You Are Mine

You Are Mine
Part 65


__ADS_3

Sudah tiga hari Jingga menginap di kediaman mertuanya. Hari ini ia mengajak Banyu untuk kembali ke apartemen. Bukan dia tak betah. Hanya saja ia sedang ingin berduaan dengan suaminya tanpa diganggu. Dan jika mereka tetap di sini, sudah bisa dipastikan waktu mereka untuk berduaan tidak akan pernah ada.


Jingga merapikan beberapa baju yang baru saja diantarkan seorang asisten rumah tangga setelah dicuci. Ia memasukkan beberapa lipatan baju ke dalam lemari dan menatanya dengan rapi. Wanita dengan baju daster itu berbalik menuju ranjang untuk mengambil beberapa pakaian lagi.


"Astaga!" Tubuh Jingga sedikit tertolak ke belakang mendapati sang suami berada di depan pintu kamar gantinya. Ia memukul dada Banyu kesal. "Ngagetin tahu!" rajuk gadis itu dengan bibir mengerucut.


Banyu tertawa. Melihat tingkah lucu istrinya adalah kesenangan barunya. Apalagi saat merajuk seperti ini, selalu membuat Banyu merasa ingin memakan Jingga hidup-hidup.


"Imut banget kalau lagi cemberut." Banyu mencolek dagu istrinya.


Jingga hanya berdecak saat pipinya dicubit Banyu. Ia tak menepis tangan nakal pria itu. "Udah dong, entar pipi aku kempes kalau kamu giniin terus," ucap Jingga sambil mencebik. Wanita itu segera beralih ke belakang suaminya. Mendorong tubuh tegap itu masuk ke dalam kamar ganti sambil menggerutu.


"Kamu dari tadi nggak pakai baju nggak kedinginan apa?" tanya Jingga jengkel.


"Enggak lah, kan ada kamu yang selalu menghangatkan aku"


Pipi Jingga merona mendengar jawaban suaminya. "Gombal" cibirnya.


Banyu menoleh ke belakang. Menatap istrinya dengan kening berkerut. "Tadi nyuruh aku ganti baju. Sekarang kamu yang nggak keluar." Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada.


"Emangnya nggak boleh aku di sini?" tanya Jingga. Matanya mengerjap dengan pipi sedikit menggembung. Dengan berani ia mengulurkan tangan. Mendekap tubuh suaminya dari belakang.


"Nah kan, sekarang malah peluk-peluk." Kepala Banyu menggeleng. Tapi bibirnya menyunggingkan senyum. "Awas-awas, aku mau ganti baju. Dingin ini," ucapnya pura-pura kesal.


Jingga menggeleng di balik punggung suaminya. Ia menghirup aroma sabun yang menguar. Aroma khas Banyu selalu berhasil membuat hatinya tenang.


"Aku mau buka handuk loh, kamu mau tetep kayak gitu atau gimana?" tantang Banyu.


"Buka aja, kan aku dari belakang."


Pria itu berdecak. Menggeleng tak percaya pada perubahan istrinya. Semenjak hamil Jingga memang sedikit lebih berani daripada dulu.


Banyu selesai memasang seluruh pakaiannya, meski harus ada drama terlebih dahulu. Kemudian kedua orang itu turun ke dapur untuk sarapan.

__ADS_1


"Kamu beneran nggak mau tinggal di sini aja?" tanya bunda Ika pada menantunya. Ia memasang muka sedih, berharap menantu cantiknya itu iba dan tidak jadi pergi dari sana.


"Aku kangen apartemen, Bun." Agak menyesal sebenarnya ketika melihat raut wajah ibu mertuanya berubah sedih. Namun keinginannya untuk tinggal di apartemen jauh lebih besar dari rasa sesalnya.


"Ya udah. Kapan-kapan Bunda main ke sana. Sekalian ngecek kondisi kamu. Nggak papa kan?" tanya wanita itu semringah.


"Nggak papa dong, Bun. Aku malah seneng kalau Bunda mau sering-sering ke sana." Senyum lebar Jingga tak dapat lagi disembunyikan. Entah kenapa ia sering sekali tersenyum jika berada di rumah ini.


"Jaga kesehatan ya, Dek. Telepon Mbak kalau kamu butuh bantuan." Ama mengusap pipi adik iparnya penuh sayang. Tak lupa mereka cipika-cipiki sebelum Jingga dan Banyu meninggalkan rumah besar itu setelah selesai sarapan.


BB Kafe


"Mbak Kikan!" pekik Jingga saat kakinya sudah berada di dalam kafe. Netranya menatap lekat wanita yang selalu ia anggap sebagai kakaknya itu. Ia pun menghambur memeluk Kikan begitu erat. Menyalurkan segala rindu yang ia miliki pada sahabat suaminya ini.


"Kangen ya, lo?" tanya Kikan sambil mengusap punggung istri sahabatnya.


Jingga mengangguk dalam dekapan Kikan. Mereka mengurai pelukan. Kikan dibuat terkejut saat melihat Jingga menagis.


"Katanya tadi dia kangen banget sama lo. Udah seminggu nggak ketemu sama lo kan?," jelas Banyu.


Memang benar mereka sudah lama tidak bertemu. Apalagi semenjak Banyu mulai menggantikan posisi ayahnya. Jingga juga jarang sekali datang ke kafe. Namun, mereka tetap berhubungan melalui panggilan video atau hanya sekadar berbalas pesan.


"Kok jadi cengeng gini?" tanya Kikan lagi. Ia masih belum paham dengan kondisi saat ini.


"Semenjak hamil dia emang emosional baget," jelas Banyu sambil berlalu mengambil tisu.


"Ha? Gimana-gimana?" Kikan mengerjap bingung. Ia tidak salah dengar bukan?


"Eh, gimana? Lo hamil?" tanya Kikan pada Jingga yang masih setia memeluk dirinya.


Jingga mengangguk.


"Aaaa. Selamat ya" Kikan menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri bersama tubuh Jingga.

__ADS_1


***


"Lo pasang di depan, hari ini diskon 70% untuk semua menu," ucap Banyu pada seorang pegawainya.


"Beneran, Bang?" tanya pria itu memastikan.


"Iya, cepet sana!" Perintah Banyu.


Pegawai laki-laki itu berlari mengajak salah satu rekannya untuk membuat tulisan dan menaruhnya di depan kafe.


Hari ini Banyu memang sengaja datang ke kafe-nya untuk merayakan kehamilan sang istri. Selama satu minggu ke depan ia akan memberikan diskon pada pelanggan. Dan akan membagikan sepuluh ribu bungkus untuk orang-orang yang kurang mampu.


"Ki, nanti malem ajak anak-anak makan. Suruh ambil apa aja yang mereka mau. Jangan lupa bungkusin buat keluarga mereka." Banyu mendudukkan diri di samping istrinya.


"Siap Pak Bos," jawab Kikan dengan tangan memeragakan orang yang tengah hormat.


***


Sore hari


Jingga sedari tadi tak lepas dengan ponselnya. Ia sedikit bosan karena Kikan dan Banyu tengah berdiskusi berdua, mengabaikannya.


Satu pesan masuk dari Keyra. Gadis berambut sepunggung itu menegakkan badan.


"Mas, anterin aku sekarang!"


Banyu menghentikan obrolannya dengan Kikan. Keningnya berkerut dalam. "Anterin ke mana?"


Jingga menunjukkan pesan dari Keyra.


Keyra: Ji, Riana drop. Maminya nyuruh kita ke sana.


"Ayo cepetan!" ajak Jingga tak sabar. Ia menarik lengan suaminya sedikit kasar, hingga pria itu bangun dan menuruti langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2