You Are Mine

You Are Mine
Penari Itu, Apa Dia Sudah Bosan Hidup? 137


__ADS_3

Akeno mengangguk antusias, sedetik kemudian matanya menyiratkan kekesalan.


"Jika bukan karena pria itu, aku pasti sudah berdansa dengan Aira, ibu." desis nya mengadu. Kagira menenangkan putranya dengan mengelus punggung Akeno.


"Jangan di pikirkan, lebih baik kita kembali, ayok, Nak."


Aira yang malas berbincang hanya duduk dengan memperhatikan penari yang meliuk-liuk kan tubuhnya. Begitu erotis sampai-sampai semua mata pria itu seakan ingin menerkam habis mangsanya.


"Semua pria, sama saja!"


"Tapi, tidak dengan dia." lanjut Aira tersenyum, ia membayangkan mimpinya yang indah bersama seorang pria di kala mereka bertemu.


"Itu hanya mimpi, tapi kenapa aku merasa begitu nyata?" gumam Aira.


Tepukan di bahunya membuat ia tersadar, Kagira sedang menatapnya dengan penuh kelembutan.


"Kamu sangat cantik memakai pakaian ini, sayang." pujinya tersenyum. Aira memaksa untuk membalas senyuman wanita itu, namun ia hanya bisa menipiskan bibirnya.


"Ku pikir ibu tidak jadi datang." celetuknya.


"Ulang tahun Akeno, tentu saja tidak boleh di lewatkan sama sekali." Jawab Kagira. Aira mengangguk mengiyakan, tidak mungkin ada seorang ibu yang akan meninggalkan pesta acara putranya sendiri.


"Ibu, dari pada di sini, kenapa tidak berbicara dengan kerabat atau teman-teman mu saja?" Ide yang sangat bagus.


"Usulan mu sangat lah hebat, bahkan orang tidak akan tahu jika kata-kata mu mengandung kata usiran secara tidak langsung." Sembari tertawa kecil Kagira membalasnya dengan sedikit sindiran.


"Ibu ini, bagaimana mungkin aku bisa mengusir mu." Balas Aira.


"Baiklah, anggap saja itu bukan usiran, tapi untuk membuat ibu pergi dari sini." Kata Kagira. Aira terkekeh geli, apanya yang beda dari kata sebelumnya, itu adalah kata yang menyuruh kita untuk tidak di sini lagi. Batin Aira bermonolog.


"Karena kamu merasa tidak ingin di ganggu, ibu akan menyapa para tamu satu-persatu." Pamit Kagira. "Baik, hati-hati ibu." seru Aira.


Melihat wanita itu sudah pergi, ia mengelus perutnya, "Dia nenek mu, tapi tidak pernah menanyakan kabar mu sedikit pun."


"Jadilah anak yang baik, ibu akan sangat senang jika kamu adalah anak satu-satunya di keluarga ini. Kau akan menjadi penguasa ketika kau lahir ke dunia ini." Gumam Aira, ia mengangkat kepalanya menatap orang yang begitu ramai saling berbincang.

__ADS_1


Para penari yang seolah menggoda para lelaki, membuat semua mata tertuju pada mereka semua. Salah satu wanita itu melangkah mendekati Akeno yang duduk dengan santai di kejauhan sana.


Penari itu menekuk lututnya, mencium tangan pria itu, mata Aira seketika menyipit dengan tangannya yang terus mengelus perutnya.


"Penari itu, apa dia sudah bosan hidup?" tanya Aira pelan.


Melihat Akeno yang hanya diam, penari itu kemudian menarik tangan pria itu, membuatnya mengelus kepalanya, tidak mendapat reaksi apapun, tentu saja ia akan sangat senang.


Sampai akhirnya Akeno menyuruh pada penjaga, ia memberikan uang yang begitu banyak. Penari itu merasa senang, senyuman lembut ia gunakan untuk memikatnya, wajahnya yang tirus dan putih semakin membuat mereka terpesona.


Menggunakan tangan Akeno, penari itu mengelus wajahnya, jari telunjuk itu ia masukkan ke dalam mulutnya, menggodanya seolah ia sedang memainkan milik Akeno yang besar itu.


Kagira menatap aneh pada putranya yang tidak bereaksi, Akeno seakan ingin mengetahui sesuatu apa yang akan terjadi setelah penari itu melakukan hal yang lebih.


Aira tidak berkata apa-apa lagi, ia sangat fokus menonton, para penari yang lain juga melihat cara wanita satu itu menggoda calon suaminya.


"Benar-benar usaha mengkhianati hasil." ucapnya mencemooh penari itu. Aira fokus melihatnya seraya memakan buah anggur kesukaannya, wanita itu sama sekali tidak merasa cemburu.


Sampai akhirnya, penari itu dengan beraninya meraba dada Akeno yang tertutup oleh pakaian tebalnya. Perlahan namun pasti, ia duduk di paha pria itu.


Bibir wanita itu mendekat, mengecup pipi Akeno yang halus tanpa noda. Mengelus pelan bibirnya, wanita itu kini menyatukan kedua bibir itu.


"Hahh!" semua yang ada di sana terkejut dengan keberanian penari yang berciuman di tempat ramai ini.


Akeno tidak diam, ia pun membalas ciuman mereka, menarik pinggang sang wanita dengan meremas kedua bongkahan yang sekal.


"Uh... tuan ku." desah wanita tersebut. Akeno tersenyum sinis.


"Jika kau berani bermain bersama ku di tempat ramai ini, maka aku akan menjadikan mu sebagai wanita ku." Tantang Akeno. Rasa terkejut itu begitu terlihat, penari tersebut menunduk sebentar.


Perlahan tangannya meraba kancing milik Akeno, sebelum itu terlepas, tangannya sudah di cekal kuat.


"Lepaskan pakaian mu, kita akan memberikan kejutan pada penonton." Titah Akeno.


Wanita itu mendesah kembali ketika bongkahannya di remas kuat.

__ADS_1


"Tuan, Anda seperti ini, membuat saya tidak tahan." Desahnya tidak tahu malu.


Aira tertawa kecil, semua musik sudah di matikan, tidak ada yang bergerak sedikitpun dari sana. Penari itu melepaskan pakaiannya satu-persatu.


Kini tubuhnya benar-benar bisa di lihat oleh semua orang, Akeno menatapnya dengan intens.


"Tidak begitu buruk." Ujarnya. Penari itu tentu senang mendapat pujian. Tinggal satu pakaian lagi, maka mereka akan bersatu dan memberikan kejutan yang tidak pernah di perlihatkan oleh orang lain.


"Waww..." suara itu terbit dari mereka semua. Kedua bongkahan dengan satu kuncup itu begitu mekar.


"Tuan ku." Desahnya lagi.


"Ada apa? sepertinya kau sudah tidak dapat menahannya lagi?" Ledek Akeno.


"Tuan, saya mohon berikan sesuatu yang Anda miliki, saya sudah tidak kuat menahannya lagi."


Aira menatap ke arah penari itu dengan bodoh, mau-mau saja dia melepaskan pakaiannya begitu saja, terlebih ratusan tamu hadir melihat semua adegan yang luar biasa itu.


"Nona." panggil sang pelayan. Aira menoleh, ia menautkan alisnya.


"Siapkan sekarang juga." Perintahnya. Pelayan itu mengangguk, kemudian berjalan meninggalkan dirinya sendiri di sana.


Mata para pria tidak berhenti menatap mangsa mereka, seolah bongkahan itu begitu sangat hebat.


"Berdirilah." Titah Akeno. Penari itu tidak menolaknya.


Satu orang pelayan berjalan, saking sunyi nya tempat itu, bahkan suara sepatunya saja sampai terdengar begitu menggema.


Secangkir teh panas sedang ia pegang, semua mata tertuju pada pelayan itu, namun berbeda dengan Akeno dan penari itu, mereka seolah tidak menyadarinya.


Pelayan itu berdiri dengan senang, menampilkan tubuhnya yang molek bak gitar spanyol, indah, kedua bongkahan yang menantang, juga sesuatu yang di miliki penari itu.


"Sepertinya dia masih perawan." bisik yang lainnya.


"Tidak salah lagi, aku juga ingin segera menerkamnya." sahut yang lain.

__ADS_1


__ADS_2