You Are Mine

You Are Mine
Part 82


__ADS_3

“Mbak, baksonya dua sama es tehnya juga dua.” Keyra mengangkat dua jarinya mempertegas berapa pesanannya.


“Siap, Mbak Key” jawab penjual itu dengan mengacungkan kedua jempolnya.


Keyra lantas kembali duduk di mana sudah ada Jingga di sana. Saat ini mereka berdua berada di warung bakso di dekat gedung kampus.


“Key,”


Keyra menengadahkan kepalanya, ia meletakkan ponselnya di atas meja dan menumpukan kedua tangannya di sana.


“Kenapa?” tanyanya kemudian.


Jingga menghela napas sekejap. “Besok ke pemakaman Riana yuk, udah lama kita nggak ke sana,” ajaknya membuat Keyra terdiam sejenak.


Rasa rindu tiba-tiba menyeruak dalam benak keduanya. Tatapan mereka juga berubah menjadi sendu mengingat sosok sahabat mereka. Tanpa pikir panjang Keyra mengiyakan ajakan Jingga.


“Nggak nyangka, ya, Ji. Riana udah nggak ada,” ujar Keyra diangguki oleh Jingga.


“Kalau dia masih ada, pasti dia lagi ngomelin kita, karena jam segini baru makan.” Jingga melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul dua siang.


Riana, sosok yang paling cerewet di antara mereka bertiga. Meskipun terkadang ucapannya sedikit pedas, ia masih memiliki sisi perhatian sendiri. Gadis itu selalu menjadi penyemangat Jingga dan Keyra. Dia selalu berhasil menghibur Jingga kala sedih. Dia juga yang selalu membuat lelucon di mana pun mereka berada. Tak akan pernah sepi jika Riana ada di antara mereka.


Jingga dan Keyra larut kembali dalam keheningan mengenang sosok Riana. Hingga tanpa mereka sadari seorang pria telah duduk di sana.


“Kalian mau sampai kapan nglamun?” ucapnya mengejutkan Jingga dan Keyra.


“Kevin! Ngagetin ih!” seru Keyra kesal. Ia memukul lengan Kevin dengan begitu keras.


Kevin mengusap lengannya. “Kebiasaan deh, Key, mukulin orang,” keluh Kevin.


“Misi, Mbak, Mas. Ini baksonya” ucap seorang wanita penjual bakso sambil meletakkan nampan beserta es teh pesanan Jingga dan Keyra.


“Makasih, Mbak Surti,” ucap Jingga dibalas senyuman oleh wanita bernama Surti itu.


Surti mengalihkan pandangan pada satu-satunya pria yang ada di meja tersebut. Ia menyentuh bahu Kevin seraya bertanya, “Mas Kevin mau pesen apa?”


Keyra memutar bola matanya malas. Secara tak sadar tangannya menepis tangan Surti dari pundak Kevin.


“Nggak usah sambil pegang-pegang kali, Mbak Sur,” sembur Keyra.


Surti menyipitkan matanya. “Kok Mbak Key marah? Emang Mbak Keyra siapanya Mas Kevin? Pacarnya? Bukan kan?”


Keyra terdiam. Benar juga apa yang Surti katakan. Kenapa ia marah. Gadis itu menggeleng kemudian menyesap minumannya hingga separuh. Dalam kepalanya ia mengumpati dirinya sendiri juga Surti si pemilik warung.


“Gimana Mas Kevin mau pesen atau enggak?” tanya Surti lagi.

__ADS_1


“Samain aja sama mereka,” jawab Kevin.


“Oke deh” Surti berlalu setelah memberikan kedipan nakal pada Kevin.


Keyra mendengkus. “Dasar janda kurang belaian” gumamnya.


Diam-diam Kevin dan Jingga tersenyum dalam pikiran mereka masing-masing melihat tingkah Keyra yang begitu menggemaskan.


“Ciee, Keyra cemburu,” goda Jingga membuat Keyra membelalakkan matanya.


“Apa si, siapa juga yang cemburu,” kilah Keyra sambil mengibas-ngibaskan tangannya. Semburat merah tiba-tiba menghiasi pipi gadis itu, membuat Jingga tak tahan untuk tidak menggoda Keyra.


Sedangkan Kevin hanya bisa mengulas senyum penuh rahasia.


***


Jingga mematut dirinya di depan cermin. Memoleskan lipstik berwarna pink pada bibirnya. Jingga menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk kembali memastikan dandanannya sudah sempurna dan tanpa cela. Dan terakhir ia menyemprotkan parfum pada beberapa titik tubuhnya.


Gadis itu tersenyum lebar melihat kembali hasil karyanya sendiri. Ia memutar tubuhnya, membuat gaun berwarna soft grey-nya sedikit mengembang. Jingga merapikan kembali rambutnya. Rambut yang ia gerai dan ia curly di bagian bawahnya. Untuk sentuhan terakhir, Jingga memasang jepit rambut pada bagian depan kepalanya.


“Selesai,” gumam Jingga.


“Sudah?” tanya Banyu sembari memasang jam tangannya.


“Sudah,” jawab Jingga sembari memutar tubuhnya.


Kening Jingga mengernyit melihat keterdiaman suaminya. Ia menelisik kembali penampilannya, takut ada yang kotor atau riasan wajahnya berlebihan. Merasa tak ada yang salah, Jingga menyentak Banyu dari lamunannya.


Mengerjapkan mata, kepala Banyu menggeleng untuk membawanya kembali ke dunia.


“Penampilan aku ada yang salah, ya?” tanya Jingga memasang raut muka ragu.


“Enggak, kok. Kamu ... gimana kalau kita nggak usah berangkat aja?” tawar pria itu.


Kening Jingga semakin berlipat dalam. Ia semakin yakin penampilannya terlihat sangat jelek.


“Sejelek itu aku, sampai kita nggak jadi dateng ke pernikahan Mbak Celin?” Rasa percaya diri Jingga hilang begitu saja mendengar apa yang Banyu katakan. Matanya berkaca-kaca. Ia merasa waktu yang ia habiskan hampir dua jam terasa sia-sia, karena ternyata penampilannya tetap jelek.


“Ha? Bu-bukan begitu, Sayang.” Banyu mendekati istrinya. Menyentuh bahu gadis itu dengan lembut.


“Kamu cantik, tapi aku ....” Banyu berdecak. “Aku Cuma nggak rela kalau kecantikan kamu dinikmati pria lain.”


“Bohong!”


“Enggak, Sayang. Kamu beneran cantik.”

__ADS_1


“Ya udah, berarti kita harus berangkat,” rengek Jingga. Ia menarik-narik lengan jas suaminya seperti seorang anak kecil yang ingin pergi ke tempat liburan.


“Ayo kita berangkat,” rengeknya lagi.


Suara decakan kembali terdengar dari bibir Banyu. “Nggak usah deh. Aku nggak rela kalau kamu secantik ini. Pasti nanti bakal banyak yang lirik kamu,” ujarnya kesal.


Ya, Banyu sama sekali tak rela, jika ada pria lain yang memperhatikan istrinya. Jingga hanya miliknya. Hanya Banyu yang boleh menikmati kecantikan gadis itu.


“Kalau gitu kamu tidur di luar aja, nggak usah tidur di sini!”


“Loh, kok gitu si.”


“Biarin!” ketus Jingga sembari melipat tangannya di depan dada. Bibirnya mengerucut, karena sebal.


***


Ballroom hotel ternama di kota ini terlihat begitu ramai. Berbagai macam karangan bunga ucapan selamat memenuhi halaman depan. Lampu-lampu terlihat gemerlap menghiasi seluruh ruangan, tanpa ada sedikit pun yang tertinggal.


Banyu menggamit lengan istrinya dengan mesra. Sepasang manusia itu terlihat begitu serasi dengan warna baju senada. Mereka berdua menatap sekeliling. Mengagumi kemegahan pesta pernikahan Celin.


“Kenapa dulu pernikahan kita nggak semeriah ini?” bisik Jingga. Matanya tak berhenti menelisik setiap ruangan yang telah dihiasi dengan aneka ragam bunga.


“Bukannya dulu kamu yang milih resepsinya sederhana,” jawab Banyu sama berbisik.


Jingga berdecak. Saat itu ia sama sekali tak tahu bahwa suaminya memiliki banyak uang. Yang ia tahu, pria yang kini menggiringnya ini hanya seorang pelayan kafe biasa.


“Andai dulu aku tahu sekaya apa kamu, pasti aku minta resepsinya kayak gini.” Gadis itu mendengkus.


Banyu hanya terkekeh mendengar penuturan Jingga. Tak ingin membahas masa lalu, Banyu segera membawa istrinya menemui Celin dan suaminya.


Mereka berjalan beriringan menuju pelaminan. Di sana sudah ada Celin sedang berdiri dengan begitu anggun, berdampingan dengan suaminya.


Jingga sempat terdiam menatap suami Celin. Matanya sama sekali tak berkedip. Mulutnya menganga meskipun tak terlalu lebar.


“Suami Mbak Celin ganteng banget,” ujar Jingga tanpa sadar.


“Apa?” Banyu mendekatkan telinganya, takut ia salah dengar.


Jingga mengangkat kepalanya. “Suami Mbak Celin ganteng,” ucapnya mempertegas.


Mata Banyu menyipit. Kemudian memutar jengah. “Masih gantengan aku lah,” ucapnya penuh percaya diri.


Terkekeh. Jingga menyeret lengan suaminya untuk mendekati pemilik acara malam ini.


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen❤


__ADS_2