You Are Mine

You Are Mine
Part 42


__ADS_3

Keramaian malam menemani seorang gadis di taman kota. Gadis itu duduk sendiri pada kursi panjang di sisi utara sebelah kiri pintu masuk. Jam tangannya menunjukkan pukul 19.07. Kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang yang mengajaknya kemari. Decakan kesal sekaligus umpatan terlontar tanpa sadar. Ia tidak sabar untuk menunggu, meski baru sepuluh menit.


Sesekali ia menyalakan ponsel, menunggu pesan masuk. Terkadang juga mencoba menghubungi orang yang ia tunggu.


Kesabaran gadis itu sudah habis. Ia sudah duduk di sana selama dua puluh menit. Ia pun memutuskan untuk beranjak pergi. Tapi, suara seseorang menghentikan niatnya.


"Sorry telat. Ada sedikit masalah sama mobil gue."


Gadis itu lantas duduk kembali, bersisihan dengan pria yang baru saja tiba.


"Udah lama ya? Sorry banget. Ponsel gue juga lowbat tadi," jelas pria itu. Tangan kanannya mengambil sesuatu. Lantas ia berikan kepada gadis itu. "Sebagai gantinya, gue beliin ini buat lo" Ia menyodorkan satu kantong berisi makanan. "Gue tahu kalau lo suka sama kebab, Key."


Keyra, ya gadis itu sahabat dekat Jingga. Dengan kasar ia merebut satu bungkus kebab itu. Sangat sayang jika dilewatkan.


"Ngapain lo ngajak gue ketemu?" tanya Keyra dengan ketus. "Mana di sini lagi. Dingin tahu nggak." Gadis itu mulai menggigit kebabnya yang masih hangat.


"Gue mau minta tolong lagi sama lo," ucap pria itu to the point.


Keyra menghentikan giginya yang tengah asik mengigit kebab itu lagi. Ia menatap tajam pria itu. "Minta tolong apa lagi? Kalau masalah Jingga, ogah gue nolongin lo."


"Key, please. Lo harus tolongin gue kali ini. Gue mau minta maaf ... "


"Asal lo tahu Kevin. Gue bener-bener nyesel pernah deketin lo sama Jingga. Dan untuk kali ini gue nggak mau lagi punya urusan sama lo, apalagi kalau memenyangkut Jingga," tukas Keyra dengan kesal.


Kevin mengusap wajahnya frustasi. "Key, dengerin gue dulu. Nggak semua yang kalian denger waktu itu bener." Kevin memegang bahu Keyra supaya menghadap dirinya. "Dulu emang niat awal gue deketin Jingga karena taruhan sialan itu. Tapi semua berubah saat gue udah kenal sama dia. Gue cinta, Key sama Jingga. Please tolongin gue kali ini," ucapnya lirih. Terdengar sangat menyesal.


Tatapan Keyra melunak. Baru kali ini ia melihat sisi lain dari Kevin. Pria yang selalu terlihat angkuh, tak kenal takut, dan memiliki sifat berkuasa, menundukkan kepalanya dengan keadaan frustasi hanya karena masalah wanita. Pria yang terkenal badboy dan suka bergonta-ganti pacar, memohon padanya dengan raut sedih.


Keyra mengusap tangan Kevin yang ada di bahunya. Perlahan ia melepaskan tangan kekar itu. "Minta tolong apa?"


Kevin mendongak, matanya berbinar bahagia. "Key, lo beneran mau bantuin gue?"


Keyra mengangguk dengan wajah datar. "Asalkan bukan masukin lo ke kehidupan Jingga dan jadi orang ketiga, gue mau bantuin lo."


"Gue janji nggak bakal ganggu hidup dia lagi. Asalkan lo beneran bantuin gue kali ini." Kevin menggenggam tangan Keyra.


Gadis itu melirik tangannya. "Lo mau gue bantuin apa?" tanyanya lagi.


Tak ingin Keyra berubah pikiran dan tanpa menutupi apapun, Kevin menceritakan kejadian saat di koridor kampus beberapa waktu yang lalu. Ia mengatakan pada Keyra, bahwa ia hanya ingin minta maaf dan berteman baik dengan Jingga. Ia menyesal dengan apa yang ia lakukan saat itu. Dan saat selesai bercerita sekaligus menyampaikan apa tujuannya, satu tamparan mendarat indah pada pipinya. Kevin hanya memejamkan mata tanpa protes ataupun marah. Ia sudah mengantisipasinya dari rumah.


"Brengsek lo, Vin. Jingga itu udah punya suami, dan lo cium dia? Lo nggak mikir gimana perasaan dia. Kalau suaminya nggak sengaja denger atau bahkan lihat gimana coba? Mikir dong, lo." Keyra menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri.


Dengan perlahan Kevin menatap Keyra lagi. "Maka dari itu gue minta bantuan lo untuk mempertemukan gue sama Jingga. Gue bakal minta maaf sama dia." Kevin kembali menggenggam tangan Keyra. "Bantuin gue ya, Key."

__ADS_1


Keyra menatap Kevin datar. Kemudian mengangguk.


"Janji, Key?"


"Hm,"


Keyra tersentak saat Kevin tiba-tiba memeluknya.


"Makasih, Keyra. Lo emang sahabat terbaik gue."


Sahabat? gumam Keyra.


Tanpa sepengetahuan Jingga dan Riana. Sebenarnya Keyra sudah mengenal Kevin sejak lama. Sejak mereka masih kecil.


Mereka bersahabat sejak masih sama-sama duduk di sekolah dasar, meskipun usia mereka terpaut tiga tahun. Mereka berdua dulu tetangga dekat, setiap hari bermain bersama. Tapi, saat Kevin menginjak bangku kuliah, keluarga Kevin pindah. Sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu. Hanya saling bertukar kabar melalui pesan. Mereka dipertemukan lagi saat kuliah. Tapi, Keyra memilih untuk pura-pura tidak mengenal pria itu. Ia takut kedua sahabatnya menyadari sesuatu. Apalagi saat itu Jingga dan Kevin mulai dekat.


***


"Yang ini bagus deh, Ji, kalau lo yang pakai." Kikan mengangat sebuah dress selutut berwarna putih dengan gambar bunga.


"Kayaknya bagusan kalau Mbak Kikan yang pakai." Jingga ikut membolak-balikan dres tersebut.


"Sama-sama bagus kalau kalian yang pakai," ucap Deva menengahi kedua gadis itu. Ia mendesah kesal sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding kaca di belakangnya.


"Kalian berdua jadi beli baju nggak sih? Udah pegel kaki gue," keluh Deva. Banyu hanya mengulum senyum saja, melihat sahabatnya menggerutu tidak jelas sejak tadi.


"Kita nggak nyuruh lo buat ngikutin. Di sana ada tempat duduk, dan lo boleh duduk di sana." Kikan menunjuk sudut toko. Memang terdapat dua sofa panjang yang disediakan pihak toko.


Deva berdecak sambil berlalu. "Nggak bilang dari tadi sih."


Jingga terkekeh. "Bang Deva kan nggak tanya."


Deva mengibaskan tangannya. Ia sudah lelah mengelilingi beberapa toko baju dan aksesoris wanita sejak tadi. Ia pun dengan semangat mendudukkan diri pada sofa tersebut. Meluruskan kakinya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Tak lama kemudian Banyu ikut duduk di samping Deva. Ia menepuk pundak pria itu beberapa kali. "Sabar. Orang sabar cintanya kebales."


"Bodoamat!"


Banyu terbahak mendengar umpatan sahabatnya satu ini. Ia sangat senang ketika Deva yang kalem berubah jadi mengerikan.


***


Setelah menemukan beberapa baju yang bagus, Kikan dan Jingga mengajak Banyu dan Deva pulang. Mereka berempat masuk ke dalam mobil Deva. Sedangkan motor Banyu ditinggalkan di kafe tadi.

__ADS_1


Banyu mengambil kemudi. Ia tidak tega melihat wajah lelah Deva. Sedikit Banyu tahu, sebenarnya Deva sedang ada masalah di perusahaannya. Tapi, demi Kikan, Deva mengesampingkan masalahnya, dan lebih memilih menemani gadis itu. Ia juga memanfaatkan waktu tadi untuk bercerita dan meminta saran pada Banyu.


Tak perlu waktu lama, mereka sampai di kafe. Setelah Jingga dan Banyu turun, Deva segera mengajak Kikan untuk pulang.


Saat ini Banyu dan Jingga dalam perjalanan pulang. Banyu tersenyum melihat istrinya tersenyum bahagia.


"Makasih ya, Mas. Udah mau nemenin jalan-jalan," ucap Jingga ditengah keramaian jalan.


Banyu kembali tersenyum. "Ngucapin makasihnya nanti aja kalau sampai di apartemen," ucap Banyu sedikit berteriak.


"Hah? Kenapa harus nunggu sampai apartemen?"


Banyu tak menjawab. Ia hanya menaikan kecepatan motornya agar cepat sampai.


Jingga mengernyit bingung. Banyu melangkah dengan buru-buru sambil menarik tangannya. Setelah Banyu menutup pintu apartemen. Jingga dibuat terkejut karena Banyu tiba-tiba mendorong tubuhnya ke dinding. Mengurungnya di sana. Membuat Jingga menahan napas, karena jarak wajah mereka yang sangat dekat.


"Mas, ngapain?"


"Kan tadi aku udah bilang, kalau mau ngucapin makasih kalau udah sampai apartemen."


Jingga menaikkan satu alisnya. "Kan tadi udah."


"Bukan gitu makasihnya." Banyu mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk.


Jingga melebarkan matanya. Ia bukan gadis polos yang tak tahu apa maksud Banyu.


"Apa sih, Mas." Jingga memalingkan wajahnya yang sudah berubah warna menjadi merah.


"Kalau nggak mau. Aku buang semua belanjaan kamu tadi." Ancaman Banyu sukses membuat Jingga kembali melotot.


"Nggak ikhlas banget jadi suami."


Banyu terkekeh. "Aku ikhlas, sayang. Asalkan kamu cium aku." Ia menaik turunkan alisnya.


Wajah Jingga merah padam. Mendengar Banyu memanggilnya sayang mendetakkan jantungnya semakin cepat.


"Ok, kalau kamu nggak mau." Tangan Banyu meraih beberapa paperbag yang Jingga pegang.


"Eh," Jingga menahan paperbag-nya dengan wajah kesal. "Iya-iya"


Dengan malu-malu Jingga berjinjit. Niat awalnya hanya ingin mengecup singkat bibir suaminya, namus tergagalkan saat Banyu menahan tengkuknya dan mulai mencecapnya seperti biasa. Jingga terkejut, hingga belanjanya terlepas begitu saja dari genggamannya. Semakin lama Jingga terbuai dengan ciuman lembut Banyu. Membuatnya ikut menutup mata dan menikmati apa yang telah ia awali.


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


__ADS_2