
"Tuan Akari, aku menyetujuinya. Saat ini aku sedang berpisah dari istri ku, dia bahkan melupakan kami semua." Ucap Aryan langsung tanpa berpikir sama sekali.
"Memangnya apa yang terjadi pada istri mu, tuan Aryan?" tanya Akari.
"Tetua, istriku di culik dan sekarang semua ingatannya hilang." Jawab Aryan dengan sendu.
Tetua Akari berhenti berjalan, ia menatap Aryan dengan intens, membuka suaranya, ia berkata: "Sejujurnya, istri mu tidak melupakan semuanya, ada sesuatu yang sangat dia inginkan, namun masih belum tercapai."
Aryan seketika mengerutkan kening nya heran, menatap tetua dengan bingung. "Apa maksud dari perkataan Anda tuan Akari?" tanya Aryan.
"Sesuatu yang belum pernah terjadi sampai saat ini, dia akan mengingatnya secara perlahan jika keinginannya sudah terpenuhi." Jawab tetua Akari, ia malah semakin bingung.
"Jadi, apa itu?" tanya Aryan.
"Saya juga tidak tahu." jawabnya seraya menggelengkan kepala. Aryan berpikir keras, selama ini keinginan istrinya hanya satu, yaitu ingin segera hamil, bahkan sampai saat ini ia tidak tahu apa mereka akan memiliki anak lagi atau masih belum di beri oleh sang maha kuasa.
__ADS_1
"Tetua, apa keinginan istriku itu adalah kehamilannya? Dia sangat ingin sekali memiliki seorang bayi, apa itu keinginannya saat ini?" tanya Aryan. Mendapatkan gelengan, Aryan langsung tidak percaya, itu adalah keinginan istrinya.
"Sekarang nona Aira bahkan sedang mengandung." jawab Akari.
"Apa?" pekik Aryan tidak percaya.
"Si-siapa bayi dalam kandungan istri ku? tidak mungkin Akeno, kan?" Mendapati pertanyaan dari Aryan, pria tua itu terkekeh merasa geli.
"Tentu saja itu adalah benih dari Anda, tuan. Usianya sudah satu bulan lebih." Jawab Akari ia tak dapat menahan tawanya.
"Seperti katamu, nona Aira bahkan ragu jika itu adalah benih dari Akeno. Dan sekarang Anda menjadi orang asing baginya, apa menurut Anda, dia akan mengira itu adalah benih milik tuan Aryan?" Seru Akari.
"Berdasarkan penglihatan ku, nona Aira sudah mengetahui kehamilannya sebelum dia di culik. Ku harap Anda tidak salah paham, jika mau, pergilah dan temui nona Aira sendiri, tidak perlu lagi menemuinya di alam mimpi." Ujar Akari.
"Tidak!" sergah Aryan langsung.
__ADS_1
"Aku masih belum bisa menemui istriku, kekuatan ku bahkan belum penuh." Aryan melihat ke arah tangannya, ia mengeluarkan kekuatan yang dia miliki, memperlihatkannya pada Akari.
"Baiklah, saya juga tidak bisa menolak permintaan dari menantu tuan Khan." Seru Akari sembari menertawakan Aryan.
"Ikut lah aku." Ajaknya masuk ke dalam rumah paviliun Jangnam. Tepat berada di Korea.
Aryan mengangguk patuh, ini semua demi kebaikan istrinya dan tujuannya untuk merebut Aira kembali. Selama tujuh tahun mereka berpisah, baru saja bertemu dan hidup bersama, mereka harus terpisahkan lagi.
Hidup benar-benar tidak adil. Batin Aryan. Melangkah masuk ke dalam ruangan pribadi. Akari menaiki tangga, di atas tangganya, terdapat kotak memanjang, tingginya bisa mencapai perut tuan Akari. Ia menaruh telapak tangannya, cahaya yang menembus sampai masuk ke dalam daging jari-jarinya, akhirnya kotak itu terbuka.
Satu persatu Akari mengambil sebuah botol berkilau, berbeda-beda warna. Mulai menyatukannya secara jajar, lalu merapatkannya lagi. Cahaya sinar itu menyatu hingga ke atas atap dan menembus langit. Jika orang pribumi memperhatikan langit, sudah pasti mereka akan melihat kilatan cahaya yang keluar.
Aryan menatapnya dengan kagum, dia seorang pria, namun rasanya ini begitu indah, apalagi jika ada wanita, sudah pasti mereka akan terpesona dengan kecantikan cahaya itu.
Setelah selesai, Akari membuka matanya, cahaya itu sudah tidak ada lagi, ada rasa tidak rela ketika sinar itu sudah tidak memancar lagi.
__ADS_1