You Are Mine

You Are Mine
Part 87


__ADS_3

Langkah lesu mengirim Jingga menuju kelasnya. Wanita yang selalu terlihat tersenyum, kali ini tampak begitu lelah. Tas dalam gendongannya terasa sangat berat. Berbeda seperti hari biasanya.


Sesekali tangannya memijat pundak atau tangannya sendiri. Tampaknya ia benar-benar sedang dalam mode banyak kerjaan akhir-akhir ini.


Bagaimana tidak banyak kerjaan. Sejak kejadian Banyu muntah tiga hari yang lalu, Jingga harus kembali merawat pria itu, karena dia diserang mual setiap pagi. Pria itu memuntahkan semua isi perutnya setiap hari dan setiap pagi. Setelahnya Banyu akan lemas dan tak akan kuat pergi ke mana-mana. Sehingga kafe benar-benar Banyu pasrahkan kepada salah satu asistennya. Pria itu tak sanggup untuk keluar dari kamar. Dia hanya terbaring dan tidur di atas tempat tidur seharian. Membuat Jingga harus mengurus rumahnya sendiri. Dengan sedikit bantuan dari Mbak Nia tentunya.


Sebenarnya Jingga tidak tega meninggalkan Banyu sendiri di rumah hanya dengan Mbak Nia. Tapi, kewajibannya sebagai mahasiswa juga tidak bisa ditinggalkan. Jingga tidak boleh absen sekali pun oleh Banyu.


Banyu berkata tidak masalah ditinggalkan. Asalkan ada Mbak Nia yang masih bisa ia panggil dan ia mintai tolong. Lagi pula ia hanya merasa lemas, ia masih bisa berjalan meskipun malas.


Jingga tiba di kelas dua menit sebelum dosennya masuk. Ia hanya bisa mendengarkan setengah jalan saja. Sisanya ia tertidur tanpa ada yang tahu.


"Jingga," bisik Keyra saat satu kelompok temannya selesai presentasi. Ia menggoyangkan lengan wanita itu pelan untuk membangunkannya.


"Ji, bangun!" bisik Keyra lagi.


Jingga mengangkat kepalanya melihat sekeliling masih ramai. Itu artinya tidak ada yang melihatnya tidur kecuali Keyra. Jingga segera mengucek matanya untuk menyadarkan diri. Tak lama kemudian satu kelompok temannya kembali ke tempat duduk dan dosennya menutup kelas.


"Lo kenapa si? Tumben banget tidur di kelas," tanya Keyra. Gadis itu sibuk mengemasi kembali bukunya.


Jingga merebahkan kepalanya ke atas meja. Matanya menatap pada Keyra. "Capek gue. Dari kemarin suami gue muntah-muntah kalau pagi. Habis itu dia pasti lemes sampek nanti malem. Yang paling bikin gue capek tu waktu gue udah selesai masak, dia bilang nggak mau makan itu, katanya mual." Napas Jingga berembus panjang. "Gila nggak si? Demi dia gue masak lagi. Jadi, selama tiga hari ini gue masak bisa empat sampai enam kali. Dan kalau nggak kemakan, gue kasih ke tetangga"


Mengernyit heran. Keyra merasa ada yang aneh dengan sakit yang Banyu derita. Tidak biasanya Keyra mendengar ada seseorang yang sakit seperti itu.


"Dia mual lihat makanan buatan lo?" tanya Keyra, diangguki Jingga.


"Kok aneh sih, Ji. Kalau masuk angin nggak sampai segitunya juga, ya?" Keyra tampak berpikir. "Udah lo bawa ke dokter?"


Jingga menggeleng. "Besok pagi kalau dia gitu lagi mau gue panggilin temen bokap. Gue nggak bisa bawa dia ke rumah sakit. Besok Pak Adi mau cuti," terang Jingga. Pak Adi adalah penjaga sekaligus supir di rumahnya. Selama tiga hari ini pun Jingga diantar olehnya, karena Jingga belum bisa mengendarai mobil sendiri.


Keyra mengangguk setuju. Ke dokter adalah solusi jika sakit yang Banyu derita belum sembuh.


***


Pagi hari Jingga terbangun mendengar suaminya kembali muntah-muntah. Ia segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Seperti kemarin-kemarin, Banyu hanya mual saja, tak ada satu pun barang yang keluar dari perutnya.


Jingga memapah pria itu keluar dari kamar mandi. Ia mendudukkan Banyu di atas tempat tidur dan menyadarkan tubuh pria itu pada sandaran ranjang. Jingga memberikan air putih hangat yang baru ia ambil dari dapur pada Banyu. Ia meninggalkan pria itu sebentar untuk mencuci muka.

__ADS_1


"Kok masih muntah, ya, Mas? Aku panggilin temen papa, ya, biar diperiksa?" tawar Jingga.


Banyu hanya bisa mengangguk pasrah tanpa bisa menolak. Tubuhnya sudah tidak bisa lagi diajak berkomunikasi. Sejak kemarin ia hanya muntah saja. Hanya beberapa kali makanan masuk ke dalam tubuhnya. Itu pun Jingga harus memasak dua kali agar tubuhnya menerima makanan yang dia inginkan.


Pria itu merasa kasihan pada Jingga yang hampir setiap kali masak harus dua kali. Namun, reaksi tubuhnya tak bisa terelakkan.


"Aku buatin bubur, ya?" tawar Jingga. Banyu kembali mengangguk. Ia berharap bubur bisa masuk ke dalam perutnya.


Setengah jam berlalu. Jingga membawa semangkuk bubur dan air putih di atas nampan. Ia mendudukkan diri di samping Banyu, kemudian mengambil bubur. Satu sendok ia sodorkan pada Banyu, tapi pria itu malah menutup mulutnya dan bergegas untuk ke kamar mandi.


Rasanya Jingga ingin membanting mangkuk bubur tersebut. Ia sudah sangat lelah turun ke dapur untuk kembali memasak. Namun, yang bisa Jingga lakukan hanya menyingkirkan mangkuk tersebut kemudian membantu suaminya lagi.


***


Dua jam kemudian seorang dokter wanita datang ke rumah Banyu dan Jingga. Wanita itu memeriksa keadaan Banyu. Menanyai apa yang pria itu keluhkan.


Jingga menjelaskan apa yang Banyu alami tanpa ada sedikit pun yang ia kurangi.


Dokter wanita itu mengernyit. Sedikit tak mengerti, karena yang Banyu keluhkan seperti seorang wanita hamil muda.


"Kira-kira Mas Banyu sakit apa ya, Tan? Soalnya dia mual-mual terus," tanya Jingga. Berharap penyakit suaminya tidak berat.


Jingga mengerjap, bingung. Ia tidak tahu apakah dirinya hamil tau tidak. Bulan ini ia memang sengaja tidak mengecek, karena takut kecewa lagi.


"A-aku enggak tahu, Tan, aku hamil atau enggak," jawab Jingga. Ia menatap Banyu yang juga menatapnya.


"Gimana kalau kita cek dulu. Kamu punya test pack?" tanya dokter itu.


"Kayaknya masih ada satu, Tan." Wanita itu segera berdiri mengambil test pack yang ia simpan di laci nakas. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Banyu bahkan langsung terduduk mendengar pernyataan dokter tersebut. Ada sedikit keraguan menyelimutinya. Yang membuatnya heran hanya, kenapa ia yang merasakannya dan bukan Jingga.


"Dok, apa mungkin bisa, istri saya yang hamil, tapi saya yang mual-mual dan sebagainya?" tanya Banyu.


Dokter wanita bernama Roro itu tersenyum, kemudian mengangguk.


"Bisa, Pak. Dalam kedokteran kami menyebutnya sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Mungkin Bapak sedang cemas dengan Jingga. Jika sekarang kalian belum tahu apakah Jingga hamil atau tidak, mungkin penyebabnya, karena Bapak terlalu memikirkan alasan kenapa Jingga belum hamil. Hingga timbul pikiran, mungkin jika nanti hamil begini-begini, bla bla bla bla. Sehingga timbul kecemasan pada diri Bapak. Dan membuat Bapak jadi seperti ini," jelas dokter itu panjang lebar.

__ADS_1


Banyu tersenyum canggung, karena apa yang dokter itu katakan memang benar adanya. Dia terlalu mencemaskan Jingga jika hamil nanti, tanpa ia ketahui mungkin istrinya malah sedang hamil.


Pintu kamar mandi terbuka pelan. Tampak mata Jingga berkaca-kaca. Wanita itu berjalan cepat menghampiri suaminya. Kemudian menubruk tubuh Banyu dan menangis.


Seulas senyum timbul pada bibir Dokter Roro. Wanita itu berspekulasi bahwa putri dari temannya ini tengah menangis bahagia.


"Bagaimana Jingga, apa hasilnya?" tanya Dokter Roro setelah Jingga mengurai pelukannya.


Jingga mengangguk pelan, kemudian menyodorkan sebuah test pack yang menampakkan dua garis.


"Kalau begitu selamat, Jingga. Dan kalian harus segera memeriksakannya ke rumah sakit," ujar dokter tersebut. Ia kemudian mengambil pulpen dan menuliskan resep yang bisa mengurangi rasa mual yang Banyu derita.


Sebelum pulang, Dokter Roro berpesan agar Banyu tidak terlalu mencemaskan Jingga. Dia hanya perlu percaya dan yakin bahwa Jingga bisa melewati kehamilan kali ini dengan selamat dan lancar. Jingga pun harus bisa membantu meyakinkan suaminya, semua akan baik-baik saja.


***


Jingga kembali memeluk tubuh suaminya. Ia merasa begitu bahagia kembali dipercaya oleh Tuhan. Ia berjanji akan menjaganya dengan baik.


"Maaf, ya, Mas. Gara-gara aku kamu jadi begini," ucap Jingga sembari mengusap pipi suaminya.


Banyu tersenyum. Kemudian mengecup kening Jingga cukup lama.


"Kamu nggak perlu minta maaf, Sayang. Sepertinya ini memang adil untuk kita. Kamu yang hamil aku yang sakit," timpal Banyu sembari mengeratkan dekapannya.


"Jangan terlalu cemas sama aku, ya, Mas. Kita lewati ini bareng-bareng. Aku yakin kita bisa," nasihat Jingga sebelum mengecup bibir suaminya. Banyu mengangguk.


"Sehat-sehat ya, adek. Besok kita ketemu dokter untuk lihat bagaimana kondisi kamu," ujar Banyu seraya mengusap perut Jingga. Terakhir ia melabuhkan sebuah kecupan kecil pada perut istri tercintanya.


Hari ini. Mereka ingin menghabiskan waktu hanya berdua. Saling mendekap satu sama lain hingga esok hari tiba.


***


Tinggal 3-4 bab lagi kita tamat ya, guys😌


Dan untuk update mungkin aku selang-seling sama kisahnya Keyra dan Kevin.


Buat kalian yang belum baca, sekarang harus segera baca. Ceritanya nggak akan ngecewain kalian, kok🤭

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen, yaā¤


__ADS_2