You Are Mine

You Are Mine
Part 29


__ADS_3

Cahaya kuning dari barat menyinar begitu terang. Awan putih berubah warna, senada dengan langit sore. Memberitahu para penduduk bumi, matahari akan segera pergi untuk sementara waktu.


Jingga mengerjapkan matanya. Sinar matahari sore menampar dirinya untuk segera bangun. Namun, rasa enggan tengah menyapanya, memaksanya untuk kembali menuju alam mimpi. Hampir saja Jingga masuk ke alam bawah sadar, saat dirinya baru teringat di mana ia tadi terkahir kali melihat dunia. Seketika itu juga Jingga membuka matanya dengan lebar. Kepalanya bergerak melihat di mana ia saat ini.


Gadis itu terduduk saat mendengar suara pintu terbuka. Matanya membola melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam ruangan yang entah di mana.


"Sudah bangun?." Satu pertanyaan itu tak langsung dijawab oleh Jingga. Ia masih bingung di mana ia saat ini. Karena yang pasti ia tidak berada di kamarnya.


"Kamu tadi ketiduran di meja tempat kamu makan tadi," jelas Banyu, melihat kebingungan sang istri.


Jingga masih sibuk mengumpulkan kembali nyawanya. Gadis itu masih diam tak mengerti.


"Kamu ada di kafe aku, dan sekarang kamu ada di ruangan aku," jelas Banyu lagi sembari mendudukkan diri di samping istrinya.


"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Jingga masih linglung.


"Tadi waktu kamu ketiduran anak-anak lihat, tapi tidak berani bangunin kamu. Jadi, mereka lapor ke aku." Banyu menyunggingkan senyumnya sebelum berucap kembali, "tadi aku udah bangunin kamu, tapi bukannya bangun kamu malah makin pules." Ia terkekeh sebentar melihat ekspresi kaget istrinya. "Jadi, aku bawa kamu ke sini."


"Beneran?" tanya Jingga ragu.


Banyu mengangguk dengan menahan senyumnya. Raut wajah gadis itu begitu menggelitik perutnya. Banyu tak bisa menahan kekehannya saat istrinya tiba-tiba menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu kenapa sih?"


"Aku malu! Aku nggak bisa bayangin aku digendong di depan banyak orang," kata Jingga dengan wajah memerah menahan malu.


Banyu tak bisa lagi menahan diri untuk tidak tertawa. Ia menarik tangan gadis itu untuk membuka wajahnya. Dan Banyu semakin tertawa melihat wajah istrinya berubah warna menjadi merah dengan raut wajah kesal dan bibir mengerucut ke depan.

__ADS_1


"Udah nggak papa, nggak usah malu," tutur Banyu sembari menahan tawanya. "Karyawan aku nggak bakal berani ngetawain kamu, tenang aja." Banyu mengusap kepala Jingga, berusaha untuk menenangkan perasaan gadis itu.


Bibir gadis itu semakin maju ke depan. Ia benar-benar kesal dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tertidur di sana.


Bodoh sekali aku ini! jerit Jingga dalam hatinya.


Tok ... Tok ... Tok ...


Jingga dan Banyu sontak menoleh pada pintu yang tengah diketuk. Dengan segera Banyu menyuruh orang tersebut untuk segera masuk. Dan masuklah dua orang karyawan wanita dengan membawa beberapa camilan dan minuman ke dalam ruangan.


Jingga segera merapat pada tubuh Banyu. Ia menyembunyikan wajahnya pada lengan pria itu. Ia benar-benar malu dilihat para karyawan Banyu. Sudahlah, ia sudah tak punya muka saat ini.


Menyadari sikap istrinya, Banyu segera menyuruh kedua karyawannya itu untuk keluar dan kembali menutup pintu.


"Mau sampai kapan kamu sembunyi kayak gitu?"


Jingga mendongak, mencari keberadaan dua wanita tadi dan ia bersyukur kedua orang itu sudah tidak ada di sana.


Jingga menatap suaminya dengan kesal. "Ya malu lah, ketiduran di meja, udah kayak bocil kurang tidur tahu nggak?" sungut Jingga. Ia sedikit menggeser duduknya, menjauh dari Banyu.


Banyu tersenyum geli. "Udahlah, lupain aja. Sekarang kamu makan aja, biar nggak malu lagi, aku mau ngelanjutin kerjaan aku dulu." Banyu beranjak dari duduknya tanpa menunggu jawaban dari Jingga.


"Mas Banyu nggak makan?" tanya Jingga.


"Nanti aja," jawab Banyu singkat. Tak lama kemudian ia sudah fokus pada layar komputernya.


Jingga manggut-manggut saja. Kemudian ia mencari kunciran rambutnya, yang biasa ia bawa. Setelah itu ia menguncir rambutnya dengan rapi dan mulai menikmati camilan yang baru saja disajikan

__ADS_1


...


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Jingga sudah mulai bosan. Sedari tadi ia hanya makan sembari bermain ponsel. Ini adalah kali pertama ia berkunjung ke kafe Banyu, lebih tepatnya ke ruangan Banyu. Ada rasa canggung yang menyelimutinya, sehingga ia hanya bisa duduk diam di sana.


Melihat istrinya yang mulai bosan, Banyu segera mematikan komputernya. Ia hampiri istri cantiknya itu sembari memakan cake yang tadi dibawa oleh dua karyawannya. Banyu mengisi perutnya yang sejak tadi berdemo minta diisi. Sedangkan istrinya hanya meliriknya sekilas dan fokus pada permainan yang ada pada ponselnya.


Banyu sama sekali tak mempermasalahkan kecuekan istrinya. Ia paham betul, bahwa istrinya bukan gadis yang banyak bicara. Gadis itu akan sangat cerewet jika sudah bersama kedua temannya, dan akan jadi sangat pendiam saat bersama orang yang baru ia kenal. Meskipun Banyu suaminya, hubungan mereka tentu masih belum terlalu dekat, dan Banyu memahaminya.


Melirik jam yang melingkari lengannya. Banyu mengajak sang istri untuk pulang, tapi sebelum itu ia akan mampir dulu ke supermarket. Ada beberapa barang yang harus ia beli untuk memasak besok. Jingga pun tak keberatan, karena ia akan sangat senang diajak berbelanja nanti.


Jingga dan Banyu berpapasan dengan Kikan saat mereka baru saja turun dari lantai dua. Banyu berhenti sejenak untuk mengobrol dengan sahabat wanitanya itu.


"Lo naik apa hari ini?" tanya Banyu. Sudah menjadi kebiasaan Banyu menanyai Kikan sebelum pulang dari kafe. Hingga sekarang pun ia tidak akan lupa menanyai sahabatnya. Ia sendiri yakin istrinya tak akan keberatan dengan segala perhatiannya pada Kikan.


"Gue naik motor." Kikan menunjuk motornya yang berada di luar, terparkir tak jauh dari motor Banyu.


"Gue telponin Deva, biar dijemput." Banyu mengambil ponselnya.


"Ih apaan sih, Nyu. Ngapain telepon si Deva. Gue bisa balik sendiri." Kikan mencegah Banyu yang hendak menghubungi Deva.


"Ini udah malem, Ki. Lo nggak boleh balik sendiri. Lo tahu kan sekarang gue nggak bisa nganterin lo balik." Banyu tak mendengarkan larangan Kikan. Ia tetap menghubungi Deva untuk menjemput Kikan.


Kikan tak bisa berbuat apa-apa jika Banyu sudah memutuskan. Pria keras kepala itu terkadang sering seenaknya sendiri, tapi Kikan suka. Itulah kenapa Kikan bisa jatuh cinta pada pria itu. Perhatian kecil yang selalu Banyu berikan membuat hatinya selalu berdebar-debar.


"Bahaya kalau Mbak Kikan pulang malem sendiri, apalagi naik motor. Kak Deva pasti juga nggak keberatan jemput Mbak."


Kata-kata perhatian dari Jingga menggetarkan hati Kikan. Sepertinya ia benar-benar harus segera mengenyahkan perasaan sukanya pada Banyu dan mendukung sepenuhnya hubungan sahabatnya dan gadis itu. Karena dari apa yang ia lihat ini, gadis itu benar-benar gadis baik. Sifat gadis itu sangat berbanding terbalik dengan dirinya. Ia tidak pernah menunjukkan perhatiannya pada orang lain, jika ia belum terlalu mengenalnya. Dan gadis ini, sepertinya lebih suka menunjukkan perhatiannya, meskipun mereka baru saling kenal.

__ADS_1


Sembari menghela napasnya Kikan mengangguk setuju. Bagaimanapun juga, ia sadar, malam hari terlalu berbahaya untuk seorang wanita sepertinya.


Jangan lupa like dan komen


__ADS_2