
“Kak tadi mama telepon katanya suruh mampir ke kafe ayah, suruh ngambil pesanan Bu Ratna,” ucap Bia saat ia dan Ata berada di tempat parkir sekolah.
Ata yang tengah memasang kancing helm menoleh sejenak pada adiknya. “Kafe yang mana?” tanya Ata sembari menaiki motornya.
“Itu loh, yang di samping pertigaan lampu merah.” Bia mencondongkan tubuhnya supaya sang kakak mendengar kalimatnya.
Setelah mengangguk, Ata melajukan kendaraan roda duanya membelah jalan raya. Mereka berbincang pelan saat dalam perjalanan. Aktivitas yang jarang mereka tinggalkan, karena Bia memang suka bercerita di atas motor.
Tak lama kemudian mereka sampai di kafe yang Bia maksud. Mereka berdua pun masuk tanpa sungkan. Semua karyawan kafe tersebut sudah hafal dengan kedua remaja itu, sehingga membiarkan saja mereka memasuki area dapur.
Di sana Bia melihat sang ayah yang entah tengah melakukan apa. Gadis remaja itu berlari kecil lalu memeluk tubuh ayahnya dari belakang.
“Cepet banget sampainya,” ujar Banyu tanpa mengalihkan pandangan pada putrinya.
“Kok, Ayah tahu ini Bia?” Gadis berusia enam belas tahun itu melonggokkan kepalanya, berusaha menatap wajah sang ayah yang tengah menahan senyumnya.
“Ayah mah hafal sama bau asem kamu,” jawab pria itu. Bibirnya mengulum senyum saat putrinya melepaskan pelukan kemudian bersedekap dada.
“Mana ada? Bia selalu wangi.” Bia memasang tatapan sinis pada ayahnya yang tiba-tiba berubah menjengkelkan seperti biasa.
Banyu tak lagi menjawab, ia suka melihat putri bungsunya itu marah. Baginya, melihat raut kesal anak-anaknya adalah salah satu keseruan yang hakiki.
__ADS_1
Kepala Banyu mengangguk-angguk saat Bia kembali mengomel tentang dia yang selalu menyemprotkan parfum sebelum sekolah, atau tentang Bia yang jarang berkeringat. Pria paruh baya itu sudah biasa mendengar ocehan putrinya saat sedang kesal seperti ini. Dan Banyu suka.
Rasanya dunianya begitu ramai mendengar suara salah satu anaknya yang tengah bernyanyi tanpa nada.
“Makan, jangan ngomong terus!” Ata memasukkan sepotong apel ke dalam mulut adiknya, membuat gadis itu semakin kesal saja.
“Kakak!” pekik Bia di samping telinga Ata. Namun, ia tetap mengunyah apel itu dan menelannya pelan.
Ata dan Banyu melakukan tos sambil tertawa. Mereka selalu kompak dalam hal mengerjai si Bungsu itu.
“Ihhh! Ngeselin!” pekik Bia lagi.
“Tadi udah dikasih tahu kan sama mama?” tanya Banyu saat menyeret putrinya ke ruang kerja.
Bia yang masih marah dengan ayah dan kakaknya pun hanya mengangguk. Ia berjanji dalam hatinya akan mogok bicara hari ini.
“Silakan masuk princess,” ucap Banyu seraya membuka pintu. Ia kembali tersenyum sembari menatap Ata yang melakukan hal yang sama.
Setelah sama-sama masuk ruangan Banyu, Ata segera merebahkan dirinya di sofa yang tersedia di sana. Sedangkan Bia memilih duduk bersandar pada sofa, menatap langit-langit ruangan tersebut.
Hening sempat melanda ruangan itu. Hingga Banyu sedikit membuka percakapan untuk mengurai rasa kesal putrinya dengan bertanya perihal kegiatannya di sekolah hari ini. Dan benar saja, setelah beberapa menit Bia sudah tertawa lepas bersama sang ayah.
__ADS_1
“Yah, aku ke bawah bentar,” pamit Ata. Tanpa menunggu jawaban ayahnya, cowok itu beranjak dan keluar dari ruangan tersebut.
**
Mendung tampak menggantung. Semilir angin berembus pelan, mengantarkan rasa sesak pada Rania kala mengingat kedua orang tuanya. Gadis itu meminta sopir pribadinya untuk menghentikan laju kendaraannya ketika mereka berada di depan sebuah kafe. Rania memilih untuk berdiam diri di sana sendiri untuk sementara waktu, daripada pulang dan kembali merasakan keheningan.
ABC Kafe
Rania menggumamkan nama kafe yang kini ia pijak. Kafe dengan gaya interior modern itu terlihat cukup ramai, padahal kafe tersebut masih tergolong baru. Mengamati setiap sudut kafe itu, Rania menghentikan pandangan pada satu meja di pojok kafe di dekat kaca. Senyum gadis itu terangkat begitu saja melihat meja tersebut. Sepertinya Tuhan sedang memihaknya, sehingga memberinya tempat duduk di tempat favoritnya.
Tanpa menunggu lama, Rania berjalan menuju meja tersebut, duduk dan memesan minuman dan makanan kesukaannya. Sembari menunggu pesanannya datang, Rania memainkan ponselnya dan sesekali menatap sebuah kolam ikan yang ada di samping kafe tersebut.
“Wah, sepertinya kita jodoh bisa bertemu di sini.”
Rania mengalihkan pandangan dari kolam ikan kepada seseorang yang kini tengah duduk di depannya. Ia menarik kembali ucapannya tentang Tuhan yang tengah berpihak padanya ketika melihat seseorang yang sejak tadi membuat dirinya kesal.
***
CaBi masih belum ketulis ternyata, maaf, ya ):
Jangan lupa like dan komen❤
__ADS_1