You Are Mine

You Are Mine
Part 50


__ADS_3

Akhir-akhir ini Jingga tidak fokus dengan kegiatannya. Banyak sekali pikiran yang membuatnya sering melamun. Semenjak tiga hari yang lalu, setelah ia menginap di rumah mertuanya. Hati dan otak Jingga berperang. Hatinya merasa bersalah, namun otaknya mengatakan semua itu tak masalah.


Ucapan ibu mertuanya di meja makan masih terngiang jelas di telinganya. Mulai dari situ, memori saat ia membantu sang ibu memasak di dapur kembali naik ke permukaan juga.


"Ji, bunda nggak nuntut kamu untuk segera punya anak. Tapi bunda harap kalian tidak menundanya." Wanita itu menghelas napasnya, menatap menantunya yang kini tengah memotong wortel.


Gadis itu menghentikan gerakan tangannya sejenak.


"Dulu teman bunda ada yang nunda untuk hamil. Tapi sampai sekarang dia malah nggak bisa punya anak."


Sederet kata tambahan dari ibu mertuanya membuat Jingga menelan ludahnya susah payah. Perasaan bersalah kembali merasuk ke dalam dirinya.


"Iya, Bun. Kita nggak nunda kok. Mungkin emang belum dikasih sama Tuhan." Bohong Jingga. Ia hanya ingin sekedar menyudahi percakapan ini, atau perasaan bersalahnya akan semakin menjadi.


"Jingga!"


Ketukan di mejanya membawa Jingga kembali ke dunia nyata. Ia mengerjapkan matanya. Menelisik seisi kelas yang telah kosong.


"Lo nglamun?" tanya Keyra.


Jingga menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya. Matanya turut memejam sebentar.


"Enggak," elaknya kemudian.


"Lo ada masalah apa lagi sih, Ji? mantannya suami lo lagi?" tanya Riana.


"Huh? Bukan," Jingga mengibas-ibaskan tangannya.


"Terus?"


"Udah ih, gue nggak papa, cuma capek aja." Gadis itu memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Eh, gue denger dari anak-anak ada restoran baru di kiri kampus," ucap Jingga.


"Restoran apaan?" tanya Keyra.


"Restoran Turki. Lo berdua mau nyoba nggak? udah lama nih nggak makan masakan Turki."


Keyra dan Riana sontak tersenyum lebar. Mereka pun menyetujui ajakan Jingga untuk mampir dulu ke restoran baru itu.


Mereka bertiga memang pecinta makanan Turki. Salah satu alasan mereka menjadi sangat akrab saat SMA adalah ini. Memiliki kesukaan yang sama.


***


Ketiga gadis itu memasuki restoran khas negara Turki. Restoran dengan gaya sangat modern. Lampu gantung berwarna kuning dipadukan dengan cat dinding berwarna soft gold, membuat keseluruhan restoran terlihat seperti bangunan belapis emas.


Mereka bertiga sama-sama berdecak kagum melihat interior yang begitu mewah. Tak hanya mereka saja, sepertinya seluruh pengunjung di sini juga mengagumi setiap dekorasi yang terpasang.


Jingga memindai setiap sudut restoran tersebut untuk mencari meja kosong. Dan tatapannya terhenti pada satu meja di dekat pintu masuk disebelah kanannya. Ia pun mengajak kedua temannya untuk duduk.


Mereka memanggil seorang pramusaji setelah duduk dengan nyaman. Kemudian mengucapkan apa saja pesanan mereka. Beberapa saat kemudian keheningan melanda ketiga gadis itu. Mereka sama-sama menatap ponsel masing-masing.


Jingga mengirimkan pesan kepada Banyu. Ia mengatakan bahwa ia sedang keluar bersama kedua sahabatnya. Tapi, ia tidak mengatakan ke mana ia berkunjung. Dan tanpa menunggu lama, suaminya membalas, mengatakan iya dan juga hati-hati dengan lambang dua hati.


Gadis itu tersenyum sendiri melihat kekonyolan suaminya. Ia masih setia berkirim pesan dengan Banyu hingga sebuah suara memaksanya untuk mengalihkan pandangan dari ponsel.


"Jingga?"


Pemilik nama mengerjap sebentar sebelum seulas senyum kecil menyembul keluar.


"Kamu di sini juga?" tanyanya.

__ADS_1


Jingga mengangguk. "Aku kuliah di deket sini, Mbak Cel."


Celin manggut-manggut. Suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Ia merogoh tas kerjanya. Melihat siapa yang menghubunginya, Celin buru-buru menyambungkannya.


"Siapa, Ji?" tanya Riana sedikit penasaran. Ia merasa ada yang aneh pada Jingga setelah perempuan dengan stelan kerja lengkap itu memanggil.


Jingga menaikkan sebelah alisnya. Ia berdehem pelan. Kemudian baru suaranya terdengar. "Mantan suami gue," ucapnya berbisik.


Sontak Riana dan Keyra melotot. Tangan mereka berdua sama-sama reflek menutup mulut yang tengah menganga. Belum juga keterkejutan mereka selesai, wanita cantik itu kembali menghampiri.


"Jingga, aku boleh minta tolong? titip ini ya" Celin meletakkan satu kotak berlogo restoran itu ke atas meja.


Jingga mengernyit bingung.


"Tadi Banyu nitip ini ke aku, tapi sekarang aku lagi buru-buru banget. Bos aku telepon, nyuruh aku balik ke kantor," jelas Celin. Tanpa menunggu jawaban dari Jingga, gadis itu mengucapkan terima kasih kemudian berlalu meninggalkan Jingga beserta kedua temannya.


Entah dorongan dari mana. Sebuah rasa sakit tiba-tiba menyeruak ke dalam dada Jingga. Ada banyak pertanyaan berkeliaran dalam benaknya. Hingga satu tepukan pada meja membawanya kembali ke alam kesadaran.


"Gila, gila. Pantes Jingga cemburu berat sama mantannya suami dia. Ceweknya cantik gitu," ucap Riana. Gadis itu begitu terpana melihat keanggunan Celin dalam berbicara dan bersikap. Penampilannya pun sangat menawan. Menarik setiap perhatian siapa saja yang menatapnya.


Mendengar kalimat Riana, Jingga hanya menatap malas. Seakan tak tertarik membahas wanita itu. Akan tetapi, saat matanya kembali menangkap sebuah kotak titipan Celin, membuat otaknya harus membahas gadis itu.


Pesanan mereka tiba, mengalihkan setiap pikiran Jingga kembali. Gadis itu berusaha menikmati setiap gigitan souvlaki yang telah ia potong kecil-kecil sebelumnya. Namun, sepertinya hidangan yang mirip dengan roti pide itu tak bisa membuat Jingga berhenti berpikir dan berasumsi.


Kenapa Banyu meminta Celin untuk membelikan makanan ini? Kenapa tidak meminta pada dirinya saja, jelas restoran ini sangat dekat dengan gedung kampusnya. Pikirnya.


Setiap pertanyaan itu kembali timbul acap kali ia melihat kotak tersebut. Hingga Jingga akhirnya memilih meletakkan kotak tersebut di kursi sampingnya yang kosong.


"Kayaknya lo harus gercep deh, Ji," ucap Riana membawa kepala Jingga menatap gadis itu.


"Maksud lo?"


***


Hari sudah sangat gelap saat Banyu dan Jingga menapakkan kaki di lift apartemen. Menengok pada jam yang melingkar pada pergelangan tangan. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tak butuh waktu berjam-jam, lift pun berdenting dan berhenti. Mereka berdua keluar bersamaan dengan beberapa tetangga mereka yang juga baru pulang bekerja. Sedikit perbincangan mereka lontarkan sembari melangkah menuju unit masing-masing.


Banyu melepaskan jaket berwarna coklat yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya. Kemudian beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan Jingga, gadis itu berada di dapur untuk meneguk segelas air. Ia memikirkan apa yang tadi Riana sarankan. Ada sedikit rasa gugup juga takut menyelimuti perasaannya saat ini. Tapi, segera saja ia tepis dan menebalkan setiap keberanian yang ia miliki.


Jingga bergegas masuk ke dalam kamar setelah mencuci gelas yang baru ia gunakan, dan meletakkannya ke tempat semula. Rasa lengket pada tubuhnya membawa Jingga untuk segera ke kamar mandi.


Saat ia membuka pintu kamar, bertepatan dengan Banyu keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pada pinggangnya. Sejenak Jingga terpana, ia terdiam di ambang pintu. Sedetik kemudian ia mengerjap dan sadar, tatkala ia merasakan tangan basah Banyu mengusap wajahnya.


"Mas, ih. Basah," keluh Jingga sembari mengusap wajahnya dengan tangan.


Banyu tertawa. Ia berjalan menuju lemari pakaian. Mengambil sebuah kaos berwarna abu-abu dan juga celana training berwarna hitam yang akan ia kenakan. "Makanya, jangan bengong di tengah pintu," ucapnya ditambah suara tawa yang terdengar begitu menyebalkan.


Istri Banyu itu hanya mendengus kesal. Ia pun berlalu meninggalkan sang suami untuk membersihkan diri.


***


Menatap langit tanpa bintang. Banyu tersenyum sendiri di balkon kamarnya. Beberapa hari yang lalu ia baru tahu bahwa istrinya menyukai makanan khas negara Turki. Dan tadi, saat ia melihat IG story Celin berada di restoran baru di dekat kampus Jingga, untuk pertama kalinya ia menghubungi gadis itu lagi. Dengan menepiskan rasa malunya, Banyu meminta Celin untuk membelikannya satu porsi kebab berisi daging sapi yang nantinya akan ia ganti uangnya. Karena tadi, ia sangat sibuk, sehingga ia tidak bisa keluar sendiri.


Pria itu kembali tersenyum mengingat pesanannya tadi ternyata dibawa oleh Jingga. Wajah gadis itu tampak datar saat memberikannya. Tapi sedetik kemudian tersenyum malu, karena ternyata Banyu sengaja membelikan itu untuk Jingga.


Banyu masih saja mengingat kejadian tadi sembari menatap langit. Hingga tiba-tiba ia merasakan sebuah pelukan hangat berasal dari arah belakangnya. Banyu sedikit terkejut bahkan terjingkat. Ia berpikir bahwa ini hanya halusinasinya saja. Namun, saat ia menyentuh lengan yang melingkar pada pinggangnya, ia yakin ini nyata.


"Kenapa?" tanya Banyu tanpa ingin melepaskan dekapan itu. Ia mengusap lengan istrinya, pelan.


"Nggak papa, pengen aja," jawab Jingga seraya menempelkan pipinya pada punggung Banyu. Ia memejamkan mata menghirup aroma parfum yang begitu maskulin dan menenangkan. Jingga mencoba bertahan untuk tidak bergetar karena gugup. Ini kali pertama ia mendekap tubuh suaminya dengan inisiatifnya sendiri.

__ADS_1


Hening, tidak ada satupun dari mereka yang bersuara. Hanya deru kendaraan bermotor dari arah jalan raya, sedikit memberikan keramaian pada malam ini.


"Makasih ya, Mas," ucap Jingga tiba-tiba.


"Makasih untuk apa?" Kening Banyu terlipat sempurna.


"Makasih, udah mau nerima aku apa adanya. Mau mencoba untuk mencintaiku yang tak sebanding dengan dia dan membawaku keluar dari rumah yang selalu membuatku merasa seperti di neraka." Jingga tersenyum disela ucapannya. "Makasih juga udah mau nunggu aku yang masih labil dengan perasaanku sendiri." Jingga berjinjit, mengecup pipi Banyu sekilas, kemudian berbisik, "i love you." Jingga semakin mengeratkan dekapannya, menyembunyikan wajahnya yang telah memerah sempurna di balik punggung suaminya.


Seulas senyum terbit pada bibir Banyu. Ia merasa seperti seorang remaja yang baru saja jatuh cinta dan cintanya terbalaskan. Jantungnya berdetak begitu cepat mendengar bisikan yang dulu hanya bisa ia bayangkan. Banyu hendak memutar tubuhnya, namun tertahan oleh suara Jingga.


"Jangan!"


"Kenapa?" tanya Banyu tak paham.


Jingga tersenyum. "Aku malu," ucapnya lirih nyaris tak terdengar.


Banyu hanya tertawa tanpa suara, kemudian mengusap tangan istrinya dengan lembut. Rasanya malam ini begitu membahagiakan untuk Banyu. Hingga bibirnya tak berhenti mengulas senyum.


"Mas... " Setengah mati Jingga memberanikan diri. "Boleh aku minta sesuatu?"


"Tentu, aku tidak akan menolak setiap permintaan kamu." Banyu sedikit menolehkan kepalanya ke belakang.


Jingga menggigit bibir bagian bawahnya. Mencoba menetralisir detak jantung yang semakin menggema di telinganya.


"Jadikan aku istrimu sesungguhnya,"


Banyu mengerjapkan matanya. Memutar otaknya, mencari jawaban apakah ia salah dengar atau tidak. Kali ini Banyu sama sekali tidak memercayai pendengarannya.


"Mas, kok diem?" Suara Jingga menyentak kesadaran Banyu.


"Ha? Kamu ngomong apa emangnya?" Banyu moncoba untuk kembali memastikan. Barangkali permintaan Jingga tadi hanya sebuah halusinasinya.


"Aku pengen jadi istri kamu seutuhnya. Jadikan aku milik kamu sesungguhnya."


Sekali lagi kata-kata itu membawa pikiran Banyu terbang melayang. Ia berdehem sejenak untuk mengembalikan segala pikirannya yang sempat hilang.


"Kamu lagi sakit?" Banyu merasakan istrinya menggeleng.


"Aku serius"


Seketika itu juga Banyu membalik tubuhnya dengan paksa. Menatap mata istrinya begitu dalam. Mencari sebuah kebohongan yang nyatanya sama sekali tak tertanam.


Satu kecupan dari bibir Jingga kembali meyakinkan Banyu bahwa istrinya tidak sedang bermain-main atau hanya menggodanya saja. Ia lantas menarik pinggang gadis itu. Merengkuh tengkuknya, meraup bibir merah mudanya yang telah menjadi candu.


Dengan senang hati Jingga mengalungkan tangannya pada leher sang suami. Menikmati setiap cecapan yang Banyu berikan. Tanpa sadar dengan mata tertutup, Jingga membalas setiap ******* yang Banyu berikan.


Pelan tapi pasti. Ciuman yang begitu lembut itu menggiring mereka masuk ke dalam kamar. Membawa mereka mendekati ranjang dan jatuh secara bersamaan.


"Apa kamu yakin?" tanya Banyu setelah melepas pagutan mereka.


Dengan kening menempel Jingga mengangguk dengan seulas senyum. Ia terengah akibat ciuman mereka yang cukup lama, terlalu lelah hanya untuk membuka suaranya.


Banyu kembali memagut bibir istrinya dengan lembut. Memulai malam panjang mereka dengan sentuhan yang memabukkan. Dan membawa mereka ke dimensi lain yang belum pernah mereka bayangkan.


Malam ini meskipun tanpa bintang. Langit menyaksikan sepasang suami-istri memadu kasih. Menyatukan jiwa dan raga. Untuk menguatkan cinta mereka bersama


*****************


Ada yang kangen aku? ehehe :v. Maaf ya baru muncul. Biasa tugas lagi ngejar banget wkwk.


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


__ADS_2