
Setelah selesai makan siang. Ata dan Caca mencuci piring bersama. Kali ini mereka tidak berdebat atau bertengkar, mereka malah bercengkerama bersama.
"Ta, nanti anterin gue cari buku, ya?"
"Ke mana? Ke mal aja ya? Gue mau sekalian cari sneakers," ajak Ata sebagai tanda setuju.
"Terserah, gue mah ikut aja. Daripada enggak ada temen," balas Caca.
"Kak Maya sama Kak Sofi ke mana? Tumben ngajak gue," tanya Ata.
"Mereka lagi ada acara tadi katanya," jawab Caca. Ia membilas tangannya setelah semua piring bersih. Diikuti oleh sang adik.
"Oke, kalau gitu gue siap-siap dulu." Ata segera melenggang meninggalkan kakaknya.
Caca mengambil air minum dari dalam kulkas sebelum meninggalkan dapur. Matanya memicing, melihat adik bungsunya masuk ke dalam dapur sambil membawa tiga kotak martabak.
"Dapet dari mana, Lo?" tanya Caca pada sang adik.
"Nemu di kali," jawab Bia asal.
Caca menjitak kepala sang adik dengan kesal.
"Aww, sakit, Kak." Bia mengaduh sembari memegangi kepalanya.
"Biarin," balas Caca cuek.
"Isss," desis Bia.
"Dapet dari mana?" tanya Caca lagi.
"Ya, beli lah. Tadi waktu perjalanan pulang, aku sama ayah mampir ke stand martabak pinggir jalan," jawab gadis remaja itu kesal.
"Ee, lo mau makan lagi?" Mata Caca melebar, melihat sang adik membuka satu kotak martabak tersebut.
"Kenapa sih? Bia tu masih laper!" seru gadis itu tak suka. Matanya memicing tajam pada sang kakak.
"Lo kan baru makan, Bianglala, perut lo enggak sumpek apa?" balas Caca tak kalah geram.
"Kan perut-perut Bia. Bia yang laper, jadi Kak Caca nggak tahu gimana rasanya jadi Bia." Raut muka Bia berubah muram. Ia paling tidak suka saat akan makan direcoki oleh seseorang.
Bia memang memiliki perut yang super lebar, sehingga ia sulit sekali merasa kenyang. Namun, bentuk tubuhnya pun masih bisa dibilang ideal. Sama sekali tidak terlihat lebar, karena asupan makanannya pun memang bergizi.
"Astaga, Bia. Ngidam apa mama dulu punya anak kek lo," gumam Caca. Ia pun membiarkan sang adik sendiri di dapur.
Satu jam kemudian Caca dan Ata sudah siap. Mereka berdua tampak seperti sepasang kekasih, karena jarak usia mereka yang tak terlalu jauh.
Caca terlihat begitu cantik dengan celana joger berwarna dark grey dipadukan dengan jaket berwarna navy. Rambutnya yang cukup panjang digerai indah. Tapi, gadis itu juga membawa jepit rambut untuk berjaga-jaga, jika sewaktu-waktu ia merasa gerah.
Hanya dengan celana jeans hitam dan jaket jeans berwarna abu-abu saja, Ata terlihat begitu tampan. Remaja pria itu terlihat lebih dewasa, namun keren disaat yang bersamaan.
Saat menuruni tangga, keduanya melihat adik dan kedua orang tuanya sedang menonton televisi. Caca dan Ata menghampiri mereka bersama-sama.
"Loh, Kakak mau ke mana?" tanya Bia, saat melihat kedua kakaknya rapi dengan setelan santai mereka.
"Mau ke mal, Bi," jawab Caca. Sebelumnya ia sudah meminta izin pada Banyu untuk pergi.
__ADS_1
"Kok, enggak ajak Bia, sih," sungut gadis itu. Bibirnya maju beberapa senti sebagai bukti kekesalannya.
"Kan lo abis ikut ayah pergi. Gimana sih?" balas Caca tak kalah kesal.
"Ya, kan Bia juga mau diajak!"
"Enggak, ya. Lo di rumah aja sama ayah sama mama." Caca dan Ata buru-buru menyalami tangan Banyu dan Jingga. Mereka segera keluar sebelum Bia merecoki acara jalan-jalan mereka.
"Ihhh, sebel deh, Bia enggak diajak!" seru gadis itu. Suaranya begitu keras, hingga Caca dan Ata yang sudah berada di luar rumah mendengar suara menggelegar Bia.
Ata melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Jalanan cukup ramai, mengingat hari ini akhir pekan.
Butuh waktu hampir satu jam untuk mereka sampai di sebuah mal yang sebenarnya jaraknya tak terlalu jauh dari rumah mereka. Namun, karena banyaknya kendaraan membuat jalanan macet.
Caca dan Ata segera masuk ke dalam mal tersebut. Mereka naik ke lantai dua untuk mencari buku yang Caca butuhkan.
"Kak, emang enggak sulit ya kuliah sebelum usianya?" tanya Ata. Saat ini mereka sedang mengelilingi toko buku yang cukup besar di mal tersebut.
"Maksud, lo?" tanya Caca tak mengerti.
"Ya, kan usia lo masih delapan belas, dan harusnya lo masih kelas tiga SMA," jelas Ata.
Caca memang sudah menempuh bangku kuliah saat ini. Berkat kecerdasannya, Caca bisa mengikuti program sekolah dua tahun saat SMP. Dan saat SMA, Caca tak lagi mengikuti program tersebut, karena menurutnya itu terlalu melelahkan pikirannya. Ia harus berpikir ekstra untuk bisa mengikuti program tersebut.
"Ya, sulit sih. Tapi, mau gimana lagi, semua orang pasti juga ngrasain." Caca mengambil satu buku yang ia butuhkan.
Gadis itu lantas membaca sinopsis buku tersebut di bagian sampul belakang. Bibirnya pun melengkung, karena sudah mendapatkan buku yang katanya sangat sulit dicari.
"Gue udah dapet, nih!" Caca mengangkat bukunya di hadapan sang adik. Kemudian mengajak remaja lelaki itu untuk segera ke kasir dan membayarnya.
Mereka melanjutkan perjalanan mencari sneakers untuk Ata. Lantai tiga merupakan tujuan mereka berdua. Sesampainya di toko, Caca dan Ata segera berkeliling untuk mencari sneakers terbaru. Atau paling tidak, sneakers yang cukup menarik mata mereka.
"Lo kenapa, Kak?" tanya Ata saat melihat sang kakak tampak menggerutu.
"Hm? Enggak apa-apa," jawab Caca seolah tak terjadi sesuatu. Gadis itu lantas memisahkan diri dari sang adik, karena tampaknya seseorang yang ia hindari itu menuju rak yang sama.
Ata tak menghiraukan kakaknya dan kembali sibuk menatap sneakers satu persatu. Tiba-tiba saja tatapan matanya jatuh pada satu sneakers berwarna putih yang dipadukan dengan warna merah dan hitam. Ia hendak mengambil sneakers tersebut, namun seseorang di sampingnya juga ingin mengambil barang itu. Ata seketika menoleh dan terkejut melihat siapa orang itu.
"Loh, Bang Abi!" seru Ata, seseorang itu ternyata kakak dari teman dekatnya.
"Oh, hai," balas pria di samping Ata itu.
Mereka lalu berjabat tangan. Kemudian, saling menanyakan kabar.
"Bang Abi nggak sama Dio?" tanya Ata basa-basi.
"Enggak, tadi sama temen," jawab pria bernama Abimanyu itu seraya menunjuk kedua teman kembarnya yang juga sedang mencari sneakers.
Ata hanya ber-oh ria saja. "Bang Abi, juga pengen yang ini?" tanya Ata mengingat tadi mereka mengambil sneakers yang sama.
"Buat lo aja," ujar pria itu tenang. Seulas senyum terlempar begitu saja dari bibir pria itu.
"Eh, enggak gitu. Maksudnya kalau Bang Abi juga mau itu, aku mau nanyain stoknya." Ata kemudian mencari penjaga toko, dan menanyakan stok tersebut.
Mereka berbincang-bincang sebentar setelah membayar dua sepatu yang sama itu. Di tengah perbincangan itu Ata tiba-tiba teringat kakaknya yang tentu saja masih berada di sana. Remaja itu pun, segera berpamitan pada Abimanyu dan kedua teman pria itu. Ata lantas menghubungi sang kakak. Dan ternyata Caca masih berada di toko tersebut. Setelah bertemu, Ata mengajak Caca untuk pulang.
__ADS_1
Ata dan Caca berjalan beriringan. Sesekali mereka tertawa saat melihat hal lucu. Hingga tiba-tiba Ata merasa ada seseorang menarik tangannya dari belakang.
"Dasar brengsek!"
Plak
Ata memalingkan wajahnya, saat mendapat tamparan secara tiba-tiba.
"Jadi, gini ya kelakuan kamu di belakang aku?" Seorang gadis yang telah menampar Ata terlihat merah padam menahan emosi.
Caca mengernyit tak mengerti melihat gadis itu.
"Jadi, bener kata temen-temen aku katanya kamu ini playboy," ucap gadis itu lagi membuat mata Ata membola.
Seringai terbit pada bibir Caca. Sepertinya ia mulai tahu kondisinya.
"Sayang, ini siapa?" ucap Caca seraya melingkarkan tangannya pada lengan Ata.
Mata Ata semakin membesar melihat apa yang kakaknya katakan. Ia mengalihkan pandangan pada gadis yang baru saja menamparnya. Gadis yang belum lama ini menjadi kekasihnya.
Gadis itu turut melebarkan matanya. Ia menatap nyalang pada Ata kemudian menunjuk-nunjuk dada remaja pria itu dengan jarinya.
"Kamu jahat, Cakra! Jahat!"
"Stel, dengerin aku dulu, ini nggak seper–"
"Nggak, nggak perlu ada yang perlu dijelasin!" potong gadis itu sambil berteriak. Ia menyeka air matanya yang luruh tanpa permisi.
"Ada apa ini?" tanya seorang laki-laki berusia sebaya dengan Ata. Laki-laki itu langsung merengkuh pinggang Stella–kekasih Ata.
"Siapa, lo?" tanya Ata sarkastis. Matanya memicing memindai laki-laki tersebut.
"Gue pacarnya Stella," jawab pria itu. Sedangkan gadis bernama Stella itu terlihat gelagapan. Ditambah tatapan menusuk dari Ata seolah melemparkan sebilah pedang padanya.
Berbeda dengan Ata yang berubah emosi. Caca malah tertawa dengan begitu keras. Seolah, drama di depannya ini begitu lucu.
"Ya ampun, Ta," ucap Caca di tengah tawanya.
"Adek gue ditipu sama cewek," ucap Caca lagi, membuat gadis bernama Stella itu menoleh.
"Adik?" gumam Stella. "Jadi, cewek ini kakaknya Cakra?" imbuhnya masih menggumam, namun Caca mendengarnya meskipun samar.
"Iya, gue kakaknya. Emang kita nggak mirip, ya? Wah, Ta, kayaknya kita perlu tanya ayah sama mama kenapa kita nggak mirip."
Ucapan Caca membuat gadis itu salah tingkah. Gadis itu hendak membuka suara untuk meminta maaf dan meluruskan apa yang terjadi, namun lebih dulu dipotong oleh Ata.
"Sekarang, kamu yang nggak perlu jelasin ke aku, siapa cowok ini," ucap Ata seraya melenggang dari sana.
"Cakra, tunggu! Enggak seperti itu!"
"Ee, lo nggak perlu kejar Ata. Percuma!" Caca menahan gadis itu. "Ata, enggak akan percaya sama ucapan dan penjelasan lo, apalagi tadi lo sempet nampar dia. Sorry, ya. Mending lo putus sama adek gue. Gue juga nggak rela adek gue yang gantengnya kebangetan itu diduain sama cewek kayak lo," tutur Caca sambil menyeringai.
"Bye!" Caca melambaikan tangannya pada gadis itu dan segera menyusul langkah Ata yang entah sudah sampai mana.
"Si Ata ninggalin gue, awas lo nanti!" gerutu Caca sambil mencari nomor ponsel adiknya.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komen❤