancurnya hati gadis itu. Melihat pria yang dicintai selama bertahun-tahun menikah dengan wanita lain. Bahkan wanita itu tidak dikenal sebelumnya. Ia merasa penantiannya selama ini sangat sia-sia.
Lamunan Kikan buyar saat sebuah tangan mengusap kepalanya. Ia menoleh ke samping, di mana Deva tengah menyetir. Ya, saat di kafe tadi Banyu benar-benar menghubungi Deva untuk menjemputnya. Tiga puluh menit sebelum kafe tutup pria itu sudah sampai. Dan saat ini mereka tengah berada dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
"Kenapa lagi sih, Ki? Dari tadi gue liatin muka lo kusut banget. Karyawan yang kemarin masih bikin ulah?" tanya Deva.
Gelengan kepala Kikan berikan sebagai jawaban. Kikan menoleh lagi pada Deva. "Gue tuh kurang baik apa sih Dev sama Banyu? Sampai-sampai bunda nggak nglirik gue buat dijodohin sama dia. Dibandingin istrinya Banyu bukannya gue jauh lebih kenal? Apa karena gue ini cuma salah satu anak buah Banyu jadi bunda nggak mau punya menantu kayak gue?"
Deva menatap iba pada Kikan. Ia tahu seberapa dalam rasa Kikan untuk Banyu. Rasa cinta sejak mereka masih pada jenjang SMP tentu akan sangat sulit untuk dilupakan, apalagi mereka ini bersahabat.
"Mungkin kalian emang nggak ditakdirin berjodoh, Ki. Dan lo nggak punya kekurangan sama sekali. Lo cantik, pinter, mandiri. Banyak cowok yang suka sama lo, tapi lo selalu nutup diri karena selama ini lo suka sama Banyu dan nggak mau coba buka hati buat cowok lain." Deva menggenggam tangan Kikan. "Diluar sana banyak cowok yang pengen dapetin lo," gue contohnya, terusnya dalam hati. "Lo cuma harus move on sekarang. Lo harus lihat ke depan, lihat cowok yang suka sama lo, buka hati lo, dan lo akan nemuin dia dengan ketulusan cinta yang sesungguhnya." Deva menatap Kikan yang juga tengah menatapnya, Deva tersenyum.
"Lo harus bisa lupain Banyu kali ini. Dia udah nikah, harapan lo untuk jadi istrinya terlalu tipis. Lo sadar nggak sih, kayaknya si Banyu juga udah mulai suka sama istrinya. Dari tatapan matanya saat resepsi kemarin, gue bisa nyimpulin tu anak udah mulai nglupain Celin."
Hening, tak ada tanggapan apapun dari Kikan. Ia mencoba berpikir lagi. Mungkin benar, ia harus segera membuka hati untuk pria lain. Meskipun belum menemukannya untuk saat ini. Kikan menghela napasnya, guna mengurangi rasa sesak dan juga degup jantung yang tiba-tiba memompa begitu cepat. Ia melirik tautan tangannya dengan Deva. Pria itu lah yang selalu menenangkannya saat perasaan sedih tengah mendera, yang selalu ada saat dirinya membutuhkan, dan selalu siap menghiburnya kapanpun dan dimanapun. Kikan selalu bisa merasakan kenyamanan dari pria itu, sahabatnya sejak mereka duduk dibangku SMA. Sejak dulu hanya Deva yang tahu segala isi hatinya, yang ia tumpahi keluh kesahnya selain Banyu.
Tak terasa mobil Deva telah sampai di basement apartemen Kikan. Sudah kebiasaan Deva mengikuti Kikan sampai pintu apartemen gadis itu.
"Inget, Ki. Di dunia ini lo nggak sendiri, masih banyak yang peduli sama lo, meskipun bukan keluarga lo sendiri. Dan lo harus mulai buka hati buat cowok lain. Banyu udah married, lo harus bisa move on dan cari kebahagiaan lo sendiri," ucap Deva saat mereka telah sampai di depan pintu apartemen Kikan.
"Thanks ya, Dev. Lo selalu ada buat gue. Gue nggak tahu gimana cara bales semua kebaikan lo," ujar Kikan sendu.
Deva menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mengelus kepala gadis itu dengan lembut. "Nggak perlu makasih sama gue, kita sahabat dan kita wajib saling bantu." Gue harap lo bisa buka hati lo buat gue Ki, batin Deva sembari mengeratkan dekapannya saat merasakan gadis itu membalas pelukannya. Ia tahu, sangat berat bagi Kikan untuk melupakan Banyu. Jika dulu Deva selalu mendukung Kikan untuk menunggu Banyu, sekarang ia harus bisa membuat Kikan move on dari pria itu. Karena Banyu telah menikah, sangat kecil kemungkinan untuk berpisah. Apalagi istri Banyu seseorang yang sudah ia anggap adiknya sendiri. Tentu Deva akan sangat mendukung hubungan mereka berdua. Dan kali ini, ia harus bisa memanfaatkan keadaan. Deva harus bisa mendapatkan hati Kikan.
"Gue balik dulu ya, Ki." Deva melepaskan pelukannya dengan paksa.
Kikan mencebikkan bibirnya. "Lo nggak mampir dulu?"
"Enggak, udah malem. Besok pagi gue mampir, jemput lo." Setelah itu Deva pamit, meskipun terasa sangat berat.
__ADS_1
Kikan memandang kepergian sahabatnya dengan tatapan sendu. Dekapan pria itu terasa begitu hangat, selalu bisa menenangkannya. Dan entah kenapa, ia merasakan debaran yang begitu kuat saat pria itu mendekapnya.
Jangan lupa like dan komen