
"Tidak, aku hanya penasaran dengan wanita yang di bawa oleh Akeno. Aku merasa ada sesuatu di balik wajah wanita itu." Ujar Anya masih menghempas pikiran negatifnya, yang malah tertuju pada Aira kakak iparnya.
"Sudahlah, sebaiknya kau bersiap, malam ini giliran mu bersama Akeno. Sepertinya tuan sudah terpaut pada tubuh model seperti mu." Puji wanita itu tertawa. Anya menyunggingkan senyumnya. Tidak tahu bahaya apa yang akan menimpanya.
"Ku dengar besok malam adalah acara perkenalan dengan sesama relasi milik tuan Akeno. Dia ingin memperkenalkan calon istrinya pada semua orang." Anya langsung menoleh, ada rasa senang dan juga sakit di hatinya. Kenapa tidak dirinya saja yang berada di posisi wanita itu? batin Anya.
"Kau memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya." Bisik wanita itu. Anya mengangguk, ya, kesempatan ini tidak boleh dirinya sia-siakan. Bagaimana pun caranya, dia harus melihat wajah wanita itu.
Di dalam kamar Aira, satu orang pelayan menyisir rambutnya yang tidak terlalu tebal, namun sedikit panjang.
Wajah itu membuat semua orang yang baru melihatnya akan sangat kagum, tapi tidak dengan para pelayan yang di buat jengkel setiap hari. Seperti sekarang, kedua kakinya di naikkan ke atas meja dengan memakan buah anggur.
Pelayan itu menggeleng kecil melihat tingkah nona nya yang sombong. Sejujurnya dalam hati kecil mereka, semua pelayan tidak setuju jika wajah yang imut itu ternyata orang yang memiliki kesombongan yang sangat tinggi, menurut mereka, itu sama sekali tidak pantas dan cocok.
"Nona, Anda ingin membuat rambut Anda seperti apa?" tanya pelayan itu, dia bisa di bilang pribadi karena selalu mengurusnya, bahkan Aira sendiri lah yang mengutusnya.
"Terserah, asalkan indah dan membuat pria itu tersenyum padaku." Pelayan itu menyinggung kan senyumannya, ia tahu arti dari kata pria itu.
"Sesuai keinginan Anda." jawab pelayan itu. Ia mulai merakit rambut Aira, menggunakan hiasan di sisi rambut dekat telinganya, menampilkan kecantikan yang sangat indah.
Akhirnya rambut itu di tata dengan baik dan sangat indah, Aira menurunkan kakinya dan menatap kagum di kaca.
"Anda sangat cantik, hanya saja...."
"Hanya saja apa? Memangnya ada yang kurang?" tanya Aira dengan cepat.
"Anda terlalu sombong." celetuk pelayan itu, tangannya langsung membekap mulutnya karena berani mengatakan hal yang akan membuat nona nya marah.
__ADS_1
"Benar-benar polos! kata siapa aku sombong? Benar-benar ingin mati kau!" Kesal, tentu saja, siapa yang ingin mendapati kata-kata yang tidak baik dari orang lain?
Aira kemudian bangkit dari duduknya, mengambil air minum, berbalik ke arah pelayan dengan secangkir air yang di siram ke wajahnya. Pelayan itu terdiam sejenak saat mendapati kelakuan nona nya yang menyiram air padanya.
"Nona, kenapa Anda menyiram air pada saya?" tanya pelayan itu, dengan air matanya yang sudah terjatuh.
Aira memanyunkan bibirnya mencebik, "Untung lah aku hanya menyiram air putih saja, jika aku sedang kesal, maka teh panas yang akan berada di wajah mu!" Jawab Aira dengan kesal. Ia mendapatkan tubuhnya di kursi dengan santai memakan anggur kembali, ia tidak peduli dengan pelayan itu, yang merasa harga dirinya di rendahkan.
Akeno turun dari ranjangnya dan meninggalkan wanita malam itu, mereka hanya menghabiskan waktu sedikit, tidak lebih dari satu jam.
Anya menangis pelan, hatinya merasa sedih, setelah kedatangan wanita yang bernama Aira, ia merasa Akeno selalu terburu-buru dan tidak menikmati tubuhnya.
Wajah yang sangat lembut itu bersinar karena cahaya rembulan, wajahnya yang putih mulus seolah mengatakan jika wanita ini adalah orang yang baik seperti bidadari, tidak akan ada orang yang menyangka jika dia adalah sosok yang menyebalkan di antara bisikan-bisikan para pelayan.
Akeno memandang wajah calon istrinya dengan senyuman yang merekah bak bunga teratai, kecantikan Aira seputih salju yang menghiasi ruangan ini, pakaian berwarna putih adalah kesukaannya.
"Kamu sangat cantik, orang tercantik yang ada di dunia ini. Bahkan bidadari mungkin akan kalah darimu." ucap Akeno dengan tersenyum, ia merasa malu menatap Aira, menggelengkan kepalanya seraya tertawa kecil.
"Benar, ibu ku bahkan kalah dari mu." Akeno kembali membukanya dan menyimpannya, tidak ingin mengganggu tidur Aira, ia segera pergi sebelum wanita itu bangun karenanya.
Aira tersenyum karena mimpinya sedang bersama seorang pria yang tidak dirinya kenal sama sekali. Mereka seolah dekat, bahkan saling bertatapan di alam mimpi sana.
***
"Perkenalkan, namaku adalah Lucas, di sini tidak ada yang bernama Kabir. Ingat itu baik-baik!" katanya begitu tegas, mengintimidasi. Semua orang yang ada di perusahaan Ling saling menatap satu sama lain.
Merasakan ada aura yang berbeda dalam diri Kabir sang pemimpin sementara. Kabir kemudian berjalan ke arah ruangannya, seperti ini lah ke kebiasaannya setelah ibunya di culik, dia seolah kesepian dan kepribadiannya sangat berbeda jauh.
__ADS_1
Dia bukan hanya bekerja, namun mencari informasi dari semua orang yang berpengaruh. Tanpa di duga, Kabir hampir terkejut karena terdapat sesosok dua anak kecil seumuran dengannya.
"Huaaaa.... ternyata menunggu one piece season baru lebih cepat dari pada menunggu seorang Lucas." Celetuk anak kecil itu. Kabir mengerutkan keningnya heran, ia pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Sangat normal." celetuk yang lainnya.
"Lucas, akhirnya kau datang juga."
"Gue udah lama banget nunggu Lo nih!" Timpal yang satunya. Kabir tidak menggubris, ia malah duduk dengan santai setelah mendorong salah satu temannya yang duduk di kursinya.
"Cas, bukan Lo aja yang sedih, tapi gue sama adik gue juga sedih." Ujar temannya. Qivian, kakak dari anak laki-laki tersebut itu malah beradu nasib dengan temannya.
"Lucas, Lo tahu kan kalau kita ini kehilangan ibunda kami, tapi lihat dong, kita gak sedih sama sekali." Ujarnya lagi. Sang adik menepuk jidatnya, kakaknya ini selalu saja berbahasa yang bahkan orang china tidak mengerti apapun.
"Semuanya sudah jelas, kita harus mencari bibi Aira dan ibu ku. Lucas, jangan bersedih-"
"Atau gue bakalan ninju Lo sampai kualat."
"Kumat!" ralat sang adik, dia bernama Shi Yi.
"Oh, ya kah?" balas Qivian begitu polos.
"Hadehhh...." Kabir menghela nafas, jika ada mereka berdua, sudah di pastikan pekerjaannya tidak akan selesai sama sekali.
"Kau sedang apa?" tanya Shi Yi, matanya menyipit dan mendekat dengan membaca layar monitor.
"Eummm... Kimazuki? presiden dari Jepang?" tebaknya merasa kagum.
__ADS_1
"Ku dengar presiden di sana sangatlah adil, bahkan para koruptor di libas habis oleh mereka." Lanjut Shi yi.