
Aira mengerutkan keningnya, matanya terpejam menahan air mata yang sudah berada di pelupuknya.
"Jika tidak percaya, maka ambil lah buah penangkal pembakar hati, ibu akan mengingat ku setelah meminum isi buahnya." Ujar Kabir mencoba meragukan hati ibunya.
Benar saja, Aira tidak bisa langsung melupakan perkataan anak kecil itu, dengan cepat ia melangkah pergi dari sana sebelum hatinya benar-benar terhubung dan merasa kasihan.
Di ruangan pribadi, Akeno sedang melihat para tabib mengecek buah tersebut, sampai akhirnya mereka bisa menebak buah apa yang di bawa Kabir.
"Apa hasilnya?" tanya Akeno.
"Tuan, buah ini bukan buah biasa, ini adalah obat yang bisa memulihkan ingatan seseorang, bahkan jika sudah beberapa tahun lamanya, jika meminum obat ini maka sudah pasti akan langsung mengingat peristiwa dan kejadian selama masa hidupnya." Ujar tabib itu menunjukkan isi buahnya yang terdapat pil.
"Benar, bahkan obat ini bisa di gunakan oleh para orang tua agar tidak cepat lupa." Timpal sang dokter.
__ADS_1
Tabib itu juga menebak jika buahnya sudah di racik dengan benar sehingga bisa di buka dan langsung di minum.
Akeno mengepalkan tangannya, ia sudah curiga dengan kedatangan anak kecil itu, karena sampai saat ini lelaki yang bernama Aryan tu belum muncul sama sekali di hadapannya.
"Payah! panggil penjaga keamanan gerbang, hukum mereka dengan cambukan, hitung sampai seratus dan lepaskan! Entah dalam keadaan mati atau hidup!" Titah Akeno pada anak buahnya yang setia.
Tabib dan dokter izin untuk pergi setelah semuanya selesai, Akeno mengangguk dan duduk di kursinya, berkas yang ada di meja kerjanya ia singkirkan dengan rasa amarah.
"LUCAS!!!!" Teriak Akeno memenuhi ruangan tersebut, suara itu terdengar hingga keluar, para pelayan sampai bergidik mendengarnya.
Nafas Akeno memburu, menggertakkan giginya yang tajam. Satu kesalahan saja bisa membuatnya kehilangan Aira, Akeno bersumpah tidak akan memberikan peluang pada anak kecil itu.
Di ruangan yang umum, Akeno mengumpulkan semua orang, ia ingin menunjukkan betapa kejamnya seorang Akeno.
__ADS_1
Kabir yang berada di dalam sangkar bagaikan seekor burung di tarik hingga tubuhnya tersungkur, ia menahan tangannya agar tubuhnya tidak terjatuh lagi.
Semua orang menatapnya ngeri, jas yang mahal itu sudah tidak terlihat mewah, sekarang bahkan begitu lusuh di lihatnya. Apalagi melihat bercak darah di kemeja milik anak kecil tersebut.
Pintu terbuka menampilkan Akeno dengan pakaian yang berbeda, di siang hari ini, mereka mengumpulkan orang-orang yang penting di keluarganya.
Berjalan dengan tegas dan cepat, pria itu memiliki wibawa yang sangat istimewa, ia lalu duduk dengan kakinya yang di angkat sebelah.
"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku menyuruh kalian berkumpul setelah kejadian kemarin berlalu, kan?" tanya Akeno memulai perkataannya.
"Setelah Lucas berusaha mencuci otak calon istri ku, aku tidak bisa diam saja, jadi membawa anak itu kemari, menunjukkan pada kalian hukuman yang pantas jika berani mengacaukan acara ku!" Pria itu mendesis dengan menatap mereka semua yang berada di bawah.
Semua orang mengerutkan keningnya, saling berbisik satu sama lain untuk bertaruh dan menebak hukuman apa yang akan di berikan oleh Akeno pada Kabir.
__ADS_1