You Are Mine

You Are Mine
Season 2 : Bab 7


__ADS_3

Langkah kecil terseret berat menuju sebuah kelas. Suasana sekolah masih amat sepi, karena hari masih terlalu pagi.


Rania mendudukkan dirinya dengan lemah. Suasana hatinya begitu kacau setelah mendengar ayah dan ibunya yang akan melakukan perjalanan bisnis lagi.


Sudah lumrah bagi seorang pengusaha sering keluar kota hingga berhari-hari. Hanya saja, terkadang Rania tidak mau kedua orang tuanya melakukan hal tersebut. Sebagai seorang anak perempuan, ia tentunya ingin dimanja oleh ibunya, ingin merasakan kasih sayang penuh seorang ibu. Terkadang ia malah iri pada Wina yang sering diomeli oleh ibunya karena telat pulang sekolah atau pergi tanpa izin.


Rania sadar, iri memang tidak diperkenankan. Namun, saat melihat bagaimana antusiasnya Wina ketika menceritakan bagaimana kehebohan ayah maupun ibunya saat di rumah membuat Rania menginginkan hal tersebut.


Remeh jika didengar. Namun, Rania benar-benar ingin merasakannya. Ia ingin bisa menceritakan bagaimana suasana rumahnya kepada setiap temannya. Namun, alih-alih bisa menceritakan hal tersebut untuk membayangkan saja Rania tidak bisa. Orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Bahkan Rania bisa menghitung dengan jarinya berapa kali Rania bertemu dengan mereka dalam satu tahun ini.


Embusan napas lelah Rania mengisi kelas yang masih kosong itu. Sebulir kristal tiba-tiba meluncur dari netranya. Buru-buru Rania menghapusnya sebelum ada yang melihat dirinya menangis tanpa sebab.


Namun, semua itu terlambat. Ata yang hari ini harus berangkat pagi, karena sang adik ada acara melihat ketika Rania mengusap pipinya.


“Pagi-pagi udah nangis aja, Neng,” ucap Ata membuat Rania terlonjak.


Gadis itu menatap ke arah pintu. Netranya yang selalu memancarkan kelembutan itu membulat melihat Ata berada di sana. Buru-buru Rania memalingkan muka agar tidak lagi bertatap dengan Ata.


“Siapa yang nangis,” kilah Rania.

__ADS_1


Ata tersenyum miring, lantas mendekati meja gadis itu. Cowok itu duduk di bangku sebelah meja Rania. Ia memiringkan kepala untuk melihat wajah gadis itu dengan saksama.


“Nggak mau ngaku nih ceritanya,” goda Ata sembari menaikturunkan alisnya.


“Apa sih, Cakra!” Rania semakin menundukkan kepalanya saat Ata kembali mencoba menatap wajahnya.


“Abis putus, ya?” tanya Ata sembarangan.


Rania memandang Ata horor. Menangisi seorang pria bukanlah kebiasaan Rania. Ia sedikit tidak terima ketika Ata menuduhnya seperti itu.


“Ngaco kamu! Emang kalau cewek nangis cuma karena abis putus doang?”


Sial! Batin Rania. Gadis itu merasa telah dijebak oleh Ata.


“Aku nggak abis nangis, Cakra!” Gadis itu masih ngotot untuk tidak mengaku. Terlalu malu terlihat lemah di hadapan orang lain, apalagi masih belum kenal.


“Terus tadi kamu ngapain ngusap pipi? Benerin bedak?” tanya Ata diselingi tawa kecilnya.


“Bukan urusan kamu!” sembur Rania.

__ADS_1


Bahu Ata semakin bergetar melihat tingkah Rania yang menurutnya sangat lucu.


“Eh, lo punya tisu nggak?” Ata bertanya pada seorang teman sekelasnya yang baru saja masuk ke dalam kelas.


“Ada,” jawab siswi itu sembari mengeluarkan sekotak tisu yang selalu dia bawa.


“Buat apa?” tanya gadis itu penasaran.


“Mau aku kasih ke Rania, buat ngelap ingusnya yang belepotan ke mana-mana,” jawab Ata.


Seketika itu juga Rania melotot kesal. Ia tidak tahu bahwa cowok yang digadang-gadang sebagai cowok tertampan di sekolahnya merupakan sosok yang sangat menyebalkan.


“Bohong! Nggak usah dikasih, Nit. Cakra orangnya nggak bener,” larang Rania dengan kesal.


“Siapa yang bilang Cakra orangnya nggak bener?”


***


Jangan lupa like dan komen❤

__ADS_1


__ADS_2