You Are Mine

You Are Mine
Part 78


__ADS_3

Rumah merupakan impian setiap manusia. Tak masalah rumah itu besar atau kecil. Luas ataupun sempit. Yang terpenting dalam rumah adalah kehangatan dalam keluarga. Lebih-lebih jika bisa merasakan kehangatan dalam bertetangga.


Impian Banyu adalah memiliki rumah di daerah yang tidak terlalu ramai dan memiliki tetangga yang bisa diajak bekerja sama. Beruntung, Banyu bisa mendapatkan lokasi seperti impiannya. Beberapa tahun yang lalu ia membeli sebidang tanah dan berencana untuk membangun rumah saat sudah menikah. Sedikit-sedikit ia mengenal beberapa orang yang tinggal di sana. Mereka terkenal begitu ramah. Membuat Banyu kian semangat untuk tinggal di sana suatu saat.


Kawasan rumah ini tidak begitu ramai. Namun, tidak terlalu sepi. Mayoritas penduduk kawasan tersebut orang-orang yang memiliki pekerjaan biasa, seperti guru, pedagang, buruh pabrik, atau pekerja kantoran biasa.


Banyu tidak terlalu menyukai wilayah yang kebanyakan dihuni oleh pengusaha. Menurutnya, tidak terlalu asik dan cenderung akan sangat sepi, karena pasti banyak yang lebih suka tinggal di kantor dan istri-istri mereka akan sibuk dengan dunia mereka juga. Dan Banyu tidak suka akan hal itu.


Ada banyak pertimbangan saat Banyu ingin membangun rumah di lokasi itu. Ia ingin Jingga merasa nyaman begitu pula dengannya. Namun, kala itu hubungan mereka masih terlalu abu-abu terutama Jingga. Dan saat ia sudah benar-benar melabuhkan hati pada wanita itu, Banyu memiliki rencana untuk mengikat Jingga dengan satu rumah impiannya.


Banyu banyak mendapatkan informasi mengenai apa yang istrinya sukai dan tidak sukai dari Kikan. Sejak awal Jingga dan Kikan sudah dekat. Mereka sangat cocok dan sudah seperti sepasang saudara perempuan, hingga mereka sering saling menceritakan pribadi mereka masing-masing.


Saat ini Banyu mengajak Jingga untuk melihat isi rumah lantai dua rancangan salah satu temannya. Rumah yang tidak sebesar rumah keluarganya, namun tidak terlalu kecil juga. Rumah ini akan menjadi rumah terhangat versi Banyu dan Jingga di masa yang akan datang.


Air mancur mini di halaman depan menjadi penyambut siapa saja yang akan berkunjung ke sana. Di sisi samping rumah ada beberapa tanaman buah dan sayuran. Mirip seperti rumah-rumah yang ada di desa. Sama persis dengan apa yang Banyu impikan sejak kecil.


Dalam rumah tersebut memiliki enam kamar. Ukurannya tidak terlalu besar, namun cukup untuk satu atau dua orang dewasa. Dengan kamar mandi di dalamnya.


"Kenapa kamarnya banyak sekali?" Jingga sama sekali tak mengerti kenapa Banyu membuat kamar sebanyak itu, padahal hanya mereka yang akan tinggal di sana.


Sempat terlintas dalam kepala Jingga, bahwa suaminya ini ingin membuka kos-kosan dalam rumah. Tapi, tentu saja ditampik dengan mudah oleh Banyu.

__ADS_1


Kata Banyu, kamar itu untuk anak-anak mereka kelak. Mereka sudah harus menyiapkan mulai dari sekarang, supaya nanti tidak terlalu banyak perubahan di masa depan.


Jingga terharu mendengar apa yang Banyu katakan. Ia bahkan tak pernah berpikir hingga seperti itu. Ya, meskipun ia tetap ingin memiliki anak satu atau dua atau ... lebih.


Banyu kembali menyeret kaki Jingga untuk melihat ruangan lain. Dapur, ruang keluarga dan perpustakaan mini yang berada di lantai satu, di samping kamar tamu yang cukup besar. Semua itu sama persis dengan rumah impian Jingga.


Sudah cukup bagi Banyu memperlihatkan isi rumah tersebut. Saat ini, ia membawa Jingga ke dalam kamar di lantai dua. Ada satu kamar berukuran cukup besar dan tentunya itu untuk mereka.


"Kamu sendiri yang desain ini?" tanya Jingga mengobati rasa penasarannya. Ia mengamati setiap sudut ruangan tersebut. Warna biru mendominasi kamar itu.


"Ya, aku hanya mengatakan bagaimana keinginanku. Temanku yang mengusulkan hal lain sebagai tambahan hingga jadi seperti ini," jawab Banyu. Ia menyeret Jingga ke balkon. Menghadapkan wanita itu pada sinar mentari yang sudah mulai terbenam. Banyu menyandarkan kepalanya pada bahu Jingga, memeluk wanita itu dari belakang.


Mereka terdiam cukup lama dengan posisi tersebut. Hingga akhirnya Jingga membuka suara.


Banyu terkekeh. "Tentu. Untuk apa aku mengajak kamu berkeliling jika ini bukan rumah kita," jawabnya. "Kamu nggak suka?" tanya Banyu saat ia tak mendapati tanggapan apapun dari istrinya.


Jingga menoleh. Ia membalikkan badan hingga Banyu berdiri tegap. Kali ini Jingga yang mendekap pria itu dengan hangat. Bukannya menjawab, Jingga malah bertanya kembali. "Kenapa berpikir seperti itu?"


"Dari tadi kamu diem aja, nggak komentar apa pun," jawab Banyu.


Jingga mendongak. Ia terkekeh melihat ketegangan dari wajah Banyu. "Nggak mungkin aku nggak suka rumah ini. Hampir semua desainnya seperti impianku," ungkap Jingga. Ia bahkan terkejut saat memasuki ruangan-ruangan yang ada dalam rumah tersebut. Hampir semua tatanan dan juga interiornya seperti keinginan Jingga. Padahal, ia tidak pernah menceritakan rumah impiannya kepada Banyu.

__ADS_1


"Ya, aku memang mendesain semua ini seperti keinginan kamu."


Kali ini Jingga mengernyitkan keningnya. Ia tak tahu bagaimana Banyu bisa tahu rumah impiannya.


"Aku dikasih tahu sama Kikan." Satu senyum lebar Banyu berikan pada istrinya.


"Oalah, pantesan!" Jingga tergelak. "Kenapa dulu nggak langsung tanya ke aku? Kenapa harus lewat Mbak Kikan?" tanya Jingga cukup penasaran.


"Karena saat itu kamu belum membalas perasaanku. Aku ingin rumah ini menjadi hadiah untuk kamu dan sebagai pengikat hubungan kita." Banyu menjeda sejenak ucapannya untuk melihat reaksi Jingga. "Tapi, ternyata setelah rumah ini mulai dibangun ..." Banyu tersenyum. "Ternyata kamu membalas perasaanku," lanjutnya dengan binar bahagia.


Bibir Jingga tertarik ke atas. Membentuk satu senyum simpul yang dapat menghipnotis Banyu kapan pun.


"Sebenarnya rumah ini sudah jadi satu bulan yang lalu. Rencananya aku ingin memberikan rumah ini sebagai hadiah ulang tahun untuk kamu." Banyu mencoba tersenyum mengingat saat mereka harus kehilangan sosok malaikat kecil mereka. "Tapi, ternyata kita mendapat satu cobaan dan akhirnya aku memutuskan untuk menunjukkan rumah ini setelah kamu benar-benar sembuh," lanjutnya.


Senyum Jingga terbit begitu cerah. Ia menatap mata Banyu begitu dalam. Menyorotkan api cinta yang sudah membara dan tak akan pernah padam.


Jingga berjinjit, mencium bibir suaminya sekilas, kemudian mengalungkan lengannya pada leher Banyu.


"Terima kasih, sudah memberiku segalanya."


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2